Loading
 
Rabu, 23 Juli 2014

Beranda   » Artikel » Modifikasi Cerita Rakyat dan Nilai-nilai Moral
4 Mei 2009 04:39

Modifikasi Cerita Rakyat dan Nilai-nilai Moral


Modifikasi Cerita Rakyat dan Nilai-nilai Moral

Oleh: Yulita Fitriana[i]

Apakah kita sudah salah memilihkan cerita rakyat yang diperkenalkan kepada anak-anak sehingga sekarang muncul generasi yang menghalalkan segala cara untuk kepentingan pribadi dan generasi yang rapuh secara mental sehingga mudah bunuh diri? Cerita rakyat kerap dijadikan sebagai sarana pembelajaran bagi anak-anak. Nilai-nilai moral yang terkandung di dalam cerita rakyat dianggap dapat membantu pengenalan nilai-nilai luhur.

Namun, seringkali tidak disadari, cerita rakyat yang disajikan kepada anak-anak mengandung nilai yang justru dapat diartikan secara berbeda oleh anak-anak. Pemaknaan terhadap karya yang tidak tunggal, mau tidak mau membuat pendidik dan orang tua harus lebih berhati-hati memberikan cerita rakyat yang akan diperkenalkan kepada anak-anak. Apalagi, anak-anak juga kian kritis terhadap apa-apa yang diperkenalkan kepada mereka.

Kita berikan contoh, sosok kancil yang dianggap sebagai ikon binatang yang cerdik. Dalam berbagai cerita kancil, ia dapat keluar dari berbagai kesulitan dengan kecerdikannya tersebut. Akan tetapi, dalam beberapa cerita, kancil melepaskan diri dari kesulitan dengan mengorbankan binatang lain. Dengan demikian, kancil tidak hanya cerdik, dalam arti yang positif, tetapi juga dapat diartikan sebagai binatang yang menghalalkan segala cara untuk dapat selamat dari bahaya. Kancil mengorbankan pihak lain, demi keuntungan dirinya sendiri.

Kesan seperti itu terlihat dari cerita “Kancil dan Pak Tani” atau “Kancil Mencuri Ketimun”. Dengan akal-akalannya, kancil memperdaya anjing sehingga mereka bertukar posisi dan akhirnya anjinglah yang terkena hukuman. Padahal kancillah yang mencuri ketimun, bukan anjing. Kesalahpahaman akan kian kental apabila anak-anak memahami perbuatan kancil mencuri ketimun tidak diganjar hukuman apa-apa sehingga diartikan bahwa perbuatan mencuri bukan suatu kesalahan. 

Cerita rakyat yang juga dapat memunculkan  pesan yang tidak baik bagi anak-anak adalah cerita “Batu Belah Batu Bertangkup”. Cerita ini terdapat di berbagai tempat, seperti di Gayo Aceh (Atu Belah), Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, bahkan Sulawesi Tenggara (Watu Samboka-mboka). Cerita ini pun dapat dijumpai di Malaysia dan Brunei. Cerita ini mengenai anak yang durhaka kepada orang tuanya, terutama ibunya.

Pesan moral yang hendak disampaikan, tentu saja, seorang anak diharapkan patuh dan tidak akan melawan kepada orang tuanya. Namun, cerita ini banyak mengandung celah untuk diinterpretasi secara berbeda. Sebagian besar cerita “Batu Belah” yang ditulis, tidak memperlihatkan secara nyata, kedurhakaan anak terhadap orang tuanya. Yang muncul hanya kenakalan si anak, belum dalam tataran durhaka. Bahkan, terlihat sosok ibu di dalam “Batu Belah” sebagai ibu yang terlalu perajuk.

Kesan ibu yang kurang baik ini kian kental ketika dia memutuskan untuk masuk ke dalam batu belah. Keputusan ini memperlihatkan perilaku yang tidak baik dari seorang ibu. Pertama, si ibu tega meninggalkan anak (-anaknya) yang masih kecil tanpa ada yang melindungi. Kedua, tindakan si ibu yang bunuh diri, dengan masuk ke dalam batu, adalah sebuah perbuatan yang sangat tercela. Pengenalan cerita rakyat yang “apa adanya” seperti di atas, tidak akan menghasilkan tujuan yang hendak dicapai ketika memperkenalkan cerita rakyat kepada anak-anak.

Lalu apa yang harus dilakukan? Apakah cerita rakyat tersebut tidak diperkenalkan kepada anak-anak?  Tidak juga! Ada cara untuk menyiasatinya. Bagaimanapun cerita untuk anak berbeda dengan cerita untuk remaja, apalagi untuk orang dewasa. Penulisan cerita rakyat untuk anak harus dengan cara-cara tertentu pula. Cerita untuk anak kerap menghindari deskripsi-deskripsi percintaan yang berlebihan, apalagi sampai pada unsur pornografi. Cerita untuk anak menghindari deskripsi perkelahian yang brutal dan sadis.

Pengkontrasan tokoh baik dan jahat perlu dilakukan sehingga terlihat perbedaan keduanya. Penggarapan cerita harus dapat menonjolkan nilai-nilai luhur yang hendak disampaikan.  Di samping, bahasa yang dipergunakan harus pula lebih sederhana.

Untuk tetap dapat memperkenalkan cerita rakyat, seperti “Kancil dan Pak Tani” dan “Batu Belah”, sebagai sarana untuk mengenalkan nilai-nilai luhur, mau tidak mau, cerita tersebut harus dimodifikasi sedemikian rupa agar maksud pengenalan cerita tersebut tercapai. Dengan cara demikian, diharapkan resepsi anak terhadap karya tersebut sesuai dengan maksud yang hendak dicapai.

Untuk cerita “Kancil dan Pak Tani”, cerita dapat dimodifikasi dengan dengan beberapa cara. Pertama, kancil digambarkan tidak mencuri (merusak) ketimun, tetapi anjinglah yang melakukan hal tersebut. Dengan demikian, jika pada akhirnya anjinglah yang dihukum, hal itu menjadi lebih dapat diterima. Kedua, kancil tetap mencuri ketimun sehingga ia harus dihukum. Ia digambarkan tidak bisa memperdaya anjing. Toh, di cerita lain si kancil juga pernah dikalahkan oleh binatang lain seperti siput dan burung belibis. “Kekalahan” kancil adalah hal biasa.

Anak-anak justru dapat belajar dari hal tersebut bahwa mereka pun harus siap menerima kekalahan. Kecerdikan yang tidak dibarengi kebenaran akan kalah. Sementara untuk cerita “Batu Belah”, penggambaran si anak yang durhaka kepada orang tuanya harus lebih diperkuat. Jangan sampai masih ada pernyataan “Kok, hanya karena anaknya secara tidak sengaja menghabiskan telur ikan temakul, si ibu sampai tega meninggalkan anaknya dan bunuh diri” atau “Namanya juga anak kecil, kalau nakal seperti itu yah... wajar!”.

Kemudian, cerita ibu yang sengaja bunuh diri dengan meminta batu belah menangkupnya dapat pula dimodifikasi. Si ibu yang sedih karena anaknya tidak mau menuruti perintahnya, menjadi tidak hati-hati ketika berada di dekat batu belah. Si ibu tergelincir dan secara tidak sengaja masuk ke dalam batu belah. Cerita yang demikian, membuat kesan si ibu yang tega meninggalkan anaknya dan sengaja bunuh diri dapat dihindari. Sementara pesan bahwa anak yang tidak menuruti perintah ibunya akan mengalami kesedihan dan kesulitan, ibunya meninggal dan tidak dapat mengasuh mereka, masih dapat tersampaikan.

Pemodifikasian seperti itu bagi sebagian orang akan dianggap sebagai sikap yang tidak setia kepada cerita rakyat yang ada di dalam masyarakat. Cerita tersebut dianggap tidak “asli” lagi. Walaupun, asli dan tidak masih dapat diperdebatkan kembali karena sulit (atau mungkin tidak bisa) mencari cerita yang benar-benar dianggap asli. Sumber dan resepsi yang berbeda akan menghasilkan cerita yang berbeda pula.

Bagaimanapun, dalam kasus ini, cerita rakyat hanya media untuk tujuan yang lebih baik, yaitu memperkenalkan nilai-nilai luhur kepada anak-anak. Anak-anak dapat mengetahui cerita dari versi yang lain ketika sudah remaja atau dewasa. Pada tahap usia ini diharapkan mereka sudah dapat memilah dengan lebih baik sehingga mereka tidak mempelajari sesuatu yang salah. Kita pun tidak perlu merasa bersalah karena memperkenalkan cerita rakyat yang berbeda dari versi yang umum dikenal orang. Dengan demikian, pemodifikasian tersebut bukan sebuah “dosa” karena dengan cara seperti itu, tujuan pengenalan nilai-nilai luhur menjadi lebih mudah dicapai.

Sumber Berita: http://www.riaupos.info
Sumber Foto: http://ceritarakyatnusantara.com

[i] Yulita Fitriana adalah Tenaga Teknis pada Balai Bahasa Pekanbaru, mahasiswa S-2 Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gajah Mada (UGM).   

 

 

Dibaca 6.577 kali



Bookmark and Share