Loading
 
Jumat, 22 September 2017

Beranda   » Artikel » Pengenalan Budaya Nusantara Melalui Sastra Bandingan:
Salah Satu Alternatif Pembelajaran Sastra Lama di Sekolah
16 September 2009 03:11

Pengenalan Budaya Nusantara Melalui Sastra Bandingan:
Salah Satu Alternatif Pembelajaran Sastra Lama di Sekolah


Pengenalan Budaya Nusantara Melalui Sastra Bandingan: <br/>Salah Satu Alternatif Pembelajaran Sastra Lama di Sekolah

Oleh: Zulfahnur Z.F.

A. Pengantar

Indonesia terkenal dengan negara yang kaya budaya. Kekayaan budayanya ini merupakan aset kekayaan bangsa dan sekaligus mewarnai kesatuan bangsa yang ditandai dengan mottonya, Bhineka Tunggal Ika. Keragaman budaya yang merupakan aset kekayaan bangsa Indonesia ini, perlu dikenalkan kepada generasi muda, para siswa, melalui pengajaran sastra, khususnya pengajaran sastra lama yang karya sastranya memuat unsur-unsur budaya. Hal ini penting mengingat gejolak disintegrasi bangsa yang muncul akhir-akhir ini memperlihatkan dampak negatif terhadap kesatuan dan persatuan bangsa yang telah dihasilkan oleh para pendahulu bangsa ini. Sikap saling memusuhi antar suku, saling mencurigai, dan saling tidak menghargai budaya orang lain, merupakan gejala yang mempertajam disintegrasi bangsa. Tentulah ini suatu sikap yang tidak menguntungkan bagi bangsa Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke.

Mengenalkan kepada para siswa sebagai generasi penerus bangsa tentang keragaman budaya bangsanya merupakan suatu kewajiban bagi para guru. Dengan mengenalkan keragaman budaya bangsanya diharapkan kelak ia akan saling menghargai dan menghormati budaya-budaya di luar budaya masyarakatnya sendiri. Cerita rakyat adalah cerita yang tidak dikenal siapa pengarangnya, kapan dikarang atau diciptakan oleh “penghasilnya” nya, dia besifat anonim. Walaupun bersifat anonim, secara logika cerita-cerita tersebut bukan turun dari langit, pasti ada yang menciptakannya, pasti ada seseorang yang mempunyai ide cerita yang menghasilkannya sebelum tersebar di masyarakatnya. Ini pulalah keunikan dari penciptanya, dari masyarakat lama. Bagi mereka yang penting adalah “apa yang dikatakannnya bukan siapa yang mengatakannya”. Masyarakat pun tidak mementingkan siapa yang menghasilkannya yang penting adalah apa isinya. Akibatnya cerita – cerita itu hidup di kalangan masyarakat dan menjadi milik masyarakat, bukan milik individu. Maka jadilah ia menjadi cerita rakyat, cerita yang dikenal rakyat, dan menjadi milik rakyat. Isi cerita-cerita rakyat kebanyakan bersifat mitos, legenda, dan dongeng.

Sebagai cerita rakyat, dapat juga dikatakan rakyatlah yang bercerita; bercerita tentang masyarakatnya, tentang dirinya, pikiran, perasaan, cita-cita, dan harapannya, tentang suara hatinya. Selanjutnya, Nurhayati mengemukakan untuk memahami suatu suku bangsa hendaklah memahami pula karya sastra mereka, karena itulah kata hati mereka. Khusus di dalam puisi lama sebagai produk masyarakat lama, Sutan Takdir Alisyahbana (STA) juga mengemukakan bahwa puisi lama merupakan sebagian dari kebudayaan masyarakat lama, sebagai cerminan kehidupan masyarakat lama. Kalau kita akan mengenali puisi lama, mestilah pula kita mengenali kebudayaan dan masyarakat lama itu. Di dalamnya memuat pandangan, sikap, budaya kehidupan masyarakat lama, budaya yang kemungkinan sampai saat ini masih hidup dan berkembang. Pengenalan budaya masyarakat lama yang tidak individualis, penuh kebersamaan merupakan cara pemupukan kepribadian bagi siswa sebagai generasi muda yang akan menyandang bangsa Indonesia di masa datang yang penuh tantangan.

Mengingat cerita rakyat merupakan cerita milik rakyat, kemungkinan sebuah cerita menjadi berkembang dan bervariasi di kalangan rakyat adalah suatu hal yang mungkin terjadi. Banyak cerita rakyat yang mempunyai motif yang sama, tetapi berbeda pengembangannya di berbagai daerah. Perbedaan pengembangannya ini tidak terlepas dari kreativitas pencerita yang memasukkan budaya lokal yang dianut masyarakat setempat. Cerita Malin Kundang, misalnya, yang terkenal di Minangkabau, ternyata juga terdapat di daerah Banten dengan judul Dompu Awang dengan menggunakan latar lokal yaitu adanya gunung di Kramat Watu. Demikian juga di daerah lainnya terdapat motif cerita yang sama. Dengan membandingkan cerita-cerita rakyat dari berbagai daerah yang memiliki motif yang sama, tetapi berbeda pengembangan cerita, merupakan suatu cara untuk pengenalan budaya masyarakat Nusantara yang beragam ini secara formal kepada para siswa. Keunikan karya sastra rakyat yang demikian, yang tidak mengenal siapa penciptanya, yang hanya berdasarkan atas sikap “yang perlu adalah apa yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakan”, merupakan sikap yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang tidak berfikir individual, egois, melainkan berfikir kebersamaan. Cerita rakyat yang bervariasi di berbagai daerah dengan motif cerita yang sama, merupakan kreativitas pencerita dalam kehidupan masyarakat lama. Sikap-sikap seperti inilah yang perlu ditanamkan kepada siswa bagaimana keluhuran budi masyarakat lama yang terlihat melalui karya-karyanya sehingga membentuk masyarakat yang penuh kebersamaan.

B. Tujuan Pembelajaran Sastra

Perubahan kurikulum sekolah menengah dari waktu ke waktu tidaklah mengubah esensi tujuan pembelajaran sastra, bahkan mempertajam tujuan yang hendak dicapai. Di dalam Kurikulum 2004, misalnya, tujuan pembelajaran sastra semakin dipertajam ke arah afeksi siswa, yaitu siswa mampu menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia. Tujuan ini semakin memperjelas sasaran pembelajaran sastra yang pada kurikulum sebelumnya (Kurikulum 1994, dan 1984) tidak dinyatakan secara eksplisit. Di dalam kurikulum sebelumnya, dinyatakan tujuan pembelajaran sastra yaitu siswa mampu memahami, menikmati, dan menghayati, karya sastra, serta menambah wawasan, dan mengembangkan kepribadian.

Dengan ditambahkannya tujuan yang menyatakan sikap afeksi siswa, dalam kurikulum 2004, diharapkan siswa akan dapat mengintrospeksi diri, menjadi orang yang menghargai sesamanya, dan sekaligus memperkokoh kesatuan dan persatuan bangsa. Dalam hal ini, jelas kemampuan menghargai dan membanggakan sastra Indonesia merupakan sikap yang diharapkan tertanam di hati anak Indonesia yang mau menghargai bangsanya. Pembelajaran sastra lama melalui cerita-ceritanya diharapkan dapat berperan membentuk sikap tersebut.

C. Masalah Pembelajaran Sastra

Tidak dapat dimungkiri bahwa para pemerhati sastra selalu melontarkan kritik terhadap pembelajaran sastra di sekolah. Pengajaran sastra yang tidak apresiatif, siswa yang hanya dikenalkan kepada pokok dan tokoh, siswa yang hanya diberi ringkasan cerita, tidak membaca utuh karya sastra, dan berbagai masalah lain selalu dilontarkan kepada para guru dalam pembelajaran sastra. Sebaliknya para guru dalam berbagai pertemuan pengajaran sastra selalu pula mengeluhkan waktu yang sedikit untuk pembelajaran sastra, buku-buku sastra sebagai sarana pembelajaran sastra tidak tersedia di sekolah, kalaupun tersedia, tidak mencukupi untuk dibaca minimal oleh satu kelas siswa, dan berbagai permasalahan lainnya yang dialami oleh para guru di sekolah. Bahkan Taufik Ismail membandingkan bagaimana pembelajaran sastra pada generasi pelajar masa kolonial, sampai masa awal-awal kemerdekaan Indonesia. Pada masa itu, para siswa wajib membaca banyak karya sastra, bahkan gandrung membaca karya sastra. Demikian juga dengan para siswa SMA di berbagai negara luar. Mereka diwajibkan membaca karya sastra. Ironinya, siswa SMA di Indonesia dikatakan “nol” karya sastra yang dibacanya.

D. Bagaimana dengan Pembelajaan Sastra Lama?

Tidak jauh berbeda dengan pembelajaran sastra modern, pembelajaran sastra lama pun di sekolah mengalami persoalan. Persoalan pembelajaran sastra lama di sekolah muncul dari sikap dan motivasi siswa belajar sastra lama yang menganggap karya sastra lama itu sesuatu yang tidak aktual, hayalan, tidak masuk akal, jauh dari kenyataan. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Achadiati Ikram yang mengemukakan bahwa masyarakat awam biasanya mempunyai penilaian yang negatif dan merendahkan terhadap sastra lama sebagaimana halnya penilaian terhadap sesuatu yang tidak modern dan kuno. Penilaian yang negatif tersebut antara lain menganggap bahwa gaya bercerita sastra lama itu menggurui; sastra lama tidak dapat mengikat perhatian pembaca karena gaya bahasanya bertele-tele; sastra lama itu terlalu bersifat khayalan yang tidak dapat dihayati sebagaimana karya sastra modern, seperti cerpen, novel, sehingga membacanya menjadi membosankan.

Pendapat tersebut mungkin ada benarnya sehingga tidak dapat disalahkan. Namun ibarat kata pepatah “tak kenal maka tak sayang” mereka yang mengatakan seperti itu mungkin karena belum mengenal karakteristik karya sastra lama. Mereka menggunakan “kacamata” sekarang untuk melihat karya sastra lama. Seperti kata S.O. Robson, kalau kita akan melihat karya sastra klasik, karya sastra lama, gunakanlah “kacamata lama” bukan “kacamata modern”, karena karakteristik dari kedua masa karya sastra itu berbeda.

E. Pembelajaran Sastra Lama di Dalam Kurikulum 2004

Bagaimanapun fenomena pengajaran sastra lama di sekolah, namun dalam kurikulum (1994 atau 2004) materi sastra lama tetap merupakan bagian dari pembelajaran sastra walaupun rumusan kemampuan dasarnya masih dapat dikembangkan dan dipertajam. Hal ini memperlihatkan bagaimana pentingnya pengenalan sastra lama Indonesia terhadap para generasi muda sebagai standar kompetensi yang akan dimilikinya. Misalnya: Standar Kompetensi dan Kemampuan Dasar Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SMU Kelas I/1 Kompetensi Dasar Kemampuan Dasar Mengapresiasi karya sastra lama, baru, modern dan konemporer.

Mengidentifikasi karakteristik genre puisi, fiksi, dan drama.

Menunjukkan karakteristik puisi lama dan moderen, fiksi lama, dan moderen.

Menunjukkan isi sastra lama, moderen, dan terjemahan baik puisi maupun fiksi.

Kelas I/1 Kompetensi Dasar Kemampuan Dasar Mengapresiasi karya sastra lama, baru, moderen dan konemporer.

Menuliskan kembali teks fiksi dengan sudut pandang orang lain.

Membaca dan mengungkapkan kembali cerita fiksi lama, moderen, dan terjemahan secara lisan dan tertulis.

Di dalam kompetensi dasar dan kemampuan dasar siswa kelas I SMU, (misalnya), seperti yang terlihat pada tabel di atas, cerita rakyat yang berangkat dari kehidupan dan latar belakang budaya masyarakat, akan menjadi sarana dalam pengenalan budaya masyarakat tertentu. Dengan pengenalan berbagai cerita rakyat yang mempunyai kesamaan di berbagai daerah akan memperkaya wawasan dan kepekaan siswa dalam memahami keaneragaman budaya bangsanya. Hal ini penting bagi mereka dalam menjalin kesatuan dan persatuan bangsanya yang sudah mulai terasa retak, tercabik-cabik, dan tidak utuh. Pembelajaran sastra yang mengangkat kekayaan budaya daerah menjadi wahana dalam menambah wawasan, membentuk kepribadian, dan moral anak bangsa. Dengan demikian, diharapkan kelak mereka akan mampu menghormati, menghargai, dan berjalan seiring dengan sesamanya dari berbagai daerah dengan budaya yang berbeda pula. Pembandingan budaya dalam karya sastra diharapkan membangkitkan rasa persatuan, serta mencegah timbulnya rasa pemarjinalan dari kelompok yang satu terhadap kelompok lainnya.

F. Perbandingan Cerita Rakyat

Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, bahwa banyak cerita rakyat yang mempunyai motif yang sama tetapi berbeda pengembangannya di berbagai daerah. Perbedaan pengembangan cerita yang terdapat di dalam cerita memperlihatkan masuknya budaya lokal oleh pencerita. Dengan demikian, perbedaan-perbedaan tersebut yang mencerminkan budaya lokal dapat menambah pengalaman pembaca atau pendengar cerita itu, serta menambah wawasan pembaca tentang keragaman budaya melalui cerita-cerita rakyat. Sebagai contoh, cerita Jaka Tarub di Jawa, Malim Deman di Sumatra, dan Meraksimana dan Siraiman di Irian Jaya, dan cerita lainnya yang sejenis di daerah lain. Ketiga cerita ini mempunyai kesamaan motif yaitu perkawinan antara pemuda dunia dengan bidadari dari kayangan. Proses pertemuan mereka diawali dengan pencurian baju salah seorang bidadari yang sedang mandi-mandi di telaga oleh pemuda dunia. Karena pakaian puteri ini tidak dapat ditemukan, maka bidadari ini tidak dapat kembali ke kayangan. Dia tertinggal di bumi oleh saudara-saudaranya dan terpaksa kawin dengan pemuda yang “menolong” nya. Tetapi perkawinan mereka tidak kekal, mereka akhirnya berpisah. Penyebab perpisahan mereka pada masing-masing cerita tidak sama. Perbedaan penyebab perpisahan atau perbedaan-perbedaan lainnya di dalam cerita, memperlihatkan masuknya unsur budaya lokal oleh pencerita ke dalam ceritanya. Hal ini dapat memperkaya pengalaman pendengar atau pembaca cerita tentang keragaman budaya lokal tersebut. Dengan kata lain dapat menambah wawasan siswa tentang keragaman budaya lokal yang tercermin di dalam cerita rakyat di berbagai daerah. Perbedaannya bukan hanya pada penyebab perpisahan kedua insan dalam cerita,tetapi terdapat juga perbedaan-perbedaan lain dalam pengembangan cerita. Namun inti cerita adalah perkawinan dua insan, langit dan bumi, yang melalui proses pencurian baju salah seorang bidadari yang sedang mandi-mandi di telaga. Penyebab dan cara pertemuan mereka pun juga terdapat variasi.

1. Jaka Tarub

Di dalam Jaka Tarub, penyebab perpisahan mereka adalah karena Jaka Tarub melanggar pesan isterinya Nawangwulan. Ketika Nawangwulan akan pergi ke sungai, ia berpesan kepada suaminya agar selama ia di sungai suaminya tidak membuka tutup panci penanak nasi karena ia sedang menanak nasi. Sudah cukup lama Jaka Tarub menaruh kecurigaan kepada Nawangwulan. Mereka sudah lama berkeluarga, dan selama itu pula isterinya menanak nasi. Tetapi, padinya di lumbung tetap tidak berkurang. Lumbung padinya tetap penuh. Di sisi lain, ia selalu diwanti-wanti oleh isterinya agar tidak membuka tutup panci yang digunakan isterinya untuk menanak nasi. Karena itu, timbul keingintahuannya atas apa yang dimasak isterinya. Dilanggarlah pesan isterinya. Ternyata yang dimasak hanya satu butir padi. Pancinya ditutup kembali, tetapi butir padi itu tidak dapat menjadi nasi. Nawangwulan akhirnya mengetahui bahwa suaminya telah melanggar janji, karena padi yang dimasaknya tidak menjadi nasi. Semenjak itu terjadilah perubahan luar biasa pada kehidupan Nawangwulan terutama pada proses memasak nasi. Karena kesaktiannya sudah hilang, ia harus bekerja keras, memasak sebagaimana manusia biasa memasak. Setiap hari ia harus menumbuk padi, memasak dengan takaran biasa. Padahal selama ini dengan kesaktiannya, padi satu butir bisa menjadi satu periuk, dan dapat mencukupi makan mereka sekeluarga tanpa bersusah payah menumbuk dan memasaknya. Akibatnya, lambat laun padi di lumbung menjadi berkurang dan semakin berkurang. Dengan menipisnya tumpukan padi, maka terlihatlah pakaiannya yang disimpan suaminya di bawah tumpukan padi. Nawangwulan terkejut, sekaligus gembira. Berarti dengan ditemukannya pakaiannya, ia akan dapat kembali ke kayangan ke lingkungan saudara-saudaranya, ayah ibunya. Benarlah, ia kembali ke kayangan dengan meninggalkan Jaka Tarub bersama anak mereka Nawangsih. Jaka Tarub sangat menyesali perbuatannya yang telah melanggar pesan istrinya.

Sampai pada bagian ini, tersirat simbol budaya masyarakat Jawa masa lampau yang `melarang` laki-laki ke dapur. Dengan kata lain, `tabu`, `pantang” bagi laki-laki ke dapur, tahu, apalagi menangani urusan dapur. Kalau laki-laki ke dapur maka akan terjadi pemborosan. Karena itu, laki-laki dilarang menangani urusan masak-memasak karena akan merepotkan keluarganya sendiri. Laki-laki cukup menerima apa yang disajikan oleh isterinya.

2. Malim Deman

Lain halnya dengan Malim Deman (Khabar Mu`alim Budiman menurut versi Von de Wall). Kisah perkawinan mereka sama dengan Jaka Tarub, yaitu diawali dengan pencurian pakaian Putri Bungsu, salah seorang bidadari dari kayangan yang sedang mandi-mandi tengah malam di telaga milik Mandeh Rubiah. Tetapi perkawinan mereka tidak langgeng. Mereka akhirnya berpisah. Perpisahan mereka disebabkan oleh kelalaian Malim Deman sebagai suami. Semenjak ia mempunyai putera yang diberi nama Sutan Duano, Malim Deman asyik berjudi, menyabung ayam, dan tidak pulang-pulang ke rumahnya menengok anak dan isterinya. Akibatnya, Puti Bungsu yang tinggal bersama mertuanya merasa gelisah, sedih, dan marah. Akhirnya timbul keinginannya kembali ke kayangan, berkumpul dengan saudara dan ibu bapaknya. Dia tahu bahwa bajunya disimpan oleh ibu mertuanya. Ia pinjam bajunya itu dengan dalih untuk dijemur karena sudah lama tersimpan. Setelah diperolehnya, ia berpesan kepada Bujang Selamat, pengawal Malim Deman, untuk mengatakan bahwa ia akan kembali ke kayangan bersama anaknya Malin Duano karena tingkah laku suaminya yang selalu meninggalkan dia dan anaknya karena bermain judi dan menyabung ayam. Bujang Selamat menyampaikan pesan Puti Bungsu kepada Malim Deman. Mendengar berita itu, Malim Deman baru tersadar atas kesalahannya. Ia terlambat, Puti Bungsu dan Sutan Duano sudah naik ke kayangan. Malim Deman meratap menyesali perbuatannya, dan sedih atas kepergian isterinya. Sampai pada bagian ini tersirat simbul dari sebagian kebiasaan laki-laki Minangkabau dahulu (?) yang suka menyabung ayam, berjudi, berlama-lama sampai melupakan kewajibannya terhadap anak isterinya. Hal ini menyebabkan keretakan rumah tangganya, bahkan terjadi perceraian antara mereka.

3. Meraksimana dan Siraiman

Meraksamana dan Siraiman adalah cerita rakyat dari Papua (dh. Irian Barat). Mereka berdua bersaudara. Meraksamana bermimpi melihat sepuluh orang bidadari yang sedang mandi-mandi di sebuah telaga. Ia terjaga dan pergi menuju tempat puteri-putri yang sedang mandi-mandi tersebut. Seorang wanita tua menunjukkan tempat penyimpanan pakaian bidadari yang sedang mandi-mandi itu. Sehelai dari pakaian bidadari itu diambilnya dan disembunyikannya. Salah seorang bidadari yang tidak ada pakaiannya tidak dapat kembali ke langit. Ia menangis karena ketakutan kalau hari sampai siang ia takut nanti akan mati. Meraksamana mendatanginya, membawanya pulang dan menjadikannya sebagai isterinya.

Suatu ketika, Meraksamana memancing ikan di sungai. Sepeninggalnya, isterinya diculik oleh Koranobini seorang raja di seberang lautan yang haus perempuan. Meraksamana dan Siraiman mencari sang puteri. Di perjalanan mereka bertemu dengan salah seorang rakyat Koranobini yang bernama Mandimuna. Ia dihukum karena banyak makan sehingga merugikan kawan-kawannya yang lain, dan ditinggalkan rajanya tergantung di atas pohon. Mandinuma bersedia membantu Meraksamana asal mau melepaskan tali pengikat tubuhnya. Setelah tubuhnya terlepas dari belitan tali, ia pun pergi ke seberang lautan memenuhi janjinya. Ia menghirup air laut sampai kering, ia berjalan dengan cepat menuju istana Koranobini. Setibanya di istana Koranobini, sang raja sedang tertidur pulas. Isteri Meraksamana sedang menangis ketakutan ingat kepada suaminya. Mandinuma menjelaskan kedatangannya dan membawa sang puteri kembali ke suaminya. Setibanya kembali di tempat Meraksamana menunggu, air laut yang tadi dihirupnya, dimuntahkannya kembali sehingga terputus jalan menuju istana Korabini. Bukan main gembira dan berterima kasihnya Meraksamana kepada Mandinuma. Sayangnya, pertemuan mereka kembali tidak berlangsung lama. Sang Puteri merasa malu dikatakan dan diejek oleh lingkungannya bahwa ia manusia yang tidak dikenal asal usulnya, tidak jelas keturunannya. Keadaan ini menyebabkan ia ingin kembali ke kayangan. Meraksamana mengizinkan dengan hati sedih dan membiarkan isterinya kembali ke kayangan.

Sampai pada bagian cerita ini, penyebab perpisahan antara kedua insan adalah karena ejekan lingkungan terhadap asal-usul atau garis keturunan seseorang. Seseorang yang tidak jelas asal-usul keturunannya akan menjadi seseorang yang akan selalu diejek dan dipertanyakan keberadaannya. Inilah tampaknya salah satu sisi budaya masyarakat Papua yang tersirat di dalam cerita. Tentu saja masih banyak sisi–sisi lain dalam cerita yang dapat diungkapkan perbedaannya yang memperlihatkan ciri kebudayaan setempat. Tergantung kepada guru untuk berusaha mencari dan menggali keragaman budaya daerah di dalam karya–karya klasik daerah untuk menambah wawasan siswanya terhadap kekayaan budaya bangsanya, sebagaimana yang tercantum di dalam tujuan pembelajaran sastra di SMP maupun SMA.

Daftar Pustaka

Alisyahbana, Sutan Takdir. Puisi Lama, Jakarta: Pustaka Rakyat.

Direkorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pendidikan Menengah Umum. 2003. Pola Induk Pengembangan Silabus Berbasis Kemampuan Dasar Sekolah Menengah Umum.

Ikram, Achadiati. 1997. Filologi Nusantara, Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.

Ismail, Taufik. 2000. “Mahasiswa Membaca, Sastrawan Bicara,” makalah dalam acara Mahasiswa Membaca Sastrawan Bicara, di Universitas Negeri Jakarta.

Nurhayati. 1999. Antologi Sastra Daerah Nusantara, Cerita Rakyat Suara Rakyat, Jakarta: Obor.

Redaksi Republika. “Banyak Mitos Lokal Belum Digali Sastrawan Moderen” Republika, Berita Nasional, kolom 1-2, 30 Juli 2004, hlm. 9

Robson, S.O, Ceramahnya pada Penataran Sastra Tahap I Tugu, Jawa Barat, Nov. 1978. Von de Wall, Chabar Mu`alim Budiman, collectie 635

 

_____________________________

Artikel ini didownload dari, http://pusatbahasa.diknas.go.id/, diakse pada tanggal 15 September 2009.

Sumber foto: http://ceritarakyatnusantara.com/

 

Dibaca 5.760 kali



Bookmark and Share