Loading
 
Kamis, 19 Oktober 2017

Beranda   » Artikel » Dongeng sebagai Pemantik Multiple Intelligence
19 Maret 2011 06:31

Dongeng sebagai Pemantik Multiple Intelligence


Dongeng sebagai Pemantik Multiple Intelligence

Oleh Nurul Lathiffah

Persoalan mengenai perkembangan kecerdasan anak, selalu menjadi entry point yang sangat menarik dalam pembicaraan seputar parenting, pengembangan potensi peserta didik, bahkan hal ini akan selalu menarik karena setiap individu selalu menghajatkan potensi kecerdasan itu berkembang dengan baik, matang, dan optimal. Bagaimanapun juga, mutakhir kita mulai paham bahwa hasil pengukuran mengenai kecerdasan intelektual yang disandarkan sepenuhnya pada para psikolog, bukanlah suatu hal yang dapat menggaransi seorang anak sepenuhnya menjadi berhasil, apatah lagi sukses.

Kecerdasan intelektual yang diukur dengan tes psikologi memang kita perlukan, tetapi itu hanya sebatas memahami dan mengetahui potensi kecerdasan yang sifatnya terberi. Artinya, tanpa pengembangan dan semangat memperbaharui, kecerdasan intelegensi tidak akan memiliki posisi penting. Kini, kita mulai paham bahwa sesungguhnya kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelegensi, apalagi kecerdasan yang sifatnya kognitif. Kesuksesan seseorang, dapat ditentukan oleh sejauh mana seseorang mampu mengembangkan potensi multiple intelligence. Kecerdasan jamak, pada awalnya diperkenalkan oleh Howard Gardener yang menyebutkan 7 jenis kecerdasan, yang jika dikelola, dan mendapat dukungan secara internal dan eksternal maka ia akan berkontribusi untuk kesuksesan seseorang. Ketujuh potensi itu adalah kecerdasan linguistik, logis matematis, spasial, natural, emosional, musikal, dan kinestetis.

Pada perkembangan berikutnya, Danielle Golemann dan Ian Marshall, kemudian menambah kajian dengan kecerdasan sosial dan kecerdasan spiritual. Tentu, penemuan mengenai potensi kecerdasan dan penggalian mengenai potensi luhur manusia untuk meraih sukses ini menimbulkan semacam gairah optimisme dalam hidup. Artinya, jika seseorang tidak unggul dalam bidang bahasa, atau logika matematika, maka mereka tetap memiliki peluang yang sama untuk sukses dengan cara mengembangkan kecerdasan lainnya. Pun jika, seseorang sungguh hanya mampu memaksimalkan pengembangan kecerdasan pada kerja keras, maka seseorang pun dapat menggapai kesuksesan.

Dengan diformulasikannya konsep mengenai kecerdasan berjuang (adversity question), kita telah menumbangkan rezim yang hanya mengagungkan kecerdasan kognitif. Sekaligus, kita juga telah mampu menempatkan budi pekerti dan akhlak mulia pada posisi penting dalam kecerdasan yang mesti diupayakan oleh manusia. Kecerdasan jamak, telah sangat kita hajatkan mampu kita kelola dengan baik sehingga ia menjadi kekuatan bagi para orang tua untuk mendidik putra-putrinya. Lalu tiba-tiba, muncullah berbagai lembaga pendidikan yang menawarkan konsep pembelajaran dengan mengembangkan kecerdasan jamak. Kita, harus membayar mahal pendidikan yang akan mendewasakan potensi kepribadian anak-anak.

Jika demikian, sangat terasakan betapa pendidikan berkualitas sangat mahal. Daya jangkau masyarakat sementara masih rendah, namun kita tidak bisa menafikan bahwa kebutuhan kita akan kebutuhan yang berkualitas adalah suatu hal yang tidak bisa ditawar lagi waktunya. Jika kita dihadapkan pada konfigurasi permasalahan yang demikian, maka mau tidak mau kita harus memformulasikan suatu pendidikan yang mampu mem-back up kecerdasan jamak pada setiap individu, dengan strategi yang paling mungkin, dan juga realistis.

Kembali pada keluarga. Pendidikan semestinya kita kembalikan ke dalam sistem inti. Nyatanya, kita memiliki instrumen yang dapat kita gunakan untuk memantikkan kecerdasan majemuk dengan memberikan dongeng kepada anak-anak. Hal ini sangat perlu, karena dongeng dalam medan fenomena anak-anak adalah stimulus yang mampu memberikan banyak hal yang barangkali tidak mampu diberikan oleh televisi maupun buku bacaan lain. Dongeng yang diberikan orang tua kepada anak pada saat menjelang tidur bukan hanya sebagai pendidikan moral, pesan-pesan positif, tapi juga sebagai perekat hubungan emosional, bahkan juga mampu menjadi sarana efektif untuk berkomunikasi.

Dalam posisi menjelang terjaga, gelombang otak akan menyimpan dengan baik sugesti positif sehingga kata-kata positif yang dibisikkkan pada anak akan menjadi hope (harapan) dan power yang luar biasa bagi kehidupannya kelak. Mendongeng, adalah suatu aktivitas yang terasa ringan dan barangkali sangat sepele. Namun, jika kita telisik lebih dalam, ternyata dalam dongeng, kita mampu melejitkan kecerdasan emosi anak, kecerdasan linguistik yang sifatnya spontan, kecerdasan sosial anak, bahkan mampu menstimulasi anak untuk menyukai aktivitas yang berkaitan dengan bahasa semisal membaca, menulis, dan mendengarkan. Padahal, kita juga sangat memahami bahwa kecerdasan linguistik itu sangat bermanfaat dalam beragam hal.

Pun di sisi lain, dongeng yang diverbalisasikan menstimulasi anak untuk mengembangkan kecerdasan visual dan imajinasinya, sehingga anak berperan aktif dan mampu belajar untuk menjadi lebih kreatif. Latihan semacam ini, tentu akan sangat sulit didapatkan oleh anak-anak, jika tidak ada dongeng yang diverbalisasikan. Selain itu, anak akan lebih memiliki ekspresi yang diizinkan secara social, mampu menanggapi dan merspon kata-kata, juga belajar mengambil hikmah dalam cerita.

Rasa-rasanya dongeng adalah instrumen pemantik kecerdasan jamak yang cukup sayang untuk kita lewatkan. Mengembangkan potensin anak, bagaimanapun juga adalah tugas dari orang tua dan betapa hal itu sangat dirindukan bagi anak. Tentu, masih banyak lagi hikmah yang akan ditemukan dalam perjalanan memberi dongeng kepada anak. Sejatinya, hanya diperlukan waktu luang, keikhlasan hati, kenyamanan psikis, dan sedikit keterampilan berkomunikasi. Tentu ini bukan hanya pekerjaan para feminis. Lelaki pun, memiliki tanggung jawab yang tidak kalah besarnya dibanding perempuan dalam memberikan pendidikan.

Akhirnya, kini telah tersedia instrumen yang mampu membangkitkan potensi kecerdasan majemuk anak. Hanya kini tinggal soal manajemen, komitmen, kesanggupan, dan tanggung jawab. Rupanya disinilah tantangannya. Kesibukan, rasa lelah, kadang menjadi penghalang yang seolah sangat menusiawi. Meski demikian, kita tetap harus sadar, bahwa mendidik anak memang harus dibayar dengan kerja hati yang ikhlas, ketulusan, ketelatenan, dan jiwa yang lapang. Sudahkah kita mengupayakannya?

__________

Nurul Lathiffah, aktivis Forum Kajian Perkembangan Lasi-per UIN Suka Yogyakarta         

Sumber: http://www.klik-galamedia.com
Sumber Foto:
http://hobyblogging.wordpress.com

Dibaca 4.191 kali



Bookmark and Share