Loading
 
Jumat, 22 September 2017

Beranda   » Artikel » Mendongeng Demi Masa Depan Anak
14 Oktober 2010 01:37

Mendongeng Demi Masa Depan Anak


Mendongeng Demi Masa Depan Anak
366 Cerita Rakyat Nusantara

Oleh Ariesandi Setyono[1]

Pada zaman serba canggih dan praktis sekarang ini, tradisi mendongeng untuk anak-anak sudah tergusur, termasuk oleh membanjirnya informasi dalam dunia komunikasi yang berkembang cepat. Sepanjang hari, mereka dihadapkan pada beragam acara TV, mereka bisa beralih ke permainan yang tak kalah mengasyikkan, video game, misalnya. Padahal, kegiatan mendongeng sebenarnya bisa tetap memikat dan banyak manfaatnya bagi anak-anak.

Dahulu para orang tua mendongeng saat anak berangkat tidur. Dongeng yang dibawakannya pun bermacam-macam; bisa lucu, sedih, gembira, mendebarkan. Bentuknya bisa berupa cerita rakyat, legenda, cerita dunia binatang hingga kehidupan sehari-hari. Misalnya Bawang Merah dan Bawang Putih, Kancil, Timun Mas, atau dongeng-dongeng impor, seperti Cinderella, Hans dan Gretta, Putri Salju, dan Tujuh Kurcaci, Peter Pan, dll.

Sumber dongeng pun bermacam-macam, bisa dari mulut ke mulut yang diperoleh dari orang tuanya dulu, dari buku-buku cerita, atau hasil penggalian cerita rakyat yang dilakukan oleh para antropolog. Meski tema maupun sumber berbeda, banyak manfaat bisa dipetik dari kegiatan mendongeng. Salah satunya, mendorong anak mencintai buku alias gemar membaca. Selain itu kegiatan ini mampu mendekatkan hubungan orang tua dan anak serta menanamkan nilai-nilai luhur. Mendongeng juga mampu memberikan pesan moral yang membantu anak-anak dalam mengatasi persaingan antar saudara, konflik dengan orang tua, dan dorongan-dorongan negatif lainnya.

Menurut Lawrence Kutner, Ph.D, psikiater dari Harvard, AS, dongeng penting bagi anak agar dapat memasuki perjalanan hidupnya tanpa risiko. Anak bisa mengatasi masalahnya dengan mengidentifikasikan diri dengan tokoh cerita. Masalah yang dihadapi ketika pertama kali anak masuk sekolah, misalnya, bisa diatasi dengan enak. Bahkan Prof. Janine Despinette, pakar dan kritikus buku dari Prancis, mengatakan, sejak dini anak perlu belajar mendengarkan cerita yang dibacakan orang tua atau guru mereka, sehingga mereka mampu menghargai nilai-nilai dalam cerita.

Mendongeng adalah suatu proses kreatif. Pendongeng menciptakan dunia lain, yang diharapkan dapat mengirim pendengarnya akan kebenaran dunia imajinasi itu. Lalu bagaimana kiat meramu dongeng untuk anak? Kalimat pembuka “Pada jaman dahulu” akan membuat para pendengar seolah dilontarkan ke dunia yang tanpa batas waktu. Kata demi kata akan terserap dan membuat mereka tercekam. Imajinasi mereka pun berkembang sesuai dengan keinginan pendomngeng. Namun, semua itu hanya bisa dicapai kalau pendongeng terampil, kreatif, serta penuh penghayatan dalam membawakan ceritanya. Semua aspek itu bisa dilakukan bila pendongeng dalam suasana hati yang baik.

Seorang pendongeng harus mengetahui apa isi cerita. Ambil contoh cerita rakyat Afrika Selatan tentang seorang pria yang menikah dengan bidadari dari langit. Wanita yang dikawininya itu membawa sebuah keranjang anyaman yang indah. Namun, sebelum dikawini ia meminta agar laki-laki itu berjanji tidak akan membuka tutup keranjang itu, kecuali ia memintanya. Cerita ini tentu akan berlanjut dengan kenyataan bahwa laki-laki itu tak memenuhi janjinya. Ia membuka keranjang itu, ketika istrinya sedang ke ladang. Saat pulang, istrinya tahu bahwa suaminya telah ingkar janji. Si istri pun bertanya:

“Kau telah membuka keranjangku?”

“Ya, tapi kenapa sih, keranjang kosong saja diributkan?” jawab suaminya.

“Kosong?” tanya istrinya dengan air mata mengambang.

“Memang kosong!” jawab suaminya sambil tertawa.

Istri dari langit itu bergegas pergi. Katanya, bukan karena sang suami ingkar janji, namun lantaran suaminya tak dapat melihat isi keranjang itu. Menurut wanita itu, keranjang itu berisi barang-barang indah dari langit, yang diharapkan dapat dinikmati berdua.

Pendongeng harus dapat menunjukkan kepada pendengarnya makna yang tersirat dalam cerita itu. Dalam hal ini pendongeng harus bisa menggunakan imajinasinya untuk menggambarkan isi keranjang yang berisi keindahan, kegembiraan, dan kebijaksanaan. Alat-alat peraga akan mempermudah pendengar membayangkan sesuatu yang diceritakan. Alat itu bisa berupa gambar, boneka, pasir warna (artsand), tali, kertas, sapu tangan, buku cerita, kain warna-warni, dll. Berbagai alat peraga tersebut akan mendorong seorang anak memiliki kemampuan membayangkan dengan baik.

Kemampuan visualisasi sangatlah penting dilatih sejak dini. Dengan alat bantu pasir warna kita bisa membantu membangkitkan imajinasi anak. Letakkan pasir di dalam kotak plastik tembus pandang berukuran 20x30 cm, di atasnya kita bisa menggambarkan bermacam-macam benda, satwa, dan flora dengan telunjuk. Untuk menghapus dan mengganti gambar, kotak cukup digoyang-goyangkan sehingga permukaan pasir rata kembali.

Di negara maju, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Australia misalnya, banyak dijual gambar khusus untuk keperluan mendongeng. Satu cerita terdiri atas 10-12 gambar/adegan yang dicetak 4 warna di atas kertas tebal. Selain diberi nomor urut, di balik setiap lembar gambar terdapat cerita ringkasan adegan yang bersangkutan, tujuannya agar pendongeng bisa mengingat kembali ceritanya. Seluruh gambar ditempatkan dalam satu dos yang berfungsi sebagai bingkainya. Namun, praktik mendongeng tersebut memiliki kekurangan. Selain komunikasi antara pendongeng dan pendengar, gerak tangan dan mimik pendongeng terhalang, karena pendongeng harus memegangi gambar. Fantasi anak pun kurang berfungsi dengan adanya gambar-gambar itu.

Untuk memperkenalkan tokoh, alam fauna, atau satwa misalnya, bisa digunakan alat peraga boneka, buku cerita, atau buku lain. Mendongeng juga bisa dipakai sebagai sarana bila ingin memperkenalkan buku-buku tertentu kepada anak-anak. Kita tunjukkan sebuah gambar dalam buku itu, lalu ceritakan bagian yang menarik. Hentikan dongeng kalau anak ingin mengetahui kisah selanjutnya, mau tak mau mereka harus mencari buku yang dimaksud dan membacanya sendiri. Pada titik tertentu dari cerita coba tanyakan kembali pada anak apa yang baru saja didengarnya. Minta anak menceritakan kembali sebisanya. Anda juga bisa meminta anak mendongengkan suatu cerita pada adiknya.

Setiap orangtua bisa mendongeng untuk anaknya, baik sekadar untuk hiburan atau maksud lainnya. Dengan bercerita orang tua menjadi kreatif, sedangkan pengalaman hidup anak bisa menjadi sumber ide. Dengan sedikit latihan, bisa diperoleh pengalaman untuk menyampaikan cinta, nilai-nilai, dan keyakinan yang disampaikan melalui dongeng. Mendongeng tampaknya mudah, namun belum tentu setiap orangtua punya kesempatan untuk melakukannya.

Ada beberapa kiat kalau ingin menjadi pendongeng yang baik bagi anak-anak:

  • Upayakan hanya mendongeng kalau Anda sedang dalam suasana hati yang cerah, jauh dari resah gelisah, sehingga bisa memusatkan pikiran dan perhatian dengan baik
  • Yakinkan diri sendiri sebelum mendongeng, bahwa Anda mengasihi dan mencintai makhluk-makhluk kecil di hadapan kita dan menginginkan mereka bahagia. Lakukan dengan penuh rasa pengabdian untuk membuat mereka tersenyum, tertawa, berjingkrak, atau menangis berurai air mata
  • Cobalah menghayati dan meresapi dengan sungguh cerita yang Anda bawakan. Tangkap nilai-nilainya dan sampaikan pada mereka
  • Buat ringkasan cerita di atas secarik kertas untuk dihafalkan jalan ceritanya dengan cara membaca berulang-ulang. Tulis dan hafalkan nama-nama tokoh utama dan pernyataannya
  • Jika menggunakan alat peraga beri nomor urut sesuai jalan cerita dan susun gambar-gambar peraga sesuai urutan. Sebelum bercerita usahakan susunan ini sudah rapi
  • Pilih adegan yang menarik dan coba mendramatisirnya berulang-ulang, sehingga pada waktunya nanti akan lancar membacakannya
  • Ucapkanlah kata-kata dengan jelas, jangan menggumam
  • Ajukanlah pertanyaan kepada anak-anak dengan spontan, atau cubit anak-anak dengan seolah-olah yang mencubit itu adalah pelaku cerita, misalnya. Dengan begitu, mereka dilibatkan dengan isi cerita
  • Usahakanlah selalu memelihara ketegangan atau merahasiakan jalan cerita sehingga anak-anak terikat, terpukau adegan demi adegan. Sekali-kali kejutkan mereka untuk merangsang pengungkapan emosi.

Mendorong anak gemar terhadap dongeng memang bermuara pada peran aktif orang tua sejak dini, yakni sejak anak berusia 3 tahun. Pada usia itu anak sudah mampu mengingat dengan kuat, sehingga kemesraan dan cinta kasih yang dirasakan ketika Anda membacakan dongeng untuknya akan diingat sepanjang hayat. Demikian halnya dengan dongeng-dongeng indah yang menyentuh hatinya akan dikenang selamanya. Bukankah Anda masih ingat dongeng-dongeng yang Anda baca atau dibawakan oleh orang tua ketika kanak-kanak? Jangan lupa kebiasaan baik dan terpuji itu kelak akan ditiru oleh anak Anda. Maka jangan sia-siakan kesempatan baik ini. Sungguh kasihan kalau anak Anda tidak memiliki kenangan manis itu, padahal Anda mampu memberikannya.

__________

Ariesandi Setyono

Sumber: http://www.ariesandi.com



[1] Ariesandi Setyono adalah seorang praktisi pendidikan dan terapis Aries, tinggal di Surabaya bersama dengan istri tercintanya Susan Goeshartono ketiga putranya Finantio Freely, Emeraldo, dan Mario Ruby.

Dibaca 5.117 kali


Artikel terkait

• 5 Juni 2015 04:29

Mengapa Budaya Mendongeng Perlu Dilestarikan?


Bookmark and Share