Loading
 
Minggu, 20 Agustus 2017

Beranda   » Artikel » Membangun Empati Anak Melalui Dongeng
6 Desember 2010 07:50

Membangun Empati Anak Melalui Dongeng


Membangun Empati Anak Melalui Dongeng

Oleh Sylviana Ira Rosanti

Siapa yang tidak pernah mendengar kata dongeng? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dongeng berarti cerita yang tidak benar-benar terjadi.

Secara luas, bisa juga diartikan sebagai membacakan cerita atau menularkan cerita pada anak. Entah itu cerita nyata, tidak nyata, atau pengalaman orang yang lebih tua dari kita.

Dulu biasanya dongeng dilakukan oleh orang tua sebagai pengantar tidur anak. Tidaklah lengkap rasanya, jika tidur tanpa mendengarkan dongeng. Bahkan ada yang menjadikan dongeng sebagai menu yang harus didengarkan ketika akan tidur.

Namun, kini kebiasaan menuturkan atau membacakan cerita (baca: dongeng) kepada anak-anak, tidak lagi menjadi ritual para orang tua yang akan mengantarkan anak-anaknya tidur. Bahkan sebagian orang tua enggan untuk sekadar bercerita kepada sang anak.

Mereka berpikir bahwa bercerita atau mendongeng bagi anak adalah perbuatan yang sia-sia, hanya membuat lelah saja. Terlebih lagi bagi orang tua yang sibuk dengan urusan pekerjaan. Banyak di antara mereka yang akhirnya tidak memiliki waktu bagi keluarga, khususnya anak meskipun untuk sekadar mendongeng.

Mendongeng bagi anak, seyogianya merupakan pekerjaan yang menyenangkan bagi setiap orang tua. Karena dalam mendongeng akan terjadi sentuhan emosional yang sangat dekat antara orang tua dan anak. Anak akan merasa dimanjakan dan disayangi, sehingga timbul timbal balik berupa rasa kasih dan sayang yang dalam kepada kedua orang tuanya. Di sisi lain, orang tua juga dapat memperhatikan perkembangan dan kekurangan si anak.

Jika kita melihat perubahan perilaku yang terjadi di masyarakat, di mana para orang tua lebih nyaman memberikan anak-anaknya sesuatu yang instan, bukan tidak mungkin kegiatan mendongeng sebelum tidur, kini tinggal dongeng belaka, tinggal kenangan.

Padahal akan lebih baik jika kita tidak memberikan pendidikan yang serba instan kepada anak-anak. Sebab dikhawatirkan nantinya anak-anak kita akan menjadi ibnul biah (anak yang karakter, akhlaknya mengadopsi lingkungannya, bukan hasil didikan orang tuanya). Padahal sebaik-baik mendidik anak adalah yang dilakukan oleh keluarganya, terutama ibu yang mempunyai peran dan fungsi utama sebagai ibu dan pengatur rumah tangga.

Dalam lingkup dunia pendidikan anak usia dini (PAUD), mendongeng atau bercerita merupakan bagian dari kurikulum yang tidak terpisahkan. Karena dongeng atau cerita dapat merangsang pertumbuhan anak.

Alangkah baiknya jika mencari cerita yang dapat dipahami anak dan cocok dengan kadar emosional serta pengalamannya. Sebab dalam bercerita kita mengajak anak untuk berimajinasi, dan juga mengajak anak untuk membangun hati nurani. Karena hakikatnya anak belum tahu mana yang baik dan buruk.

Kalau dulu anak-anak hanya disuguhkan cerita kancil dan paman petani, kisah timun mas, kini kita bisa suguhkan kisah-kisah nyata dalam kehidupan sehari-hari, tentang kemiskinan, anak telantar yang butuh perhatian, anak yang putus sekolah, agar rasa empati anak dapat timbul dari dalam dirinya.

Karena itu, perhatikan tingkat perkembangan anak. Pertama, rentang usia 0 - 2 tahun. Merupakan awal masa perkembangan sensorik motorik, sehingga semua tingkah laku dan pemikiran anak didasari pada hal itu.

Untuk anak seusia itu, pilih cerita dengan objek yang ada di sekitar lingkungan. Untuk mempermudah identifikasinya, pilih sesuatu yang sudah dikenal. Misalnya, kita mengarang cerita tentang tanaman atau kucing yang ada di rumah. Dengan demikian, anak mudah memahami cerita karena objek yang ada dalam cerita, sangat akrab dengan kehidupan sehari-harinya.

Kedua, rentang usia 2 - 4 tahun (usia pembentukan). Banyak konsep baru yang harus dipelajari di masa itu, terutama menyangkut manusia dan kehidupan. Itulah sebabnya mereka suka sekali meniru tingkah laku orang dewasa. Kita bisa menceritakan perihal karakter binatang yang disesuaikan dengan keseharian anak. Ini bisa dilakukan karena anak sudah pandai berfantasi. Fantasi mencapai puncaknya saat mereka berusia empat tahun.

Ketiga, usia 4 - 7 tahun. Di usia ini anak bisa diperkenalkan pada dongeng yang lebih kompleks. Mereka juga mulai menyukai cerita tentang terjadinya suatu benda dan bagaimana cara kerja sesuatu. Inilah kesempatan orang tua untuk mendorong minat anak.

Dongeng merupakan sarana yang dapat membantu tumbuh kembang anak. Orang tua dapat memberikan teladan yang baik bagi anak. Dapat memberikan contoh sikap atau perbuatan terpuji yang harus dikembangkan dan sikap atau perbuatan buruk yang tidak boleh dilakukan anak.

Dengan dongeng kita juga dapat memotivasi anak. Biasanya, seorang anak ketika mendengarkan cerita berimajinasi sebagai tokoh protagonis yang berhasil memecahkan masalah dalam cerita tersebut. Seorang anak senantiasa membayangkan dirinya sebagai jagoan dalam sebuah cerita. Di sinilah kesempatan orang tua untuk dapat menyemangati dan memotivasi anak melalui sebuah dongeng.

Dengan dongeng juga mengajarkan cara berkomunikasi. Keuntungan lain, membacakan dongeng atau cerita bagi anak yang belum dapat berbicara juga dapat menjadi media pembelajaran bagi si anak untuk berbicara.

Dengan menceritakan dongeng maka akan merangsang kemampuan berkomunikasi verbal anak.

Jadi, dongeng bukanlah seringan yang banyak dipikirkan kebanyakan orang, banyak manfaat yang didapat. Untuk itu, tidak ada salahnya mulai membacakan dongeng atau cerita bagi anak.

__________

Sylviana Ira Rosanti SPi AMd PdTK, Guru TK Negeri RSBI Banjarbaru

Sumber: http://www.banjarmasinpost.co.id
Sumber Foto: http://putriecantika.multiply.com/journal

Dibaca 3.505 kali



Bookmark and Share