Loading
 
Selasa, 23 September 2014

Beranda   » Artikel » Pelestarian Sastra Daerah di Bangka Belitung
Suatu Upaya Pemertahanan Budaya
2 Maret 2009 02:03

Pelestarian Sastra Daerah di Bangka Belitung
Suatu Upaya Pemertahanan Budaya


Pelestarian Sastra Daerah di Bangka Belitung<br />Suatu Upaya Pemertahanan Budaya

leh: Asyraf Suryadin[i]

1. Pendahuluan

Bangka Belitung awalnya merupakan bagian dari Provinsi Sumatera Selatan. Di era reformasi pada tahun 2000 melalui Undang-undang nomor 27 terbentuklah Provinsi Bangka Belitung. Secara kultural, Bangka Belitung merupakan rumpun Melayu, demikian juga bahasanya masuk dalam rumpun bahasa Melayu Bangka dan Melayu Belitung.

Melalui media bahasa daerah tersebut muncullah beberapa karya yang ditulis oleh para penulis daerah. Kebanyakan dari para penulis sastra tersebut menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa yang digunakan masyarakat Bangka Belitung tidak mengenal tingkatan sepertinya bahasa Jawa atau Sunda. Untuk mengungkapkan hal-hal yang bersifat formal menggunakan bahasa Indonesia sedangkan untuk mengukapkan hal-hal yang bersifat nonformal menggunakan bahasa Melayu Bangka atau Melayu Belitung.

Sastra sebagai produk budaya yang diungkapkan melalui bahasa tulis dan bahasa lisan banyak menyimpan berbagai produk kehidupan yang tersimpan dalam cetakan seperti buku dan media lainnya. Produk kehidupan yang terungkap tadi dapat berupa gambaran dan prilaku manusia dan pada akhirnya menjadi budaya yang dipertahankan secara terus menerus. Sehingga cukup banyak budaya Bangka Belitung yang diimplementasikan ke dalam bentuk karya sastra daerah.

2. Sastra Babel dari Masa ke Masa

Belum ada data tertulis yang berbentuk literatur dalam mengungkapkan kapan dimulainya sastra daerah di Bangka Belitung. Miskinnya leteratur ini menyebabkan sulitnya mengungkapkan keberadaan sastra daerah. Selain itu, budaya masyarakat Melayu Bangka yang lebih suka menggunakan sastra lisan daripada sastra tulis. Untuk kasus jenis sastra drama tradisonal seperti Dulmuluk yang cukup dikenal di masyarakat Bangka Belitung juga mengalami kesulitan mencari naskah yang telah dibukukan.

Sastra Babel yang dimaksud pada makalah ini adalah karya sastra yang sebagian isinya membicarakan permasalah daerah Bangka Belitung. Jadi, lebih menekankan pada hasil karya dan tidak menekankan pada penulisnya. Artinya penulis bisa saja berasal dari daerah lain tetapi isi dari karya sastra tersebut membicarakan masalah daerah Bangka Belitung secara universal.

Apabila berbedoman kepada pembatasan tersebut di atas maka karya sastra daerah Babel yang telah dibukukan sebagai usaha pelestarian dapat berupa:

Cerita Bangka yang diterbitkan di Luar Negeri:

  1. Cerita Bangka, Het verhaal van Bangka, karya E.P. Wieringa, Vakgroep Talen en Culturen van Zuidoost-Azie en Oceanie Rijksuniversiteit Leiden, 1990.

Pantun, Puisi, dan ”Gurindam.”:

  1. Pantun Melayu Bangka Selatan, Editor L.K.Ara, Yayasan Nusantara, 2004.
  2. Pangkalpinang Berpantun, Editor LK Ara dan Suhaimi Sulaiman, Dewan Kesenian Kota Pangkalpinang, 2004.
  3. Bangka Belitung Bercahaya dalam Pantun dan Puisi, Editor LK Ara dan Suhaimi Sulaiman, Dewan Kesenian Kota Pangkalpinang, 2005.
  4. Kelekak, Editor LK Ara dan Suhaimi Sulaiman, Dewan Kesenian Kota Pangkalpinang dan Yayasan Nusantara, 2005.
  5. Langit Senja Negeri Timah. LK Ara, Yayasan Nusantara, 2004.
  6. Ngintip Kita Punya Negeri, Kumpulan Gurindam Negeri Serumpun Sebalai. Roestam Rabain, (Proses Penerbitan).
  7. Gurindam Abad 21, Berkelana di Padang Fana. H.Eko Maulana Ali, Bangka Pelanduk, 2005.

Cerita Rakyat:

  1. Legenda Rakyat Bangka, Sang Benyawe sampai Tanjung Penyusuk, Asyraf Suryadin Amsyar dan Tien Rostini, Dewan Kesenian Bangka, 2000.
  2. Cerita Rakyat Bangka, Putri Gunung Kelumpang ke Air Limau, Asyraf Suryadin Amsyar dan Tien Rostini, Dewan Kesenian Bangka, 2000.
  3. Cerita Rakyat Bangka Belitung, Editor Asyraf Suryadin dan Tien Rostini, HISKI, 2008.
  4. Megat Merai Kandis (Bangka), Sulaiman dan Koko P.Bhairawa, Grasindo, 2005.
  5. Asal Mula Bukit Batu Bekuray (Cerita Rakyat dari Bangka Belitung), Koko P. Bhairawa, Azka Mulia Media, 2007.
  6. Tahta dan Mahkota di Istana Kota Kapur (Bagian 1 dan 2), Sutarno ZA, Pemda Bangka, 2000.

Ungkapan Tradisional dan Kamus Daerah:

  1. Ungkapan Tradisional Kota Pangkalpinang, Editor Akhmad Elvian, Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pangkalpinang, 2006.
  2. Kamus Bahasa Daerah Indonesia Bangka dan Belitung, Hartini dkk, Yayasan Annisa Nurrizki Pangkalpinang, 2003.

Selain karya sastra daerah seperti tersebut di atas terdapat juga karya-karya lain yang berbentuk roman, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, dan novel yang diterbitkan oleh organisasi profesi seperti HISKI (Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia) dan penerbit lainnya. Seperti Kehilangan Mestika karya Hamidah, Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, Antologi 99 Puisi 99 Penyair, Puisi Bingung Seorang Guru Editor Asyraf Suryadin, Kumpulan Cerpen Guru Teladan karya Tien Rostini dkk., serta beberapa lagi kumpulan cerpen dan novel yang telah berbentuk buku yang diterbitkan oleh HISKI.

3. Publikasi Sastra Daerah Babel

a. Media Massa Koran

Pada prinsipnya media massa berkewajiban mengembangkan seni dan budaya daerahnya masing-masing. Kewajiban ini terkait dengan fungsi pers sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial. Hal ini membuktikan media massa tidak semata-mata mengejar profit, tetapi juga memiliki idialisme dalam memajukan seni dan budaya khususnya di daerahnya Bangka Belitung. Walaupun ada kalanya ruang budaya yang satu halaman penuh tersebut adakalanya disisipi juga dengan iklan dengan cara mengilangkan bagian opini budaya.

Minimal ada tiga koran daerah di Bangka Belitung yang setiap minggunya menampilkan ruang budaya. Ketiga koran tersebut adalah Harian Pagi Bangka Pos, Bangka Belitung Pos, dan Rakyat Pos. Dari ketiga koran tersebut yang sangat menarik adalah Bangka Pos karena menampilkan puisi Amang Ika yang ditulis dalam bahasa Melayu Bangka. Puisi tersebut telah ditulis sejak Desember 2007. Awalnya dipublikasikan dalam bahasa Indonesia, kemudian dalam perkembangan berikutnya menggunakan bahasa Melayu Bangka dan setiap penampilannya dilengkapi dengan foto Amang Ika.

Berikut ini contoh syair Amang Ika yang dimuat pada Bangka Pos tersebut:

 “Hikayat Si Maun”

 “Ada seorang bernama Maun Hidup miskin bertahun-tahun Siang dan malam duduk melamun Berharap harta bagai Si korun Tinggal di dusun bersama ibunya Munah Saklamah ia punya nama Maun disayang setulus hatinya Bak mutiara tiada bandingnya Walau badan tinggallah kulit Hidup susah tak terasa sulit Munah Saklamah menampal bukit Berharap Maun menggapai langit...” (Kelekak Lukok, Desember 2007)

Contoh Amang Ika yang dibuat dalam bahasa Melayu Bangka adalah seperti berikut ini.

 “Tanjuk Pelita” 

Cem ne lah kisah dari dulu
Tiap ari mati lampu
Entah sengajak entah belagu
Amang Ikak imang dak tau
Tiap kampong lah dibuat gilir
Di sine idup di sane ngalir
Kampong begelep membuat getir
Teringat idup di zaman menir
Janji kek rakyat dak salah-salah
Bakal dibangun listrik yang mewah
Betaon-taon nunggu pon lelah
Sampai sekarang lom ade lah
Soal rekening dak usah ditanyak
Tiap bulan maken membengkak
Telambat bayar dirik disegak
Kwh dicabut mun lah lame nunggak
Keluhan rakyat mohon dipecah
Jangen dibuang dalam tong sampah
Idup melarat betambah susah
Tanjuk pelita minyak ge payah
Ikak pejabat imang dak mengalam
Tanjuk pelita di waktu malam
Kami rakyat benar-benar paham
Bangon tiduk lubang idong beritam
Tanjuk pelita membuat runyam
Serade gawi menjadi pitam
Karena pandangan sedikit kelam
Ngancoh kupi setarok kek garam
Amang Ikak ukan mendongeng
Lebih-lebih nek mukak koreng
Mun salah jangen dikerangkeng
Kalok benar mohon diconteng
Jadi pejabat nek tahan ati
Rakyat sekarang lah pandai ngoreksi
Basa-basi dak laku lagi
Kalok dikritik jangen emosi
Lebih-lebih nek ngadep pilkada
Pesan dititip janganlah lupa
Buat lah rakyat jadi sejahtera
Jangen agik tanjuk pelita
(Kelekak Lukok, April 2008)

Apabila Anda perhatikan pada syair di atas terdapat tokoh Amang Ika. Kata amang ika dalam bahasa Melayu Bangka berarti paman anda. Pada puisi tersebut Amang Ika selalu bercerita tentang keadaan yang terjadi di Bangka Belitung baik yang berlatar sosial, keadaan alam Babel, politik, budaya, dan lain sebagainya. Contoh di atas merupakan syair yang berlatar sosial yang menggambarkan krisis listrik di Bangka Belitung.

b. Penerbitan lokal

Penerbitan lokal sangat berpengaruh dalam mengembangkan budaya daerah. Penerbitan tersebut di antaranya mengembangkan tradisi penerbitan buku-buku yang membicarakan tentang Bangka Belitung, misalnya buku Translitersi dan Kandungan Fath al ’Alim fi Tartib al Ta’lim Syaikh Abdurrahman Sidik yang diterbitkan oleh Shiddiq Press, STAIN Syaikh Abdurrahman Siddik. Buku tersebut merupakan pemikiran dari Syaikh Abdurrahman Sidik yang kemudian diterjemahkan oleh civitas akademika STAIN.

Selain itu, terdapat juga penerbit lain seperti UBB Press yang dikelolah oleh Universitas Bangka Belitung, HISKI Bangka Belitung, dan Bangka Media Grafika/Bangka Pos. Kebanyakan penerbitan lokal tersebut masih menerbitkan buku-buku yang ditulis oleh penulis lokal dengan berlatar budaya dan daerah Bangka Belitung.

c. Media Elektronik

Media elektorik cukup efektif dalam usaha pemertahanan budaya. Media yang dapat membantu pemertahanan budaya tersebut di antaranya RRI Sungailiat. Media tersebut setiap minggunya menampilkan siaran Sastra dan Budaya yang dilakukan secara langsung dan bersifat interaktif. Berbagai budaya dan sastra Bangka Belitung dikupas secara tuntas dengan menampilkan tema yang cukup beragam. Semua itu dilakukan dalam usaha mengenalkan budaya dan sastra Bangka Belitung hingga ke pelosok yang sulit terjangkau oleh media lain.

4. Sastra Daerah dalam Pemertahanan Budaya

Apa yang dapat ditarik dari karya sastra dalam hal pemertahanan budaya? Banyak sekali yang dapat diambil dari karya sastra, apalagi yang berkenaaan dengan hasil karya yang mengarah pada budaya. Budaya Bangka Belitung yang sering dibicarakan dalam karya sastra adalah budaya menghomati orang lain dan budaya mempertahankan harga diri, budaya humor, dan budaya monumental.

Berikut ini penjelasan dari beberapa budaya yang sering ditemui dalam karya sastra daerah di Bangka Belitung.

a. Budaya Menghormati Orang Lain dan Budaya Mempertahankan Harga Diri

Karya sastra daerah yang dibuat oleh para sastrawan daerah pun banyak yang membeberkan budaya menghormati dan menghargai perbedaan agama. Tidak hanya itu, ada kalanya ditemui juga budayabudaya untuk mempertahankan harga diri. Karya Roestam Robain dalam Ngintip Kita Punya Negeri yang berjudul Gong Xi Pacai (hal: 45) membicarakan masalah budaya ini.

Imlek 2002/2553 Gong Xi Pacai
Tahun kuda air kerja lebih giat jangan cai-cai.
Begitu pesan dari Jakarta suhu Acai
Konyan di Babel dimeriahkan dengan barongsai.

Demi menjaga Babel tetap harmonis
Jangan masukkan paham itu komunis
Jangan pula nonjol harta budaya suku dan etnis
UUD 45 dan Pancasila pedoman yang sudah finis

b. Budaya Humor

Belum dapat dikatakan masyarakat Bangka Belitung kalau belum mengenal tokoh dalam cerita rakyat Pak Udak dan Mak Udak. Tokoh lucu yang suka belapun pelanduk ini kalau di Jawa Barat disamakan dengan si Kebayan. Berikut ini contoh budaya humor dalam cerita rakyat yang dimaksud:

 “Nasib kurang beruntung bagi Pak Udak dan Mak Udak, karena belum mempunyai anak walaupun telah lama berumah tangga. Karena itu, Pak Udak bermaksud akan mencari perempuan lain untuk dijadikan istri kedua. Pak Udak pun mengemukakan maksudnya kepada Mak Udak. Sebagai istri yang bijak maksud Pak Udak disetujui oleh istrinya. Tetapi Mak Udak minta kepada Pak Udak akan mencari sendiri perempuan untuk istri muda Pak Udak. Maka mulailah Mak Udak membuat jalan di dalam hutan rimba.

Beberapa hari kemudia jalan pun selesai dibuat Mak Udak dan perempuan yang dicari pun telah ditemuinya. Pak Udak boleh datang untuk meminang perempuan itu pada malam hari. Segala nasihat istrinya dituruti oleh Pak Udak. Pak Udak pergi untuk menemui perempuan yang dikatakan Mak Udak. Sementara itu, Mak Udak mulai menghias diri memakai pakaian serba bagus dan wangi-wangian Pak Udak sangat gembira bertemu dengan calon istri mudanya.

Perempuan itu setuju dipinang Pak Udak, hanya saja perlu disepakati kalau ke istri muda pada malam hari dan tidak boleh siang hari. Pak Udak setuju akan permintaan perempuan itu yang penting pinangan Pak Udak diterima. Jika giliran Pak Udak di rumah istri tua, Mak Udak berbuat seperti biasa, tetapi jika giliran Pak Udak di rumah istri muda, Mak Udak pun mulai menghias diri dengan berpakaian serba bagus. Mak Udak pun selalu tertawa sendiri memikirkan akan kebodohan Pak Udak.

Akhirnya, rahasia itu terbongkar juga ketika Pak Udak sedang berbaring-baring melepaskan lelah terlihat oleh Pak Udak jeratan pelanduknya. Sekarang sadarlah Pak Udak bahwa ia telah ditipu oleh istrinya, Mak Udak.”

c. Budaya Monumental

Banyak judul puisi atau judul prosa yang diambil dari nama-nama tempat atau daerah di Bangka Belitung. Antologi puisi Langit Senja Negeri Timah karya LK Ara memuat nama-nama tempat tersebut, misalnya puisi dengan judul Parai yang mengingatkan kita terhadap keindahan pantai yang berada di kota Sungailiat Bangka.

Selain itu, terdapat juga judul-judul yang lain seperti nama daerah Belinyu, Sungailiat, Toboali, Baturusa, Pantai Pasir Padi, dan Sungai Buding. Nama-nama tersebut mengingatkan kita akan daerah Bangka Belitung yang pada akhirnya dapat mendatangkan kerinduan terhadap daerah tersebut.

Dalam cerita rakyat juga banyak ditemukan judul-judul yang menggunakan nama tempat. Misalnya cerita rakyat Asal Mula Bukit Batu Bekurai, Megat Merai Kandis, Sang Benyawe sampai Tanjung Penyusuk, dan Putri Gunung Kelumpang ke Air Limau.

5. Penutup

Berbagai budaya yang terimplementasi dalam sastra daerah seperti yang terungkap di atas dapat mempersatukan masyarakat di daerah Bangka Belitung dan akhirnya persatuan tersebut semakin memperkokoh dalam mempersatukan bangsa Indonesia. Selain itu, sebagai alat mempertahankan budaya lokal yang saat ini semakin terkikis akibat globalisasi.

Daftar Pustaka

  • Ara, LK. Langit Senja Negeri Timah (Antologi Puisi). Pangkalpinang: Yayasan Nusantara. 2004.
  • Harmi, Zulkifli dkk. Translitersi dan Kandungan Fath al Alim fi Tartib al Ta’lim Syaikh Abdurrahman Siddik. Sungailiat: Shiddiq Press. 2006.
  • Liaw, Yock Fang. Sejarah Kesusastraan Melayu Klassik. Singapura: Pustaka Nasional.
  • Robain, Roestam. Ngintip Kita Punya Negeri (Kumpulan Gurindam Negeri Serumpun Sebalai). Pangkalpinang: Tanpa Penerbit, 2004.
  • Wieringa, E.P. Carita Bangka Het verhaal van Bangka. Leiden: Vakgroep Talen en Culturen. 1990

Sumber Tulisan: http://pondokbahasa.wordpress.com (27 Februari 2009)
Sumber Foto: http://prakosobhairawa2008.blogspot.com

[i] Asyraf Suryadin adalah staf Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Bangka Belitung

 

Dibaca 3.394 kali



Bookmark and Share