Loading
 
Jumat, 22 September 2017

Beranda   » Artikel » Menasehati Anak Lewat Cerita Dongeng, Cerita Anak dan Hikayat
7 Mei 2010 07:31

Menasehati Anak Lewat Cerita Dongeng, Cerita Anak dan Hikayat


Menasehati Anak Lewat Cerita Dongeng, Cerita Anak dan Hikayat

Menjadi orangtua zaman sekarang memang serba sulit. Barangkali anda pun sering membandingkan tentang anak-anak (dibawah usia 5 tahun) zaman dulu dengan anak-anak zaman sekarang.

Anak-anak zaman sekarang cenderung lebih berani membangkang, lebih sulit dikendalikan dan lebih berani mengemukakan pendapat. Yang terakhir ini positif, tetapi tentunya anda tak suka punya anak yang berani membangkang dan sulit dikendalikan bukan?

Anak-anak zaman sekarang pun lebh kritis terhadap apa yang dikatakan orangtuanya sehingga orangtua harus lebih berhati-hati dalam bicara maupun bertindak.

Mungkin anda pun sering kewalahan dalam menerapkan disiplin pada anak dan kesulitan mengajarkan norma? Tidak mudah memang, tetapi ada yang dapat membantu anda. Cobalah mendongeng untuk anak anda.

Ya, mendongeng alias bercerita. Nenek dan kakek seringkali menjadi favorit bagi anak-anak karena mereka banyak bercerita kepada cucu-cucunya. Biasanya mereka menceritakan pengalaman masa muda maupun cerita khusus anak-anak.

Mendongeng adalah menyampaikan cerita. Intinya, dongeng adalah cerita. Isi dari dongeng bisa bermacam-macam, antara lain sejarah kepahlawanan, fabel (cerita mengenai binatang), legenda (kisah mengenai terjadinya suatu tempat), maupun cerita kontemporer yang merupakan karangan baru. Di dalam sebuah dongeng biasanya pun diselipkan nasihat-nasihat atau hikmah.

Anak-anak biasanya sangat menyukai cerita. Apalagi yang berkaitan dengan binatang maupun tumbuhan. Itulah sebabnya mengapa sebagian besar hal-hal yang berkaitan dengan anak-anak hampir selalu dikaitkan dengan dunia binatang.

Misalnya: boneka bermacam jenis binatang, mainan kuda goyang/angsa goyang, motif  binatang pada pakaian, tas dan sepatu, bahkan beberapa tes psikologi pun menggunakan unsur binatang dalam penyajiannya agar lebih dekat dengan dunia anak.

Dengan alasan itulah maka sangat masuk akal apabila dongen menjadi media yang sangat baik untuk menyampaikan ajaran-ajaran kepada anak-anak. Anda tidak perlu berkecil hati bila anda tidak bisa mendongeng seperti para pendongeng terkenal.

Tidak perlu juga menghafalkan cerita-cerita terkenal seperti Kancil Nyolong Timun, legenda Tangkuban Perahu, dll. Anda bisa saja mengarang sendiri dongeng yang akan anda sampaikan. Atau bisa juga cerita berasal dari pengalaman anda waktu kecil. Yang perlu diperhatikan dalam mendongeng adalah:

  1. Bercerita, bukan membaca teks.
  2. Tidak harus selalu diawali dengan “Pada jaman dulu…,”Pada suatu hari”…
  3. Perhatikan durasi, jangan terlalu panjang ataupun terlalu pendek.
  4. Apabila terlalu panjang bisa dibuat bersambung, akan membuat anak menagih lagi.
  5. Selipkan hikmah sesuai kebutuhan.
  6. Pilih waktu yang tepat untuk menyampaikan.
  7. Dongen identik dengan cerita sebelum tidur, tetapi anda boleh saja memberikannya pada waktu lain asalkan anak merasa nyaman.

Contoh kasus

Misalnya anda sedang kebingungan mengajari anak anda supaya tidak kencing di sembarang tempat. Anda bisa menceritakan cerita “Kisah Pohon yang Sedih”

Dik, ibu punya cerita bagus. Kamu mau mendengarkan ?

Ini kisah tentang pohon yang sedih. Pak Amir menanam pohon rambutan di halaman rumahnya. Lima tahun kemudian pohon itu sudah tumbuh baik, subur, daunnya banyak, batangnya kokoh, dahan, dan rantingnya banyak.

Tapi sejak sebulan lalu pohon rambutan Pak Amir mulai kering, dan daunnya rontok, padahal Pak Amir tak lupa menyiram dan memupuk. Doni, anak Pak Amir yang berusia 3 tahun pun tahu hal itu bahkan pernah ia mendengar pohon rambutan sedang menangis. Doni melaporkan hal itu pada ayahnya.

Kemudian Pak Amir bertanya kepada si pohon, “hai pohon rambutan, kenapa tubuhmu sekarang kurus sekali? Daunmu rontok dan kamu tak mau makan dan minum. Kamu pun sering menangis. Ada apa sebenarnya?”

Pohon rambutan menjawab, “aku sedih sekali, Pak Amir. Sering sekali Doni anakmu pipis di tubuhku. Aku jadi bau, tidak segar seperti dulu yang selalu bersih. Pohon lain pun sering mengejekku karena bau pipis. Aku tak tahan begini terus, aku malu sekali. Aku jadi malas makan. Daripada diejek terus, lebih baik aku mati saja pak Amir”.

“Sabar pohon rambutan. Biar aku tegur dulu Doni anakku. Supaya dia tidak pipis di tubuhmu lagi.”

Ini adalah contoh yang sangat sederhana, kemudian di akhir cerita anda bisa menyelipkan hikmahnya.

Nah dik, pohon juga bisa sedih kalau ada orang pipis di tubuhnya. Batang pohon jadi bau tak sedap. Sekarang adik tahu kan, kenapa tidak boleh pipis sembarangan?

Dengan mengajari anak melalui dongeng, anak tidak merasa digurui tetapi merasa terlibat dalam cerita itu. Banyak hal bisa anda sampaikan misalnya: mengajari tentang kejujuran, persahabatan, rajin bangun pagi, rajin belajar, dll.

Jadi anda tidak hanya berpaku pada cerita legenda Danau Toba, Malin Kundang, Tangkuban Perahu, Sangkuriang, Lutung Kasarung atau cerita rakyat lainnya, anda bisa mengarang dongeng tersebut untuk nasehat anak anda.

Sumber: sahabatwanita.com

Dibaca 6.865 kali



Bookmark and Share