Loading
 
Kamis, 19 Oktober 2017

Beranda   » Artikel » Kearifan Lokal di Cerita Rakyat
25 Maret 2011 04:00

Kearifan Lokal di Cerita Rakyat


Kearifan Lokal di Cerita Rakyat

 

Oleh Harry Susilo

Kearifan lokal sebagai cerminan budaya masyarakat setempat dapat digali melalui cerita rakyat yang berkembang di sebuah daerah. Oleh karena itu, diperlukan penyebaran cerita rakyat melalui guru sebagai pendidik untuk menanamkan dan mempertahankan nilai-nilai lokal kepada siswanya.

Menurut seniman Tegal Anton Surono, cerita rakyat merupakan gambaran otentisitas masyarakat yang mencerminkan perilaku dan budaya masyarakat setempat. "Namun, membaca cerita rakyat bukan berarti mengedepankan primordialisme, melainkan justru menghargai kebinekaan bangsa dengan berbagai karakter budaya masyarakatnya," ujarnya.

Anton mengatakan hal itu dalam diskusi sastra dan budaya bertema "Kearifan Lokal: Cerita dan Folklore Masyarakat Pantura" di Gedung Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Brebes, Senin (3/11). Selain Anton Surono, pembicara dalam diskusi itu adalah Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Brebes Atmo Tan Sidik.

Anton Surono menambahkan, cerita rakyat juga merupakan refleksi pemahaman sebuah masyarakat terhadap masyarakat lainnya. "Nilai yang terkandung dalam sebuah cerita rakyat juga dapat dijadikan sebagai acuan untuk menyelesaikan masalah," ungkapnya.

Atmo Tan Sidik menuturkan, dalam cerita rakyat juga tersirat nilai-nilai positif yang memiliki manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari. "Seperti cerita Jaka Poleng yang di dalamnya berisi ajakan untuk tidak membunuh ular. Dalam kehidupan nyata masyarakat Brebes yang agraris, ular memang diperlukan untuk membunuh tikus yang merusak sawah petani," ujar Atmo.

Selain itu, cerita rakyat atau dongeng juga merupakan sarana yang efektif untuk memberikan transfer pengetahuan kepada anak maupun siswa. Namun, lanjut Atmo, cerita rakyat lambat laun mulai ditinggalkan seiring dengan perkembangan zaman. "Dulu, para orangtua masih mendongengkan anaknya sebelum tidur. Namun, kebiasaan itu kini mulai pudar karena alasan kesibukan," katanya.

Oleh karena itu, kata Atmo, diperlukan aksi nyata untuk kembali memperkenalkan cerita rakyat kepada generasi muda melalui guru sebagai pendidik. Penyebaran itu bisa dilakukan dengan menambahkan muatan lokal dalam kurikulum yang berlaku.

__________

Harry Susilo

Sumber: http://edukasi.kompas.com

Dibaca 8.629 kali



Bookmark and Share