Loading
 
Rabu, 22 November 2017

Beranda   » Artikel » Pembentukan Kecendekiaan, Keindahan Etis, dan Imajinasi Kreatif dalam Mendengarkan Dongeng Kancil
22 Agustus 2009 07:51

Pembentukan Kecendekiaan, Keindahan Etis, dan Imajinasi Kreatif dalam Mendengarkan Dongeng Kancil


Pembentukan Kecendekiaan, Keindahan Etis, dan Imajinasi Kreatif dalam Mendengarkan Dongeng Kancil

Oleh: Arif Rahmanto

A. Pendahuluan

Era global yang telah dan sedang kita rasakan sekarang akan secara otomatis menggiring kita pada tingkat persaingan bebas antar bangsa yang sangat ketat. Sangat mungkin terjadi sebuah negara akan termarjinalkan di antara bangsa lain. Pemarjinalan ini diakibatkan oleh eksistensi sebuah bangsa yang rapuh sehingga menjadikannya pudar dan menghilang. Kita harus mulai menyusun strategi untuk memperkuat eksistensi bangsa kita di tengah persaingan peradaban ini. Pemunculan keunggulan kompetensi spesifik bangsa kita harus dimunculkan dan dikuatkan. Hilangkan segera kebiasaan mengekor atau meniru kompetensi spesifik bangsa lain yang hanya akan mengakibatkan bangsa kita menjadi subordinasi dalam pusaran rotasi peradaban di era global ini.

Salah satu kompetensi spesifik bangsa kita adalah kepemilikan kita terhadap sebuah harta karun yang bernama kebudayaan. Sebenarnya kebudayaan kita yang adiluhung ini telah menjadi kekaguman banyak pihak terutama bangsa lain. Sebuah bukti yang nyata terlihat saat ini bahwa di Belanda dan sejumlah negara telah membuka pusat studi khusus tentang budaya kita. Ini sungguh ironis ketika kita melihat kenyataan bangsa kita yang justru masyarakatnya mulai pelan-pelan menanggalkan dan melupakan budayanya sendiri dan mengagumi budaya orang lain. Saat ini ketika kita hendak mencari pustaka tentang budaya nusantara kita harus pergi dulu ke Belanda, karena di sana banyak tersimpan pustaka-pustaka budaya kita dengan lengkap. Kenyataan ini harus segera kita sadari, kemudian menyusun strategi untuk mengembalikan budaya kita ke rumahnya sendiri yaitu di hati masyarakat bangsa ini.

Salah satu strategi itu adalah pelestarian kembali budaya cerita rakyat yang dulu pernah berkembang subur di hati masyarakat kita. Hampir seluruh etnis mulai dari ujung Sumatra hingga ujung Papua memiliki beribu-ribu cerita yang telah lama menjadi koleksi masyarakat. Banyak manfaat dapat kita ambil dari khasanah cerita rakyat ini. Beberapa manfaat itu di antaranya: membentuk nilai kecendekiaan, keindahan yang berdimensi etis, dan imajinasi kreatif (lihat: Suminto A Sayuti, Oktober 2004, Makalah Budaya Global, Masyarakat Kita, dan Sastra).

1. Membentuk nilai-nilai kecendekiaan

Cerita rakyat, baik fabel, legenda, mite, dan sage akan terasa kuno untuk dinikmati. Hal ini disebabkan oleh adanya distorsi budaya global yang menawarkan banyak hal. Padahal tanpa kita sadari distorsi ini akan menggiring kita pada pembentukan masyarakat yang filistinisme, yaitu peminatan terhadap harta benda dan penafikan terhadap nilai-nilai kecendekiaan.

Padahal budaya kita selalu memberi pelajaran kebersahajaan menuju sebuah nilai kecendekiaan. Pemerolehan harta benda hanyalah sebuah akibat dari proses kebersahajaan dan bukan menjadi tujuan utama. Sebut saja sebuah cerita ketika Kancil hendak menjadi filitinisme, sehingga ia mencuri mentimun Pak Tani maka ia akan menerima akibat dari tindakannya itu. Hingga akhirnya Kancil sadar bahwa materi dan harta benda bukan menjadi tujuan namun adalah hasil akibat dari kebersahajaan. Lebih jelas lagi ketika kita melihat cerita Kancil dalam Kancil Paramasastra. Terlihat di sana akhirnya Kancil menemukan kepasrahan dan kebersahajaan dalam kehidupan setelah melakukan berbagai sepak terjang dalam kehidupan.

2. Membentuk nilai-nilai keindahan yang berdimensi etis

Cerita rakyat kita memiliki keindahan yang arif. Setiap ceritanya memiliki konflik yang indah hingga penyelesaianya. Semua mengandung keindahan yang berdimensi pada sikap budaya timur yang pas terasa jika diterapkan dalam kehidupan kita. Betapa indahnya ketika Jaka Kendhil diterima menjadi suami seorang putri kerajaan dengan segala kekurangannya. Betapa indahnya ketika Lutung Kasarung menolong dengan ikhlas seorang putri yang sedang diasingkan. Keindahan-keindahan itu selalu membawa sikap-sikap yang etis dan santun.

3. Membentuk imajinasi kreatif

Ketika seorang anak mendengarkan sebuah cerita secara langsung dari pencerita atau pendongeng, maka akan terjadi interaksi imajinasi. Interaksi imajinasi ini memungkinkan terbentuknya imajinasi yang kreatif bagi pendengarnya.

Pembentukan imajinasi kreatif ini lebih berpeluang jika cerita rakyat disampaikan secara langsung atau face to face. Anak-anak yang menatap lekat pencerita atau pendongeng saat bercerita di situlah secara tidak sadar anak-anak akan mengembara ke dunia imajinasi. Keunggulan penceritaan secara langsung ini tidak dimiliki oleh media audio visual yang berkembang saat ini seperti televisi, CD, dan lainnya. Media-media audio visual ini justru akan menggiring anak pada imajinasi terpimpin. Anak tak perlu lelah-lelah berimajinasi karena semua deskripsi cerita telah gamblang terpapar di depan matanya. Kelengkapan imajinasi di media audio visual ini mengakibatkan anak cenderung bersifat pasif dan hanya menerima cerita tersebut. Sehingga ketika anak-anak sedang senang menonton film Sponge Bob maka ketika disuruh menggambar bintang laut semua anak yang senang film itu akan menggambar sama, yaitu seperti patrick. Kita dapat membandingkan ketika anak mendengar dongeng Kancil secara langsung, kemudian setelah itu anak-anak kita beri lembaran kertas maka anak-anak akan menggambar berbagai warna dan bentuk tentang Kancil. Di sinilah letak imajinasi kreatif itu.

Untuk memperlihatkan beberapa kemanfaatan dan teknik bercerita maka berikut ini akan dicontohkan sebuah cerita rakyat Si Kancil yang telah disadur bebas. Cerita ini berkembang secara lisan sejak dahulu di Jawa Tengah dan DIY.

B. Cerita Rakyat Kancil, Harimau, dan Keong

Gelap telah berlalu diusir mentari pagi. Meskipun kabut masih tebal menyelimuti Kampung Hutan. Satu persatu para penduduk Kampung Hutan mulai bangun. Diawali oleh ayam hutan. Seperti biasa ia berteriak membangunkan yang lain. Kemudian disusul oleh burung-burung yang dengan riang melantunkan suara merdunya memuji keindahan alam ciptaan Tuhan. Sepertinya hari ini akan cerah. Nampak dari timur perlahan, tapi pasti matahari memunculkan wajahnya dan menyapa seluruh warga Kampung Hutan dengan kata ”Selamat pagi semua!”

Si Kancil terbangun dari tidurnya. Ia menguap sejenak. Lalu melompat menuju padang rumput yang hijau untuk sarapan. Nampak di sana beberapa kelompok hewan warga Kampung Hutan telah lebih dahulu sarapan. Kebiasaan sarapan bersama di padang rumput ini memang sering mereka lakukan. Biasanya mereka membicarakan apa saja di sana.

Ketika mereka sedang asyik makan rumput tiba-tiba ada sepasang mata yang merah sedang mengawasi mereka. Sepasang mata itu ternyata adalah seekor harimau yang lapar. Ia sedang mengicar salah satu dari hewan hutan yang sedang asyik makan di padang rumput itu.

“Awas....! Ada harimau....... lariiiiiiiii!” teriak Kambing yang melihat kehadiran Harimau.

Mereka semua kaget dan berhamburan lari meninggalkan padang rumput itu. Namun Kancil yang tempatnya terlalu dekat jaraknya dari harimau tidak sempat berlari. Ia pun pasrah. Kancil benar-benar dalam bahaya.

“Kau takkan bisa lari, Cil! Kali ini kamu akan menjadi pengganjal perutku, ha....ha....ha!” seru Harimau sambil ketawa terbahak-bahak.

Keringat dingin mulai mengalir. Ia harus segera berpikir keras untuk menyelamatkan diri.

“Tunggu sebentar Tuan Harmau!” seru Kancil.

“Ada apa, Cil? Apakah ada pesan-pesan terakhir sebelum aku memakanmu?” tanya Harimau.

“Pernahkah kamu makan daging Kancil sebelum ini?” tanya Kancil.

“Belum, aku baru sekali ini hendak memakan daging Kancil. Cepatlah kau bersiap!” seru Harimau.

“Sabar Tuan Harimau! Aku akan beritahukan sesuatu,” kata Kancil.

“Cepat, Cil! Perutku sudah lapar sekali!” seru Harimau.

“Baiklah, aku beritahu ya. Sebenarnya dagingku sangatlah enak, namun itu akan tidak berarti jika ada satu bagian tubuhku ini tidak ada,” kata Kancil.

“Maksudmu bagaimana, Cil?” tanya Harimau penasaran.

“Dagingku akan lezat jika ada hatiku. Nah, hari ini aku lupa tidak membawa hatiku,” kata Kancil.

“Benarkah? Lantas kau tinggal di mana hatimu, Cil?” sahut Harimau.

“Hatiku aku tinggal di seberang sungai. Ijinkan aku sebentar mengambilnya!” pinta Kancil.

“Baiklah. Tapi awas jika kamu hendak melarikan diri. Aku akan memakanmu hingga tulang-tulangmu,” ancam Harimau.

“Masa Tuan Harimau tidak percaya padaku. Adalah sebuah kehormatan jika aku dapat mempersembahkan dagingku ini kepada Sang Raja Hutan,” kata Kancil menyanjung Harimau.

“Ya, aku percaya, tapi cepatlah sedikit! Aku sudah benar-benar lapar!” seru Harimau tak sabar.

“OK!” jawab Kancil seraya melompat meninggalkan harimau dan berlari menjauhnya.

Matahari terus bersinar. Angin semilir menerpa dedauan. Kancil menghirup udara yang segar udara kebebasan dan kemenangan.

Kancil melompat riang di antara rimbun hutan. Sambil sesekali menengok ke belakang. Melihat apakah Harimau mengikutinya. Setelah yakin sudah berlari jauh dan Harimau tidak mengikutinya. Kemudian Kancil duduk beristirahat di bawah pohon rindang di tepi sungai. Anginnya sungguh sejuk dan semilir. Sambil menikmati kemenangan yang baru saja ia peroleh.

“Ha... ha... ha..., dasar Harimau bodoh! Masa ada hati di tinggal di sembarang tempat. Aku memang benar-benar pintar,” gumam Kancil membanggakan dirinya.

Kemudian ia berdiri dan berteriak bangga, “Aku memang hewan paling pintar di hutan ini! ha...ha...ha...ha!”

Tiba-tiba ada suara terdengar mengagetkan Kancil.

“Hai jangan berisik. Ganggu orang tidur aja!” suara itu terdengar dari sungai.

“Hai, siapa itu yang berbicara?” tanya Kancil kaget.

“Seharusnya aku yang bertanya. Ngapain siang bolong begini teriak-teriak mengganggu istirahatku?” suara itu balik bertanya.

Kancil mendekati sungai. Dilihatnya seekor keong sedang asyik berbaring di balik bebatuan sungai.

“Aha......, ternyata kamu hewan pemalas!” kata Kancil mengejek.

“Apa? Sembarangan saja kamu bicara,” jawab keong tersinggung.

“E..., Keong! Jangan tersinggung begitu, emang kenyataannya begitu. Semua hewan di hutan ini juga tahu, kalau kamu pemalas,” ejek Kancil lagi.

“Bukannya aku pemalas ,Cil. Aku ini sedang istirahat karena habis bekerja keras,” Keong beralasan.

“Apa? Bekerja keras? Ah yang benar saja? Masa keong bekerja keras. Kalau Kancil mungkin demikian,” kata Kancil menyombongan diri.

“Semakin tidak mengenakkan saja kata-katamu, Cil! Memangnya kamu sedang bekerja keras apa?” Keong bertambah marah.

“Dengar nih, aku baru saja mengalahkan raja hutan. Ia telah berhasil aku tipu. Aku memang benar-benar tak ada tandingnya,” kata Kancil.

“Sombong benar kamu, Cil! Kamu dapat mengalahkan Harimau, tapi belum tentu kamu dapat mengalahkan aku,” kata Keong dengan nada menantang.

“Ha......, kamu menantangku? Ha...ha...ha! Sudahlah Keong, tak usah bercanda kamu!” seru Kancil.

“Aku serius, Cil! Meskipun aku terlihat lemah, tapi aku akan buktikan bahwa aku dapat mengalahkanmu!” kata Keong dengan tegas.

“Baiklah jika kamu memaksa. Lantas kamu mau menantang aku apa?” tanya Kancil.

“Aku menantangmu lomba lari!” kata Keong dengan wajah serius.

“Ha...ha...ha, apa kamu bilang? Berlari? ha...ha...ha!” Kancil tertawa terpingkal-pingkal setengah mengejek tantangan Keong.

“Kau jangan meremehkan aku, Cil! Kita akan buktikan besok pagi. Siapa yang menang dalam pertandingan ini,” kata Keong.

“Baik, baik! Tapi ingat ini adalah tantanganmu. Bukan aku yang mengajak. Tolong juga besok kamu undang semua warga hutan agar menyaksikan pertandingan ini!” seru Kancil.

“Baiklah. Aku tunggu besok pagi di sini,” kata Keong.

Matahari memunculkan warna senja. Pertanda terang akan berganti malam. Burung-burung telah pulang ke sarangnya. Hewan-hewan warga hutan menata rumah-rumahnya untuk istirahat. Berita pertandingan lari antara Keong dan Kancil telah tersebar dari mulut ke mulut malam itu. Kebanyakan dari mereka heran dan penasaran mengapa ini dilakukan Keong. Jelas di benak mereka tentu Kancil akan memenangkan pertandingan itu. Tetapi keraguan itu tidak tampak dari raut wajah Keong yang sedang berkumpul di tepi sungai. Sepertinya mereka merencanakan sesuatu. Suara pembicaraannya hampir tak terdengar oleh warga hutan yang lain. Mereka berbicara dengan saling berbisik.

“Dalam pertandingan besok, kita diuntungkan karena hampir semua Keong memiliki bentuk dan ukuran yang sama,” kata seekor Keong.

“Tugas kalian besok adalah berjajar di dalam sungai tiap satu meter sampai di garis akhir. Setiap Kancil hendak mencapai tempat kalian. Kalian harus berteriak. Teriakan ini dilakukan oleh keong yang berada di depan Kancil,” kata Keong yang merupakan pemimpin.

“Kalian mengerti?” teriaknya.

“Ya......!” keong yang lain menjawab serempak.

Keesokan harinya, hampir semua warga hutan berkumpul di pinggir sungai. Mereka benar-benar ingin menyaksikan pertandingan yang dianggapnya aneh itu. Kali ini Prenjak, si burung lincah itu ditunjuk menjadi wasit oleh Kancil dan Keong.

“Sudahlah, Keong! Sebenarnya aku malas dengan pertandingan ini. Semua hewan tahu bahwa aku bakal menang!” seru Kancil dengan nada sombong.

“Cil, aku pikir kita tidak usah banyak bicara. Sebaiknya kita mulai saja pertandingan ini,” ujar Keong.

“Baiklah, kalau kamu hanya ingin malu. Akan aku ladeni tantanganmu,” kata kancil masih dengan nada malas.

“Apakah kalian siap!” teriak Prencak memberi aba-aba.

“Ya kami siap!” jawab keduanya.

“Satu.....dua......ti.....ga!!!!” teriak Prencak.

Kancil dengan santainya melangkahkan kaki. Ia tetap meremehkan Keong. Setelah berjalan satu meter Kancil melongok ke sungai. Keong tidak tampak.

“Keong! Di mana kamu?” teriak Kancil.

“Kuk....., aku di sini, Cil!” jawab Keong yang ternyata berada di depannya. Kancil kaget. Bagaimana bisa Keong mendahuluinya. Kancil kemudian mempercepat langkahnya. Setelah satu meter ia kembali melongok ke sungai. Kali ini ia sedikit khawatir jangan-jangan Keong telah mendahuluinya seperti tadi.

“Keong! Di mana kamu?” teriak Kancil.

“Kuk....., aku di sini, Cil!” jawab Keong yang ternyata masih tetap berada di depannya. Kancil makin heran. Ia pun sangat malu karena setiap jawaban Keong selalu diikuti riuh tepukan penonton yang ada di sekitar sungai. Kali ini kancil berlari. ia tidak mau ketinggalan lagi. Setelah beberapa meter kembali Kancil berteriak

“Keong! Di mana kamu?” teriak Kancil.

“Kuk....., aku di sini, Cil!” jawab Keong di depannya bahkan jauh di depannya.

Garis akhir telah tampak. Kancil berlari dengan kencangnya. Kali ini ia yakin bahwa Keong tak kan mungklin dapat mengalahkannya. Garis akhir ada di hadapannya.

“Maaf Cil, aku sampai di garis ini lebih dulu!” kata Keong yang telah duduk santai di atas sebuah batu di dekat garis akhir. Tepuk tangan para warga hutan yang menonton saat itu.

“Bagaimana Keong mengalahkanku, padahal Keong jalannya sangat lambat?” gumam Kancil heran.

Kancil sangat malu kepada seluruh penduduk Kampung Hutan. Tanpa berkata-kata ia pun berlari meninggalkan tepi sungai. Meninggalkan penduduk hutan yang sedang mengelu-elukan kemenangan Keong. Kancil pergi ke suatu tempat yang sunyi dan merenungkan peristiwa ini. Akhirnya dengan lirih ia berkata, “kesombongan dan kecongkakan akan membawaku pada kekalahan yang sebenarnya.”

C. Kemanfaatan

1. Nilai Kecendekiaan

Dalam cerita Kancil, Harimau, dan Keong di atas terdapat nilai kecendekiaan. Nilai ini dapat kita lihat ketika Kancil sedang menghadapi Harimau. Betapa cerdiknya dia, dengan mengatakan bahwa dagingnya tidak akan enak tanpa hatinya, namun hatinya tertinggal di rumah. Di saat yang sulit dan kritis Kancil dapat memunculkan kecendekiaannya dan tidak berputus asa. Ini mengajarkan kepada anak-anak bagaimana seharusnya menghadapi sesuatu dengan kecendekiaan bahkan di saat yang sulit dan kritis sekalipun.

Kecendekiaan juga dapat ditemukan ketika Keong hendak menghadapi Kancil. Mereka bermusyawarah bagaimana caranya mengalahkan Kancil yang tentu saja memiliki kecepatan lari yang lebih. Dalam bagian ini terlihat kecendekiaan kolektif dalam masyarakat Keong karena ide pemikiran itu ditransfer dalam musyawarah. Ini mengajarkan kepada anak-anak kencendekiaan dapat dimunculkan secara kolektif dengan cara pentransferan (baca: diajarkan). Pentransferan kecendekiaan akan membuat sebuah komunitas masyarakat menjadi komunitas yang cendekia. Komunitas yang cendekia sangat mungkin membentuk bangsa yang cendekia.

2. Nilai Keindahan Etis

Keindahan etis dalam cerita ini terdapat dalam pesan-pesan moral yang disampaikan. Mulai dari pesan moral pendukung hingga pesan moral utama. Pesan moral pendukung adalah pesan-pesan moral yang disampaikan sebagai ilustrasi pendukung alur. Pesan moral pendukung ini merupakan kreativitas dari pencerita. Suatu cerita akan memiliki pesan moral pendukung yang berbeda jika diceritakan oleh pencerita lain meskipun judul ceritanya sama. Dalam cerita Kancil, Harimau, dan Keong, kita dapat melihat keindahan etis dalam pesan moral pendukung ketika warga Kampung Hutan setiap pagi selalu sarapan bersama di padang rumput yang hijau. Kita lihat saat warga hutan menyapa ketika bangun pagi. Ini mengajarkan kepada anak betapa indahnya sebuah kebersamaan. Keindahan juga dapat dilihat ketika Keong bermusyawarah untuk memecahkan suatu masalah. Mengajarkan kepada anak bahwa masalah sesulit apapun dapat diselesaikan dengan jalan musyawarah.

Keindahan juga terlihat dalam pesan utama cerita tersebut yaitu bahwa perbuatan jahat pasti akan dikalahkan oleh sifat baik. Pesan ini terdapat dalam bagian cerita, yaitu sifat buruk Harimau yang dapat dikalahkan oleh kecerdikan Kancil dan juga ketika kesombongan Kancil dikalahkan oleh kebersahajaan Keong.

Keindahan juga terlihat dalam pesan moral utama ketika Kancil menyadari bahwa kesombongan itu hanya akan merugikan dirinya dan berjanji untuk tidak mengulangi.

3. Membentuk Imajinasi Kreatif

Cerita Kancil, Harimau, dan Keong ini dapat membentuk imajinasi kreatif pendengarnya. Imajinasi kreatif ini akan terangkai sejak pendengar mendengarkan cerita ini. Ketika pendongeng menceritakan betapa damainya suasana hutan, maka pendengar akan berimajinasi dan membayangkan suasana tersebut. Imajinasi kreatif juga akan muncul ketika pencerita menceritakan dan menghidupkan para tokohnya. Tokoh kancil dalam imajinasi seorang pendengar akan berbeda dengan imajinasi pendengar yang lain. Untuk mengetahui kreativitas imajinasi pendengar maka dapat dilakukan pengujian yang akan dijabarkan dalam teknik penyajian.

D. Teknik Penyajian

1. Penceritaan

Penceritaan cerita rakyat sebenarnya tidak memiliki teknik yang rumit. Penyajian dengan media minimalis pun akan tetap dapat menguraikan kemanfaatan dari sebuah cerita. Namun demikian ada syarat utama yang harus dimiliki oleh pencerita atau pendongeng. Syarat itu adalah cerita rakyat haruslah disampaikan secara ekspresif. Untuk mengekspresikan sebuah cerita maka memiliki teknik dan cara tertentu yaitu:

a. Hidupkanlah tokoh

Setiap tokoh dalam cerita memiliki watak atau karakter. Ada tokoh berwatak jahat dan baik. Pengekspresian tokoh berdasarkan watak dapat menghidupkan cerita. Contoh tokoh Harimau dalam cerita Kancil, Harimau, dan Keong sebaiknya suaranya diekspresikan dengan vokal yang menyeramkan sehingga tergambar dalam imajinasi pendengar watak si Harimau. Ini berbeda ketika Kancil yang memiliki kecerdasan namun ada sedikit kesombongan, sebaiknya suaranya dikspresikan dengan suara bernada tinggi. Lalu keong yang terkenal dengan jalannya yang lambat sebaiknya diekspresikan dengan irama yang pelan mengalun seperti ketika ia sedang berjalan.

b. Jangan gunakan media berlebihan

Penggunaan media yang berlebihan justru akan mengakibatkan imajinasi anak akan terbatasi. Ketika seorang pendongeng membawa media yang sangat lengkap mungkin boneka atau gambar yang menggambarkan bentuk si tokoh dapat mengakibatkan kreativitas imajinasinya terbatasi oleh bentuk tersebut.

Pemakaian media berlebihan kadang membuat suasana yang akan dibangun tidak pas. Sebuah contoh, pendongeng menceritakan tentang harimau yang bertubuh besar dan seram tetapi media yang dibawa adalah boneka harimau yang lucu. Ini akan mengakibatkan imajinasi anak yang telah terbangun dengan cerita terusak oleh kehadiran media.

c. Hidupkan kata-kata

Kata-kata dalam cerita ternyata mempunyai kekuatan yang luar biasa untuk menghidupkan suasana cerita. Sehingga akan terbangun sebuah alur yang menarik menuju puncak cerita. Menghidupkan kata-kata itu dapat kita lakukan dengan mengetahui makna semantisnya. Sebuah contoh ketika kita mengatakan kata “dingin” maka akan berbeda ekspresinya ketika kita mengatakan kata “panas”. Kata “dingin” memiliki rasa yang ada di belakangnya seperi menggigil, membeku, dan lain-lain. Sedangkan kata “pana”s memiliki rasa terbakar, menyengat, gerah, dan lain-lain. Kata “api” akan berbeda dengan kata “air” karena keduanya memiliki makna rasa yang berbeda.

2. Penggalian kemanfaatan

Dalam penggalian kemanfaatan ini dilakukan setelah penceritaan selesai. Penggalian kemanfaatan ini dapat dilakukan dengan cara menggali kreativitas anak. Penggalian kreativitas anak dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut:

Setelah mendengarkan cerita, pendengar atau anak-anak diberi selembar kertas, alat tulis dan atau alat untuk menggambar.

Anak bebas menuangkan ide berdasarkan cerita yang telah ia dengar dari pencerita. Boleh berupa gambar, puisi, atau cerita baru. Di sini akan nampak bahwa anak memiliki imajinasi yang kreatif.

Setelah anak selesai berkreasi kemudian anak diberi waktu untuk memberi judul pada kreasinya. Dalam kegiatan ini akan muncul kecendekiaan anak-anak dan keindahan etis yang terbangun dari susunan kalimat dalam judul tersebut.

Dapat pula kita beri waktu kepada anak-anak untuk mempresentasikan secara sederhana hasil karyanya.

E. Penutup

Dongeng Kancil, Harimau, dan Keong merupakan salah satu khasanah cerita nusantara yang berkembang di masyarakat Yogyakarta dan Jawa Tengah. Cerita ini merupakan salah satu sampel dari ribuan cerita yang dapat kita jadikan kompentensi spesifik budaya kita menghadapi era kesejagadan. Hal ini disebabkan karena cerita-cerita di seluruh nusantara ini memiliki kemanfaatan yang tidak diragukan lagi. Di antara kemanfaatan itu adalah kemanfaatan sebagai pembentuk nilai kecendekiaan, keindahan etis dan imajinasi kreatif pada pendengarnya. Kemanfaatan ini jika benar-benar digunakan akan dapat membentengi masyarakat dari pembentukan peradaban sosial yang filistinistik.

_________________

Karya tulis ini pada tanggal 11 November 2006 meraih juara 2 Karya Ilmiah Populer Budaya Jawa, didownload dari: http://arifrhmnto.multiply.com/journal/item/2, diakses pada tanggal 20 Agustus 2009.

 

Kredit foto: http://fforce.us/

 

Dibaca 3.652 kali



Bookmark and Share