Loading
 
Senin, 28 Juli 2014

Beranda   » Artikel » Transformasi Cerita Binatang di Indonesia dan Pesan Moral yang Terkandung di Dalamnya
20 Mei 2009 02:04

Transformasi Cerita Binatang di Indonesia dan Pesan Moral yang Terkandung di Dalamnya


Transformasi Cerita Binatang di Indonesia dan  Pesan Moral yang Terkandung di Dalamnya

Oleh : Ashika Prajnya Paramita[i]

A. Pendahuluan

Wayang kancil adalah sebuah jenis seni wayang yang menampilkan cerita-cerita binatang (fabel), biasanya cerita wayang kancil diangkat dari dongeng masa lalu, si Kancil yang mengandung nilai-nilai tertentu, seperti sosial, kemanusiaan dan ketuhanan. Tokoh Kancil diciptakan oleh Kanjeng Sunan Giri (1476-1688) di Gresik. Tujuan dari penciptaan tokoh ini yaitu untuk mengangkat derajat kaum lelaki sebagai lelaki sejati sekaligus sebagai pahlawan Nusantara sejati. Tokoh-tokoh laki-laki dalam cerita yang ada pada saat itu dianggap oleh Raden Paku sebagai tokoh-tokoh yang controversial dan melambangkan ambiguitas. Wayang Kancil milik Sunan Giri kemudian dipakai beliau beserta para santrinya untuk berdakwah di pesisir-pesisir Jawa, Madura, Kalimantan, Lombok dan beberapa pulau lain.

Dalam perkembangannya saat ini, wayang kancil sudah dikemas sedemikian rupa sehingga dalam setiap pertunjukannya, cerita yang disampaikan mengandung unsur budi pekerti, pengenalan terhadap lingkungan hidup, dan menggunakan bahasa yang lebih mudah dipahami oleh penonton dari golongan anak-anak. Misi Wayang Kancil sendiri adalah membantu menanamkan budi pekerti yang digabungkan dengan pendidikan tentang lingkungan hidup untuk anak-anak sejak dini.

Biasanya wayang kancil menyajikan cerita-cerita rakyat dalam setiap pertunjukannya. Sebabnya, pendidikan yang diajarkan melalui media tersebut sangat membantu dalam proses perkembangan anak dan masyarakat. Kritik-kritik juga bisa disampaikan dengan nuansa lebih halus. Cerita rakyat yang telah mengakar di kehidupan masyarakat Indonesia pada umumnya adalah cerita-cerita yang sarat pesan moral dan memiliki manfaat dalam kehidupan, misalnya sebagai alternatif pendidikan budi pekerti dan lingkungan hidup terutama kecintaan terhadap binatang. Dunia cerita rakyat di Nusantara sedikit banyak didominasi oleh cerita binatang, yang paling terkenal adalah cerita-cerita kancil, si pelanduk jenaka.

B. Pesan Moral dalam Kisah Kancil

Kancil adalah sosok seekor binatang cerdik dalam dunia dongeng anak Indonesia yang dapat bercakap-cakap dan berfikiran seperti manusia, penggambaran ini mirip dengan rubah di negara lain. Ada banyak sekali episode cerita Kancil di Indonesia. Cerita-cerita Kancil juga dibuat dengan melibatkan lebih dari satu tokoh protagonis, seperti Kancil dan Harimau, Kancil dan Ular, dan Kancil dan Buaya.

Dalam penyajian cerita, Kancil yang cerdik tidak selalu ditempatkan sebagai figur yang paling tahu segalanya. Kadang-kadang Kancil ditempatkan sebagai figur yang ingin mencari pemecahan masalah tetapi karena keterbatasannya dia harus meminta nasehat dari binatang lain atau mencari bantuan pada warga hutan yang lain. Peristiwa ini terjadi pada cerita Kancil yang harus menyelamatkan hutan Sumatra yang akan dibabat habis oleh manusia agar kayu-kayunya dapat digunakan sebagai bahan pembuatan furniture. Pada saat itu Kancil meminta bantuan kepada seorang raksasa baik untuk melawan raksasa jahat yang sedang menghancurkan hutan atas perintah manusia. Dasar pemikiran peristiwa ini adalah realitas bahwa masing-masing warga hutan memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing.

Seperti dalam cerita di atas, cerita-cerita Kancil yang lain juga memiliki pesan moral masing-masing, Kancil dan Buaya, misalnya. Dalam episode ini diceritakan tentang keterdesakan Kancil pada saat dikejar Harimau yang marah akibat menjadi korban kecerdikannya. Saat melarikan diri, Kancil terpojok di pinggir sungai yang dipenuhi dengan buaya. Saat itu Kancil berikrar bahwa dirinya bersedia dimangsa para buaya tapi para buaya harus bersedia berbaris rata memanjang di sungai agar Kancil dapat menghitung jumlah para buaya sehingga mereka dapat membagi daging Kancil sama rata dan tidak berebut. Sembari menghitung, Kancil meloncati tubuh buaya-buaya itu satu-persatu. Namun setelah sampai di ujung sungai, Kancil melompat ke tepian dan melarikan diri. Pada akhirnya, para buaya terpedaya dan hanya menjadi jembatan bagi Kancil.

Pada cerita lain, dikisahkan tentang Kancil yang terperosok ke dalam lubang yang dalam dan tidak dapat keluar dari lubang tersebut. Saat Gajah menghampiri Kancil dan menanyakan mengapa ia berada di dalam lubang, Kancil mengarang cerita dan mengatakan pada Gajah bahwa langit akan runtuh, karena itu Kancil bersembunyi di dalam lubang yang dalam agar tidak tertimpa langit. Gajah yang percaya pada cerita bohong Kancil terpedaya dan ikut masuk ke dalam lubang untuk berlindung. Namun dasar Kancil, setelah Gajah masuk ke dalam lubang, dia menggunakan tubuh Gajah untuk memanjat keluar dari lubang itu dan meninggalkan Gajah sendirian dalam lubang.

Dua cerita di atas, dan beberapa episode lain tentang Kancil dan Harimau memiliki pola cerita yang sama. Kancil si tokoh utama sedang berhadapan dengan maut. Maut dalam cerita-cerita Kancil sering digambarkan dengan makhluk pemangsa yang lebih besar dan lebih kuat, kadang digambarkan dengan masalah yang nyaris tidak ada jalan keluarnya. Tidak ada jalan lain kecuali menghadapi situasi berbahaya tersebut. Maka, digunakanlah akalnya untuk menyelamatkan diri. Situasi seperti yang dihadapi Kancil ini juga dihadapi oleh seekor kelinci dalam cerita rakyat dari mancanegara.

Dalam episode lain, yaitu Kancil dan Pak Tani, dikisahkan tentang Kancil yang selalu mencuri mentimun di lading Pak Tani akhirnya tertangkap dan dikurung di dalam kurungan sementara Pak Tani menyiapkan peralatan untuk menyembelih Kancil. Tanpa sepengetahuan Pak Tani, seekor anjing menghampiri Kancil dan bertanya mengapa Kancil ada di dalam kurungan. Kancil yang cerdik menjawab bahwa dia akan dinikahkan dengan puteri Pak Tani yang cantik, makanya Pak Tani menjaga agar Kancil tidak kabur dengan memasukkanya ke dalam kurungan. Lalu Kancil menawarkan pada Anjing untuk bertukar tempat. Percaya oleh tipuan Kancil, Anjing mau saja membebaskan Kancil lalu masuk ke dalam kurungan untuk menggantikan Kancil. Sekali lagi, dengan akalnya Kancil berhasil lari dari maut.

Pesan moral yang dapat diambil dari cerita ini bukanlah tentang kelicikan Kancil yang menipu Anjing untuk kepentingannya sendiri, melainkan alasan mengapa Kancil mencuri mentimun di ladang Pak Tani. Menurut Ki Ledjar Soebroto, Kancil mencuri mentimun di ladang Pak Tani bukanlah karena dia suka mencuri, melainkan karena hutan lindung tempat hewan-hewan hidup telah dirusak oleh manusia serakah sehingga tak ada lagi yang bisa dimakan Kancil, lalu ia mencari makan di ladang Pak Tani. Cerita ini jika ditinjau lebih jauh menyampaikan pesan moral tentang lingkungan. Mengingatkan kita bahwa dunia ini bukan milik manusia saja, tapi ada hewan-hewan yang juga perlu tempat untuk tinggal dan mencari makan. Karena itu kita sebagai manusia harus menjaga dan melestarikan hutan-hutan tempat para hewan tinggal.

Jika di Indonesia kita memiliki karakter Kancil, di luar negeri ada tokoh Rubah. Bahkan Machiavelli dalam bukunya II Principle (The Prince, dalam Bahasa Inggris) mengatakan bahwa seorang pemimpin harus bisa bertindak laksana singa yang kuat sekaligus rubah yang cerdik, licik, dan gesit. Selain rubah dan singa, ada juga cerita tentang seekor kura-kura yang mengalahkan Kelinci yang sombong dalan sebuah perlombaan lari. Ide cerita tersebut sama persis dengan ide cerita Kancil episode Kancil dan Siput di mana Kancil yang menganggap dirinya sebagai hewan tercepat di hutan dapat dikalahkan dalam lomba lari oleh seekor siput yang dianggap lamban, meski Siput harus menggunakan akal bulusnya untuk meruntuhkan kesombongan Kancil.

Semua dongeng tersebut di atas hendak menunjukkan bahwa kecerdikan dapat mengatasi situasi yang berbahaya. Namun, kecerdikan dan kecerdasan saja tidak cukup. Dua hal itu harus diimbangi dengan pemapilan yang wajar dan pikiran yang tenang. Dalam episode Kancil dan Buaya, Kancil masih dapat merenung memikirkan tipuan apa yang akan dia gunakan saat itu. Dia masih sempat berpikir dengan tenang untuk menebak segala kemungkinan yang akan terjadi. Dalam menyampaikan tipu dayanya, Kancil tampil dengan wajar dan berani, sehingga dia mendapatkan kepercayaan penuh dari buaya-buaya yang hendak memangsanya. Menurut Ki Ledjar Soebroto, inti dari semua itu adalah setiap masalah harus dihadapi dengan akal, bukan dengan kekerasan karena kekerasan tidak diperbolehkan Yang di Atas.

C. Penutup

Apakah literatur anak-anak berpengaruh pada kejiwaan mereka setelah dewasa nantinya? Jawabannya, ya. Pada masa anak-anak itulah mereka mulai belajar, apa yang mereka pelajari itu akan dijadikan bahan untuk membangun fondasi kepribadian mereka kelak. Pesan yang disampaikan melalui setiap episode memang tidak diutarakan secara lugas. Dengan tanda-tanda tertentu serta sindiran seseorang akan mudah menangkap pesan yang disampaikan. Jika dongeng tersebut diceritakan melalu media visual, diharapkan dapat menjadi tuntunan yang bisa mudah dipahami dan dimengerti. Media ini juga diharapkan dapat menjadi lebih menarik dan mudah diingat, karena dalam penyampaiannya, wayang kancil selalu disertai dengan humor-humor segar. Ki Ledjar berkeyakinan bahwa pesan yang disampaikan melalui wayang kancil lebih efektif dan tepat sasaran. Bentuknya yang bukan bernada menyuruh atau memaksa malah membuat pihak lain merasa malu pada diri sendiri. Baginya, tidak perlu menohok secara langsung. Pasalnya, bisa membuat orang lain mregudul. Harapannya, dongeng dengan alat peraga bisa membuat anak-anak mengenali kembali cerita tradisional yang nyaris tak pernah mereka dengar selama ini. Salah seorang dalang kondang di kota Malang, Ki Soleh Adi Pramono mengatakan bahwa belajar wayang mempunyai nilai penting, yaitu melatih empati, rasa sosial, dan belajar budi pekerti seperti sikap rendah hati.

Daftar Pustaka

  • “Wayang Kancil yang Nyaris Punah (1) : Mengenalkan Kembali Cerita Tradisional”. Harian Suara Merdeka. Kedu & D.I.Y. : September 2006.
  •  “Wayang Kancil yang Nyaris Punah (2-Habis) Lebih Terjaga di Negeri Orang”. Harian Suara Merdeka. Kedu & D.I.Y. : September 2006.
  • Koran Tempo. Januari 2004.
  • Pursubayanto, Eddy. “Seni Pertunjukan Wayang Kancil dan Kemungkinan Pengembangannya di Indonesia”. Humaniora. III/1996..
  • -------, “Kancil Lena: Pentas Wayang Kancil” (Makalah dalam Sarasehan dan Pagelaran Wayang. Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri, UGM, Yogyakarta, 2008).

Sumber foto: http://muthianoer.com

[i] Ashika Prajnya Paramita adalah mahasiswa Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Alamat Email: anti_cheez@yahoo.com

 

Dibaca 6.398 kali



Bookmark and Share