Loading
 
Rabu, 13 Desember 2017

Beranda   » Artikel » Menemukan Makna di Balik Batu Bedaong
9 Desember 2010 02:47

Menemukan Makna di Balik Batu Bedaong


Menemukan Makna di Balik Batu Bedaong

Oleh Tony Kleden

Di Sasono Langen Budoyo Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, tanggal 1-4 November 2010, untuk kesekian kalinya, telah digelar Festival Nasional Kesenian Teater Remaja 2010.

Meski sudah rutin digelar setiap tahun, NTT baru pertama kali tahun ini mengirim utusannya. Padahal NTT punya Dinas Pariwisata. Bahkan punya unit pelaksana teknis daerah (UPTD) yang khusus mengurus kesenian dan khazanah budaya, yakni UPTD Taman Budaya.

Kepala Taman Budaya NTT, Dra. Yohana Lingu Lango, juga tidak mengerti mengapa selama festival ini diselenggarakan, NTT tidak mengirim utusan. "Tiap tahun digelar. Tetapi baru kali ini kita (NTT) kirim peserta untuk ikut," kata Yohana kepada Pos Kupang, di Kupang, Kamis (2/12/2010).

Persiapan dilakukan sejak medio tahun ini. Kabupaten-kabupaten dihubungi untuk mengirim utusannya beradu di Kupang. Masing-masing kabupaten datang dengan ragam keseniannya. Masing-masing kabupaten ingin mementaskan khazanah budayanya di atas panggung.

Hasilnya, cerita rakyat Flores Timur "Batu Bedaong" keluar sebagai juara pertama. Bangga, tentu saja. Tetapi yang lebih penting dari itu, Batu Bedaong mewakili NTT tampil di festival nasional.

Yohana bangga dengan hasil ini. Tetapi dia lebih bangga karena NTT sudah mulai mengirim peserta mengikuti ajang ini di tingkat pusat. "Mudah-mudahan, kabupaten lain semakin termotivasi menggali dan memperkenalkan nilai-nilai budayanya untuk dipentaskan," kata Yohana.

Batu Bedaong adalah cerita rakyat Flores Timur yang sudah sejak lama ada. Dulu, ketika televisi, play station, dan game di komputer belum ada, cerita-cerita rakyat menjadi hiburan yang ditunggu saban malam oleh anak-anak. Purnama raya adalah saat yang paling dinantikan. Duduk melingkar beralas tikar di halaman terbuka, anak-anak menunggu cerita orangtua. Dongeng, legenda, hikayat.

Batu Bedaong adalah cerita favorit di antara sekian banyak cerita. Isinya mendebarkan, bahkan mengharukan. Sebagai pengantar tidur anak-anak, orangtua biasanya mengubah versinya. Batu Bedaong digambarkan mempunyai mulut yang terbuka lebar, siap menelan siapa saja yang ingin mengakhiri hidupnya.

Nah, kepada anak-anak yang suka bandel, nakal dan berperilaku tidak baik, para orang tua 'mengancam' mengakhiri hidup di mulut Batu Bedaong. Anak-anak mana yang tidak takut jika ibunya bergegas menuju Batu Bedaong menyerahkan diri untuk ditelan?

Sekarang, cerita Batu Bedaong sudah hilang. Tidak diceritakan lagi. Para ibu di sana melewatkan malam dengan asyik di depan televise menonton siaran Sinetron, film, telenovela, kuis, dan semacamnya. Sementara anak-anak dibiarkan mengatur diri sendiri. Tak heran, banyak anak tertidur di depan televisi, atau mengisi kekosongan dengan duduk berjam-jam di depan play station, game, dan sebagainya.

Batu Bedaong adalah cerita rakyat yang meriwayatkan kisah cinta dua remaja yang tak kesampaian karena terkendala adat. Adalah Ama dan Ina yang sedang asyik menjalin asmara. Mereka berdua merasa bahwa cinta mereka datang dari kedalaman hati. Tambatan hati ini begitu kuatnya. Rintangan apa pun ingin dilewati. Dua insan berpadu dalam satu hati. Tak dinyana, adat perkawinan di kampung jadi rintangan paling berat. Mereka berdua tidak bisa melangsungkan pernikahan. Hati yang terbakar asmara, dingin oleh keteguhan hati orangtua, mereka tidak boleh menikah. Adat melarang mereka memadu kasih hingga ke pelaminan.

Sebagai pria yang gagah berani, Ama ingin menunjukkan keberanian dan keseriusannya. Dia datang ke rumah Ina, ingin menemui orang tua Ina. Tetapi apa lacur. Bukan sambutan baik yang diperolehnya, tetapi dampratan dan bentakan yang diperoleh Ama. Orang tua Ina kukuh pada tuntutan adat. Ina tidak boleh menikah dengan Ama.

Hati Ina hancur. Cintanya terhalang adat. Ina lari dari rumah, menyembunyikan diri di hutan. Di sana ia tumpahkan seluruh isi hatinya. Pada Batu Bedaong semuanya berakhir. Ina menyerahkan diri masuk ke mulut Batu Bedaong. Perempuan itu lenyap tanpa bekas.

Mendengar Ina mengakhiri hidupnya di mulut Batu Bedaong, Ama juga nekad. Dia ingin menyusul kekasih hatinya itu. Sebilah pisau menembus dadanya oleh tangannya sendiri.

Melalui cerita berbeda, pesan dari Batu Bedaong sama dan berlaku di hampir semua daerah. Bahwa urusan nikah, kawin, bukan cuma urusan dua insan, tetapi juga urusan suku, urusan keluarga. Dia menjadi urusan suku, urusan keluarga agar pria dan wanita tidak asal nikah.

Di Flores Timur, jodoh itu punya adat tersendiri, tidak semua jalan terbuka. Setiap kampung atau desa punya jalan sendiri bagi seluruh warganya. Ada aturan main tak tertulis yang mesti dipatuhi. Pria dari marga A, misalnya, tahu dan paham pada wanita kampung mana ia boleh 'melirik'. Bukan dengan wanita dari sembarang marga dia boleh menjalin cinta. Wanita pun tahu dia hanya bisa memadu cinta dengan pria dari marga tertentu. Bukan cinta sembarang sinyo yang boleh dia terima.

Sistem ini, lazimnya dikenal dengan sistem tungku. Mengapa mesti tungku? Dari sisi biologis dan genealogis, sebetulnya tidak salah juga kalau sistem ini dilanggar. Tetapi dengan sistem seperti ini, nilai-nilai adat, 'jarak darah' antara satu keturunan dengan keturunan lain tetap terjaga dengan baik. Artinya, perkawinan tidak bakal terjadi antara dua insan yang terlalu dekat hubungan darahnya.

Menurut orang di desa-desa, sistem ini mesti dipertahankan agar belis (gading) terus berputar di antara marga-marga dalam satu tungku. Dan, seperti juga di tempat lain, urusan belis adalah urusan suku, bukan cuma urusan dua keluarga yang terlibat perkawinan.

Sayang, cerita Batu Bedaong sekarang sudah tenggelam oleh hingar bingarnya nilai-nilai baru dari luar. Perkawinan tidak lagi memperhatikan tungku.

__________

Tony Kleden

Sumber: http://www.pos-kupang.com

Dibaca 3.740 kali



Bookmark and Share