Loading
 
Rabu, 13 Desember 2017

Beranda   » Artikel » Cerita I Daramatasia Sebagai Media Ajaran Moral Bagi Masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan
2 April 2009 03:46

Cerita I Daramatasia Sebagai Media Ajaran Moral Bagi Masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan


Cerita I Daramatasia Sebagai Media Ajaran Moral Bagi Masyarakat Bugis  di Sulawesi Selatan

Oleh: Dra. Dafirah, M. Hum*

Cerita I Daramatasia adalah salah satu cerita rakyat lisan yang ada di tengah-tengah masyarakat Sulawesi-Selatan. Cerita ini masih hidup hingga sekarang apalagi di daerah pelosok. Karya ini merupakan tergolong dalam cerita rakyat yang berbentuk Legenda keagamaan yaitu legenda mengenai orang-orang beriman.

Cerita I Daramatasia disosialisasikan ke dalam masyarakat Bugis melalui tuturan. Penuturan dilakukan oleh seorang atau lebih tukang tutur dan dihadiri atau didengar oleh sejumlah orang dari komunitas mereka. Masyarakat yang mendengar pelisanan cerita tersebut merasa terhibur dengan keindahan bahasa dan teknik penuturan yang biasanya dinyanyikan dengan lagu tertentu.

Di pasar-pasar tradisional rekaman cerita ini masih kadang didapatkan dalam bentuk kaset. Pertanda bahwa cerita ini masih mendapat tempat di hati masyarakat Sulawesi Selatan bahkan pesan yang dikandungnya masih mereka butuhkan. Meskipun tentunya tidak semua pesan yang ada dalam cerita ini relevan dengan kondisi dewasa ini.

Khususnya dalam masyarakat Bugis, cerita ini biasanya diceriterakan oleh seorang penutur pada waktu-waktu tertentu, seperti saat acara pengantinan. Pada malam hari sebelum esoknya acara pernikahan, cerita ini dituturkan menemani para keluarga yang berkumpul untuk mempersiapkan segala sesuatunya yang diperlukan pada esok hari di acara pernikahan. Cerita ini digunakan untuk mengajari sang calon mempelai dan juga kepada segenap hadirin. Penuturan ini biasa berlangsung semalam suntuk. Selain itu penuturan cerita ini biasa juga dilakukan oleh orang tua kepada anak-anaknya menjelang tidur.

Penuturan cerita I Daramatasia bisa dilakukan dengan iringan musik ataupun tanpa iringan. Musik yang biasa menyertai penuturan cerita ini adalah alat musik kecapi.

William R. Bascom (dalam James Dananjadja; 1984: 19) mengemukakan 4 (empat) fungsi folklor, yakni: (a) sebagai sistem proyeksi (projective system), yakni sebagai alat pencerminan angan-angan suatu kolektif; (b) sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan; (c) sebagai alat pendidikan anak (pedagogical device); dan (d) sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi anggota kolektifnya. Naskah Daramatasia disosialisasikan ke dalam masyarakat Bugis dengan jalan melisankan naskah tersebut. Penuturan naskah ini dilakukan oleh seorang atau lebih tukang tutur dan dihadiri atau didengar oleh sejumlah orang dari komunitas mereka. Masyarakat yang mendengar pelisanan cerita tersebut merasa terhibur dengan keindahan bahasa dan teknik penuturan yang biasanya dinyanyikan dengan lagu tertentu.

Ajaran Moral Dalam Cerita I Daramatasia

Cerita I Daramatasia menceritakan perjalanan hidup seorang perempuan yang bernama I Daramatasia. Cerita diawali saat I Daramatasia menuntut ilmu yang meliputi ilmu tata bahasa, hukum, fiqhi, sampai pada ilmu kebatinan. Kemudian menikah atas pilihan orang tua, pengabadiannya kepada suaminya, saat diusir oleh suami dan orang tuanya, saat suaminya meninggal sampai pada ketika ia menikah lagi atas pilihannya sendiri.

Tokoh utama dalam cerita ini adalah seorang perempuan. Sebelum menikah beliau adalah sosok perempuan yang cerdas dalam menuntut ilmu. Selain itu, sebagai anak tunggal tidak pernah menunjukkan sifat kecengengan dan ketergantungan pada orang-orang yang ada di sekitarnya.

Selain sebagai media penghibur, para pendengarnya juga mendapat pengajaran dari isi cerita yang dinyanyikan. Kisah Daramatasia berfungsi untuk mendidik dan mengajarkan pembacanya bagaimana sepatutnya suami istri hidup berumah tangga. Tokoh Daramatasia menunjukkan sikap atau perilaku seorang istri yang mengabdi kepada suaminya sesuai apa yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Kedua fungsi di atas sangat menonjol dalam naskah cerita Daramatasia.

Masyarakat Bugis ataupun mungkin semua suku bangsa di muka bumi ini senantiasa memiliki pengharapan bahwa melalui perkawinan manusia dapat menciptakan kehidupan yang lebih baik dan merasa bahagia. Karena dengan demikian kebahagiaan dan ketenteraman masyarakat luas dapat tercipta. Maka dengan itu kehidupan rumah tangga yang dibangun oleh suami dan istri harus menciptakan kehidupan harmonis. Suami dan istri harus mampu saling menghargai dan menyadari hak dan kewajiban-kewajiban masing-masing. Suami dan istri mesti pula menyadari posisinya dalam rumah tangga.

Sebagai istri, I Daramatasia menyadari posisinya sehingga ia menunjukkan pengabdiannya yang sangat tinggi kepada suaminya. Setiap hari ia menunggu suaminya pulang dan mencuci kaki sang suami, lalu melapnya dengan rambutnya. Setelah itu, ia menemani suami makan hingga selesai. Segala perkataan dan perintah suaminya ia patuhi. Ia takut melanggar perintah suaminya karena ia tahu bahwa membantah perintah suami adalah dosa menurut ajaran agama Islam yang ia pelajari.

Karena takutnya berbuat kesalahan sampai pada suatu saat ia menemani suaminya makan sambil menyusui anaknya yang mulai tertidur, pada waktu itu pelita yang digunakan sebagai penerangan kehabisan sumbu, maka dengan spontan ia memotong rambutnya beberapa helai untuk dijadikan sumbu, karena ia takut kalau suaminya makan dalam kegelapan dan kalau ia berdiri ia khawatir jika anaknya terbangun yang baru saja tertidur. Namun demikian ternyata tindakannya itu dinilai salah oleh suaminya karena memotong rambutnya tanpa sepengetahuan dan seizin suaminya. Daramatasia dipukul oleh suaminya yang amat marah, lalu mengusirnya pergi dari rumahnya. Daramatasiapun pergi meninggalkan rumah suaminya dan menuju ke rumah orang tuanya.

Hal tersebut di atas adalah juga sebuah pelajaran bahwa setiap kelakuan istri harus diketahui dan seizin sang suami. Ajaran serupa sesungguhnya telah pula dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad dalam kehidupan rumah tangganya dan juga dalam rumah tangga anaknya Sitti Fatimah Azzahra, yang juga terdapat pada cerita Daramatasia. Anak yang berdosa pun akan ditolak oleh orang tuanya sekalipun. Hal tersebut ditunjukkan oleh kedua orang tuanya ketika melihat Daramatasia diusir dari rumah suaminya. Kedua orang tua Daramatasia beranggapan bahwa orang yang diusir oleh suaminya adalah orang yang melakukan kesalahan dan berbuat dosa, dan orang seperti itu tidak sewajarnya di lindungi. Maka Daramatasiapun berjalan tanpa tujuan dan akhirnya tiba pada hutan belantara. Selain itu, orang tua I Daramatasia menunjukkan sikap orang tua yang memberi kesempatan kepada anaknya untuk menyelesaikan masalah dalam keluarganya. Beliau tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga anak mereka.

Cerita ini juga mengajarkan bahwa orang yang sabar menjalani penderitaan akan mendapat pertolongan dari Allah. Karena setibanya di tengah hutan Daramatasia ingin shalat akan tetapi ia tidak memiliki pakaian yang layak digunakannya. Sehingga datanglah malaikat dari langit menemuinya dan memberikan pertolongan. Daramatasia diberikan pakaian yang indah dan mengubah wajah dan tubuhnya menjadi lebih cantik dan muda.

Ajaran lain yang ditampilkan dalam cerita ini adalah bahwa hidup di dunia ini tidak boleh dihiasi dengan rasa dendam dan dengki terutama kepada orang yang telah menyakiti dan menganiaya kita. Saat kembali ke rumah orang tua dan suaminya atas perintah Malaikat Jibril, Daramatasia tidak dikenali lagi. Orang tua dan suaminya tidak menyangka kalau wanita yang cantik dan muda yang datang ke rumah mereka adalah Daramatasia yang telah mereka usir dan tolak. Namun demikian, Daramatasia tidak menunjukkan sikap dendam dan sakit hati. Ia senantiasa menunjukkan sikap sebagai mana layaknya seorang istri dalam melayani suaminya dan mengasuh anaknya, serta tetap bersikap hormat terhadap orang tuanya.

Demikianlah di antaranya unsur-unsur pendidikan dan keteladanan yang dapat ditemukan dalah cerita ini. Tentunya dengan pengkajian yang lebih dalam akan ditemukan lebih banyak lagi.

Sumber artikel: http://tradisilisan.blogspot.com

* Dra. Dafirah, M.Hum adalah Dosen Jurusan Sastra Daerah, Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin Makassar (UNHAS) Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia.

 

Dibaca 4.756 kali



Bookmark and Share