Loading
 
Jumat, 22 September 2017

Beranda   » Artikel » Menghidupkan Cerita Rakyat, Melestarikan Alam
29 Januari 2010 07:42

Menghidupkan Cerita Rakyat, Melestarikan Alam


Menghidupkan Cerita Rakyat, Melestarikan Alam

Oleh: Munasri[1]

Di negara bagian Wyoming, Amerika Serikat, terdapat taman nasional yang disebut Devils Tower National Monument. Taman Nasional yang diresmikan pada tahun 1906 ini objek utamanya berupa bukit batu di atas tanah seluas 545 ha.

Bukit batu setinggi 264 meter dengan permukaan di puncaknya seluas lapangan sepak bola itu membentuk sebuah menara batu yang dikenal dengan sebutan Devils Tower. Pada dinding batu Devils Tower terdapat torehan garis-garis vertikal sehingga bukit itu terlihat menyerupai penggalan pangkal sapu lidi dalam ukuran raksasa. Menurut legenda penduduk asli Amerika, torehan pada dinding batu itu akibat digaruk-garuk oleh seekor beruang raksasa.

Lain lagi di Irlandia Utara. Kumpulan pilar batu setinggi enam meteran yang terletak di pinggir pantai dikisahkan dalam legenda setempat sebagai tonggak-tonggak bekas pijakan jalan makhluk raksasa untuk menyeberangi laut North Channel dari Irlandia Utara menuju ke Skotlandia. Batuan itu terkenal dengan nama Giant's Causeway. Batuan di Devils Tower ataupun di Giant's Causeway adalah contoh sebuah monumen alam yang keberadaannya dijaga karena selain memiliki cerita rakyat atau legenda, juga mengandung nilai ilmiah secara geologis.

Tulisan ini mencoba membandingkan "nasib" sebuah bukit serupa yang berada di Kecamatan Karangsambung, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah (18 km utara Kebumen) dengan monumen alam yang telah disebutkan di atas. Dengan menyusuri jalan raya sepanjang 600 meter ke arah utara dari Kantor Camat Karangsambung, di tepi jalan sebelah kanan, kita akan melihat bukit setinggi 80 meter yang terbentuk oleh susunan batu menyerupai tiang-tiang. Kalau kita maju sedikit lagi (+ 50 meter) sampai jembatan Kali Mendala -anak Sungai Luk Ulo- kita akan lebih jelas melihat tiang-tiang batu itu. Namun sebagian tepi bukit ini sudah mulai bopeng akibat ditambang. Di balik bukit yang tidak langsung terlihat dari jalan raya tersebut, penambangan batuan yang dilakukan ini lebih luas lagi sehingga sewaktu-waktu bisa merobohkan tiang-tiang batu alami ini. Lantas, apa istimewanya bukit ini?

Monumen Alam

Bukit itu dikenal sebagai Gunung Parang, sebuah monumen alam yang menggambarkan peristiwa proses pembentukan batuan penyusun kulit bumi ini. Penduduk setempat mengenalnya Gunung Parang dengan sebutan Gunung Wurung berdasarkan legenda (cerita rakyat) yang dikisahkan oleh orang tua mereka sebelumnya. Namun sudah tidak banyak lagi masyarakat yang memberi perhatian pada legenda ini. Salah seorang yang masih fasih menuturkan legenda ini di antaranya adalah Mbah Asma, warga yang tinggal di ujung bukit Gunung Wurung.

Kisahnya, suatu ketika pada zaman dahulu di wilayah ini para dewa mempunyai hajat membangun sebuah gunung yang direncanakan akan dikerjakan dalam semalam dan manusia tak boleh sampai melihatnya. Pada hari menjelang senja, mulailah para dewa itu membangun gunung dari tiang-tiang batu. Dikisahkan juga, ketika gunung itu hampir selesai saat hari menjelang pagi, ada seorang gadis yang turun ke sungai (Luk Ulo) di kaki gunung itu untuk mencuci beras. Gadis itu terperanjat ketika di hadapannya terlihat sebuah bukit.

Gadis itu ketakutan, naik ke darat, dan berlari menjauh sehingga beras yang hendak dicucinya terlempar (dilemparkan). Para dewa yang menyadari ada manusia telah menyaksikan kerja mereka segera meninggalkan dan tidak melanjutkan pembangunan gunung yang telanjur separo jadi tersebut. Oleh karena itu, penduduk setempat menamainya Gunung Wurung (wurung=batal atau tidak jadi dalam bahasa Jawa).

Secara geologis Gunung Parang (Gunung Wurung) disebutkan terbentuk oleh batuan intrusi. Batuan intrusi adalah materi batuan yang sebelumnya berupa bahan cair, pijar, dan panas berasal dari magma di perut bumi yang hendak menerobos permukaan namun keburu membeku sebelum muncul ke permukaan.

Gunung ini boleh dikatakan batal (wurung) menjadi gunung api karena terbentuk hanya di bawah permukaan. Batuannya disebut sebagai batu diabas yang dicirikan oleh butiran mineral plagioklas berwarna putih, terlihat seperti beras yang berserakan. Kemiripan antara cerita rakyat dan kejadian geologi Gunung Wurung boleh jadi hanya kebetulan belaka. Begitulah adanya.

Gunung Wurung, Devils Tower, dan Giant's Causeway adalah monumen alam yang sama-sama memiliki aspek cerita rakyat dan nilai ilmiah untuk pendidikan. Bedanya, Gunung Wurung kini sedang menjalani kepunahan, baik batuannya maupun legenda yang melatarbelakanginya.

Memperkaya Khasanah

Dengan menghidupkan kembali cerita rakyat kepada anak-anak sekolah dan anak-anak kita, diharapkan bukan saja akan menumbuhkan kecintaan dan sekaligus memperkaya khasanah budaya lokal, tetapi juga dapat meningkatkan kecintaan anak-anak kepada alam, kepada Gunung Wurung. (39n)

 

Sumber artikel: suaramerdeka.com


[1] Munasri adalah Kepala Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung (LIPI) di Kebumen.

Dibaca 4.768 kali



Bookmark and Share