Loading
 
Jumat, 22 September 2017

Beranda   » Artikel » Seksualitas Si Kabayan
31 Agustus 2009 06:17

Seksualitas Si Kabayan


Seksualitas Si Kabayan

Oleh Atep Kurnia

Sebenarnya usaha untuk mengumpulkan dongeng-dongeng Si Kabayan telah lama dilakukan. Dari penelusuran berbagai pustaka dan bacaan, saya mendapatkan kesan bahwa Snouck Hurgronje (1857-1936) dan H Hasan Mustapa (1852-1930) adalah yang mula-mula mengumpulkan dongeng Si Kabayan.

Pada tahun 1889-1891, H Hasan Mustapa, sang penghulu besar Bandung, bersama Snouck, sang penganjur politik asosiasi, melakukan penelitian mengenai kehidupan Islam dan cerita rakyat di Pulau Jawa. Di antara cerita rakyat yang mereka kumpulkan tentu saja termasuk dongeng-dongeng lucu Si Kabayan. Atas pengumpulan dongeng Si Kabayan tersebut, Lina Maria Coster-Wijsman menjadikannya bahan disertasi. Begitu jauh menelusuri riwayat hidup Lina Maria Coster-Wijsman, hanya sedikit yang terungkap. Ia dinyatakan lahir di Leiden dan dianggap sebagai wanita pertama yang meraih gelar doktoral dalam bidang folklor.

Adapun menurut data Wikipedia, pada 26 Februari 1919 ia menikah dengan Dirk Coster (1889-1950), fisikawan Belanda yang turut menemukan unsur hafnium (Hf) pada 1923. Dari hasil perkawinannya, ia dikaruniai dua putra dan dua putri (Hendrik, Ada, Els, dan Herman).

Disertasi Wijsman

Disertasi Nyonya Coster-Wijsman berjudul Uilespiegel verhalen in Indonesie: in het Bizonder in de Soendalande. Disertasi tersebut ia pertahankan di Universitas Leiden, Belanda, pada Jumat, 7 Juni 1929. Disertasi ini kemudian dibukukan setebal 170 halaman pada tahun itu juga oleh penerbit Santpoort: Mees. Yang dijadikan penelitian adalah dongeng-dongeng Si Kabayan yang dikumpulkan Snouck dari Banten selatan.

Kini disertasi Nyonya Coster-Wijsman sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Koesalah Soebagyo Toer dengan judul Si Kabayan: Cerita Lucu di Indonesia Terutama di Tanah Sunda. Buku itu diterbitkan oleh PT Pustaka Jaya bekerja sama dengan lembaga ilmiah Belanda, Koninklijk Instituut voor Taal Land en Volkenkunde (KITLV), Jakarta, pada Desember 2008.

Buku tersebut disusun menjadi empat bab, yaitu Bab I "Daftar Isi dan Catatan", Bab II "Teks", Bab III "Masyhudulhak", dan Bab IV "Abu Nawas". Pada Bab I, Nyonya Coster-Wijsman mencatat dan meringkas 134 dongeng Si Kabayan yang dikumpulkan Snouck, ditambah sebagian kecil dari RA Kern dan R Satjadibrata. Adapun pada Bab II ditampilkan 80 teks utuh berbahasa Sunda berisi dongeng Si Kabayan.

Si Kabayan memang terkenal sebagai orang lucu nomor wahid di Tatar Sunda. Namun, dari jumlah cerita Si Kabayan yang diteliti Nyonya Coster-Wijsman, ternyata ada dongeng yang menyangkut sisi seksualitas. Pada Bab I ada 42 ringkasan yang di dalamnya mengandung sisi-sisi seksualitas Si Kabayan. Adapun pada Bab II disajikan 33 teks utuh yang berkaitan dengan seksualitas Si Kabayan.

Apa dan bagaimana seksualitas dalam cerita Si Kabayan di buku tersebut ditampilkan dan apakah masuk dalam kategori pornografi? Bagaimana orang menanggapinya?

Keyakinan Ayatrohaedi

Ayatrohaedi (1939-2006), guru besar Universitas Indonesia, pada buku yang bertajuk Seks, Teks, Konteks: Tubuh dan Seksualitas dalam Wacana Lokal dan Global (2004:121-140) menjawabnya. Di dalamnya ia menulis Si Kabayan: Cawokah atau Jorang?

Pertama-tama Ayatrohaedi menelusuri arti pornografi. Seraya mengutip Ensiklopedi Nasional Indonesia (1990.13:337-40) ia menerangkan bahwa pornografi adalah penyajian tulisan, patung, gambar, foto, gambar hidup (film), atau rekaman suara yang dapat menimbulkan nafsu berahi dan menyinggung rasa susila masyarakat.

Selanjutnya, sastrawan Sunda dan Indonesia yang akrab disapa Mang Ayat itu menerangkan perihal dua kata Sunda yang mengacu pada seksualitas, tetapi dalam penggunaannya sering dirancukan, yakni kata cawokah dan jorang.

Menurut dia, ada nuansa lain dari kedua kata tersebut. Cawokah digunakan untuk pelisanan kata-kata terlarang atau harus dibalibirkeun sebagai sesuatu yang wajar. Karena lahir dari masyarakat yang tidak terlalu ketat memerhatikan dan mempertimbangkan kesantunan berbahasa di kalangan mereka, yakni lingkungan masyarakat pedesaan dengan pendidikan cukup rendah, mereka mengucapkan kata-kata, termasuk yang dianggap tabu, tanpa beban. Hal itu tidak pernah menjadi masalah di antara mereka.

Sementara kata jorang, menurut pengarang buku Hujan Munggaran (1960), Kabogoh Tere (1967), dan Pamapag (1972), ini lebih masuk kategori pornografi dengan syarat hal itu disertai pemberian atau penggambaran yang dapat menyebabkan orang lain mungkin agak terangsang atau terbangkit gairahnya.

Alhasil, menurut Mang Ayat, dongeng-dongeng Si Kabayan termasuk cawokah, tetapi tidak jorang. Hal tersebut dapat dipahami bila teks tersebut dikaitkan dengan konteks yang melahirkannya. Sebagaimana yang disebut, dongeng Si Kabayan dalam disertasi Nyonya Coster-Wijsman berasal dari daerah Banten selatan. Daerah ini, menurut Mang Ayat, merupakan daerah yang sama sekali tidak pernah terkena pengaruh peradaban dan kebudayaan Jawa, yang antara lain membawa kehalusan budi dalam wujud bahasa.

Kehalusan budi bahasa berarti undak usuk bahasa atau halus-kasar bahasa Sunda yang terpengaruh budaya Jawa. Dalam hal ini pada masyarakat Banten selatan hampir tidak ada kata-kata lemes (halus). Kalaupun ada di antara mereka yang mengenal kata halus, hampir dapat dipastikan pengetahuan itu mereka peroleh melalui lembaga sekolah atau persentuhan bahasa dengan penutur bahasa dari dan di tempat lain.

Oleh karena itu, di lingkungan masyarakat Banten selatan yang masih “polos” seperti itu pelisanan kata, yang bagi masyarakat lain diupayakan dibalibirkeun, dengan demikian tidak diperlukan. Demikian kesimpulan Mang Ayat yang wafat di Sukabumi pada 18 Februari 2006. Alhasil, Si Kabayan tidak melulu terkesan lucu. Sebab, ada sisi lain yang mungkin harus kita gali kembali, yakni segi seksualitas atau sisi sufismenya, mengingat di dalam disertasi itu pun ada dongeng Si Kabayan yang bersifat sufistik. Namun, yang terpenting adalah kearifan saat menghadapinya, layaknya Ayatrohaedi menghadapi disertasi Nyonya Coster-Wijsman.

_________________

Artikel ini didownload dari http://koran.kompas.com/, diakses pada tanggal 29 Agustus 2009.

Atep Kurnia, adalah Pegiat pada Sawala Bulanan Pusat Studi Sunda.

Sumber foto: http://warungbukusunda.blogspot.com/

 

Dibaca 6.452 kali



Bookmark and Share