Loading
 
Kamis, 21 Agustus 2014

Beranda   » Artikel » Peran Cerita Rakyat
6 Juli 2009 06:40

Peran Cerita Rakyat


Peran Cerita Rakyat

Oleh : Damiri Mahmud

Hutan belantara, tempat berkembang biaknya margasatwa dan makhluk primata. Pantas sebagai tempat yang subur bagi mengembangkan imajinasi para pujangga anonim kita, merangkai cerita mengasyikkan, sehingga kesan dan pesannya terasa, hingga ke hari ini. Kita terutama senang mengambil simbol dan identifikasi diri yang berasal dari tokoh-tokoh fabel.

Kancil atau pelanduk sebagai tokoh sentral dari sastra lisan kita, memiliki sifat-sifat ideal, tangkas, cerdas, dapat mencari solusi dari suatu persoalan yang bagaimana pun rumitnya bercampur-baur dengan rasa humor dan ironi kehidupan yang dilaluinya. Dalam kehidupan kita sehari-hari banyak orang disebutkan sebagai “Si Kancil”.

Kita langsung tahu apa arti dan sifat-sifat yang terkandung dalam diri orang itu. Adam Malik, misalnya, ketika masih berada di puncak karir politiknya diberi sebutan seperti itu dan ungkapan yang dia sebutkan: “Itu bisa diatur” dan pada saatnya begitu populer, memang khas dari tipe tokoh utama kita itu.

Harimau sebagai tokoh utama lainnya meskipun mengandung friksi, sebagai tokoh pemimpin yang selalu dapat dikibuli oleh si kancil. Pada pihak lain, dia penguasa yang punya daya magis. Orang-orang yang semasa hidupnya punya kharisma dan disegani, ketika matinya selalu dipercayai beralih rupa menjadi “harimau jadi-jadian” sehingga di beberapa tempat masyarakat menyebutnya sebagai “Datuk”.

Pribahasa yang kita kenal, juga memperlihatkan terbelahnya tokoh ini. “Mulut kamu harimau kamu” melukiskan ancaman atau bahaya yang dapat menerkam diri sendiri. Sesuatu yang negatif, sedangkan “Harimau mati meninggalkan belang...” memberikan gambaran akan jasa-jasa seseorang di masa hidupnya atau supaya manusia semasa hidupnya hendaklah berupaya mengukir jasa dan kehormatan diri.

Demikian beragam sifat membentuk watak manusia, dapat diambil dari cerita-cerita fabel ini. “Rusa masuk kampung” memahamkan akan seseorang selalu kebingungan dan udik, membuat hati merasa iba kepadanya. “Dia itu buaya” adalah tokoh kharismatik, tapi tak punya moral. Sedangkan “Si Polan itu ular” menunjukkan kepada seseorang penipu.

Sementara “akal bulus” memahamkan kepada seseorang yang bisa masuk kepada semua persoalan dan memberikan hasil bagi keuntungan pribadi. “Jangan seperti anjing terjepit” memperingatkan kepada sifat seseorang yang bermulut manis pada saat dia dalam kesulitan, sebaliknya lupa dan berkhianat ketika berada di masa lapang atau di puncak kejayaan.

“Kambing hitam” simbol dan tokoh sangat populer, tapi selalu bernasib apes. “Kambing hitam” selalu dituding sebagai antagonis, upaya penyelamat dari seseorang yang berlindung dari topeng hipokrisinya. “Musang berbulu ayam” tokoh pemimpin yang berpura-pura merakyat. Dia sebenarnya pemangsa dari jenis yang mendaulatnya sebagai pemimpin.

Di samping tokoh-tokoh margasatwa di atas, di hutan dan di lautan  yang menjadi setting para jin, hantu, mambang, peri, puntianak, gergasi, hidup dalam imajinasi masyarakat. Begitu banyak ragamnya cerita-cerita tentang hal itu.

Sekarang ini kita dengar orang-orang banyak tertarik memelihara jin, mungkin oleh karena dia terpengaruh karena jin-jin itu selalu memberikan keberuntungan mendadak dalam banyak cerita. Demikian pula kita selalu takut kepada hantu sebab dipengaruhi oleh kisah-kisah yang mengerikan dan sosok hantu selalu tak menguntungkan, padahal barangkali sosoknya hanya tampilan ilusi semata, digambarkan dalam banyak cerita tentang hal itu.

Kisah-kisah heroik dan romantik yang bermain di alam manusia pun tentu sangat digemari, seperti cerita Panglima Nayan, Si Johor, Siti Mayang Mengurai. Kisah didaktik seperti Si Mardan yang punya banyak versi dan mirip Si Malim Kundang. Kisah-kisah penglipur lara seperti serial kisah Si Pandir dan Pak Belalang.

Kisah-kisah Si Pandir selalu mengundang tawa, bercampur haru oleh tipe tokoh yang selalu merasa diri pintar, padahal blo`on, dan bahkan tak sadar ketika dia habis dijahili. Watak stereotype dalam serial ini tampaknya kontekstual dengan para pemimpin mendadak yang banyak kita temui dalam lingkungan kita dewasa ini. Sedangkan serial Pak Belalang tampaknya secara cerdas menyindir praktek para ahli nujum atau peramal dengan menampilkan Pak Belalang sebagai ahli ramal, padahal dia mengandalkan faktor kebetulan dan nasib baik belaka.      

Kalau tadi “ular”, simbol negatif, maka “ular naga” tokoh yang sepuh dan mumpuni. Tokoh ini selalu datang dari “atas” untuk menyelamatkan kedaulatan raja. Dia sengaja diciptakan menjadi mitologi dan legenda sebagai penyeimbang dan pengontrol kedaulatan terhadap rakyatnya. Demikianlah misalnya Naga Hoa Loan dalam kisah Merak Jingga dan Sang Naga dalam Putri Hijau.

Simbol naga ini tentu berasal dari Cina. Kalau dalam cerita rakyat kita banyak menokohkan naga ini berarti kita telah lama berhubungan dengan negeri tirai bambu itu dan lebih jauh kerajaan kita secara tak langsung mengakui dominasi imperium itu. Bangsa kita sendiri disimbolkan sebagai garuda, tokoh dongeng sejenis elang pemakan daging yang sangat cekatan terbang. Sementara dalam pribahasa disebutkan: “Bagai negeri dialahkan garuda.”

Selalu legenda dan mitologi, kemudian menjadi semacam dogmatik yang harus diterima atau diyakini kebenarannya, karena di dalamnya berisi sesuatu yang “tabu” atau “daulat”. Legenda Nyi Roro Kidul yang dibuat Amangkurat I, karena raja itu kehilangan kontrol dan kekuasaan terhadap laut Jawa lalu mengarang punya istri di Laut Jawa Selatan. Karena rakyat Jawa punya keyakinan, raja adalah titisan dewa atau wakil Tuhan, lalu mempercayai legenda itu sebagai suatu keyakinan, di samping maksud penguasa tercapai yaitu selamat dari kehilangan muka atas kekalahannya.

Demikian pula legenda Putri Hijau. Menurut Ferdinand Mendes Pinto, seorang Portugis yang datang ke Deli atau Haru, Sultan Aceh Al-Qahhar menyerang Haru pada tahun 1539 M dalam dua tahap, bulan Januari dan November.

Raja Haru, Sultan Ali Boncar tewas pada penyerangan pertama. Permaisuri, Anche Sinny (Encik Sini atau Angi Sini), membentuk pasukan baru, tapi tak berhasil menebus kekalahan. Dia naik perahu dan melarikan diri ke Melaka dan diterima oleh gubernur Portugis, tapi tak bersedia memberikan bantuan. Kisah Anche Sinny, menurut T. Luckman Sinar, SH, punya banyak persamaan dengan legenda Putri Hijau dan kemungkinan besar permaisuri inilah yang menjelmakan dirinya menjadi Putri Hijau itu.

Legenda dan mitologi selalu datang dari kelas atas dan punya misi tertentu untuk tetap melegitimasikan kedaulatan sebuah pemerintahan. Rakyat dibekali oleh keyakinan akan kekeramatan dan kedaulatan raja tak pernah atau merasa sungkan untuk mempertanyakan kebenarannya.

Ada sebuah epik yang sangat populer bagi masyarakat Sumatera Utara, khususnya masyarakat Melayu di pesisir Timur. Mulanya memang berbentuk syair, kemudian diperankan dalam berbagai tonil dan bangsawan. Satu bentuk sandiwara keliling yang marak pada masa sebelum perang, hingga periode 60-an. Cerita Siti Zubaidah itu memang ditunggu-tungu dan sangat digemari.

Saya sendiri masih ingat ketika kecil, di rumah selalu dibacakan Syair Siti Zubaidah dari sebuah buku yang kelihatan lusuh karena selalunya dibaca tertulis dalam huruf Jawi. Terutama kaum perempuannya sangat tertarik akan kisah ini. Dia merupakan sebuah kisah emansipasi, memberitahukan fungsi dan tugas perempuan, bukan terbatas di dapur saja. Jauh lebih luas daripada itu, meski tetap dalam koridor berbakti kepada suami. Ternyata naskah atau kitab syair ini berasal Malaysia ditulis oleh anonim di abad ke-19.

Tampaknya cerita Siti Zubaidah itu mempunyai pengaruh yang mendalam dan digemari oleh masyarakat ketika itu mungkin karena plotnya yang begitu menarik dan berliku-liku sehingga memancing keingintahuan yang besar, sehingga tak terasa misi yang disampaikannya meresap dan menyatu ke dalam hati. Dr. Christine Campbell misalnya menyimpulkan: Syair Siti Zubaidah is provocative on the issue of women`s roles.

Though itself set ini Muslim world where women are traditionally protected, in most of the countries described in the syair, women can and do inherit thrones and rule a country, sometimes in preference to men, even when there are apparently suitable male candidates available. (Syair Siti Zubaidah Perang Cina – A Feminist Plot or A Cosmopolitan Mystery? dalam Kesusasteraan Tradisional Asia Tenggara, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, 2005: 268).

Kalau penulis Siti Zubaidah adalah perempuan, sebagaimana juga disimpulkan oleh peneliti dari Australia di atas, hal ini suatu kemajuan luar biasa, karena karyanya itu pada suatu ketika dibaca dan mempengaruhi banyak orang. 

Masalahnya sekarang, kalau pada masa dahulu cerita rakyat pernah mengalami masa jaya dan mempengaruhi masyarakat kita, kini tampaknya dia telah kehilangan pamor. Generasi muda kita boleh dikatakan telah kehilangan minat membaca dan mendengarkan cerita dan dongeng. Banyak segi memberikan andil terhadap itu. Hutan menjadi habitat margasatwa dan makhluk primata menjadi protagonis, kini bukan lagi menjadi idola.

Sebaliknya harus dikasihani dan dilindungi dari kepunahan. Sungguh membalikkan citra dari apa yang dideskripsikan oleh cerita-cerita rakyat itu. Bersamaan dengan mulai punahnya  hutan tropis kita serta seluruh kekayaan di dalamnya oleh kehendak teknologi dan modernisasi, tanpa kita sadari telah musnah pula sebuah kebudayaan yang telah tumbuh dan terbina sejak demikian lama.

Seiring dengan itu, para belia dan remaja kita tampaknya tidak lagi terpesona kepada tokoh dan setting yang kelihatan kuno. Mereka tidak lagi senang melihat protagonis berperan di hutan, tapi dalam kota metropolitan yang serba hiruk-pikuk. Merasa lucu seorang tokoh harus naik kuda yang dalam pikiran mereka semestinya mengenderai pesawat jet mutakhir. Mereka hidup di abad teknologi serba fantastis dan tampaknya para generasi muda itu berkeinginan segala sesuatunya harus punya hubungan kausalitas dengannya.

_______________

Damiri Mahmud adalah sastrawan dari Medan, Indonesia.

Sumber artikel: http://www.analisadaily.com/
Sumber Foto: http://paskalina.wordpress.com/

 

Dibaca 2.336 kali



Bookmark and Share