Loading
 
Selasa, 21 November 2017

Beranda   » Artikel » Ibu Harus Bisa Mendongeng
8 Desember 2011 04:02

Ibu Harus Bisa Mendongeng


Ibu Harus Bisa Mendongeng

 

Oleh Endaryati

Bercerita, sebuah aktivitas sepele yang besar manfaatnya. Jangan kira saat seorang nenek bercerita atau mendongeng menjelang cucunya tidur sekadar media penghantar tidur anak.

Jauh dari itu semua, bercerita memiliki posisi penting dalam dunia pendidikan. Charles Buhler, seorang pakar psikologi pendidikan mengatakan anak hidup dalam alam khayal. Dan tentu cerita atau dongeng adalah media khayal yang cukup representatif.

Cerita memiliki daya kesan lebih besar daripada nasihat murni. Cerita akan terekam lebih tajam dalam memori seseorang dibandingkan dengan pengetahuan murni. Karena itu bukan tidak mungkin saat seorang anak yang semenjak kecil sering mendapatkan cerita dari orang tua atau orang-orang dekatnya, mereka memiliki kemampuan yang lebih dari yang tidak pernah mendapatkan cerita.

Dengan cerita, sebuah ilmu pengetahuan akan tersampaikan tanpa harus mengerutkan dahi. Dengan ada cerita, seorang pendengar akan bisa merasakan nilai-nilai yang terkandung dalam cerita, dapat merenungkan, hingga secara tidak langsung nilai-nilai positif yang ada dalam cerita tersebut merasuk dalam diri para pendengar cerita.

Maka dari sinilah posisi cerita dalam dunia pendidikan sangatlah penting. Erat kaitannya dengan hal tersebut, Tuhan dalam mengajari makhluk-Nya (jin dan manusia) salah satunya dengan diberikannya cerita-cerita.

Ini semua terbukti dalam Alquran. Allah SWT berfirman dengan beragam cara, di antaranya adalah dengan cerita. Dari sinilah, posisi cerita dalam menanamkan ilmu pengetahuan dan moral sangatlah diperlukan.

Cerita Ibu

Dalam pengurusan anak, seorang ibu adalah guru yang paling pertama dan memiliki kedekatan emosional yang tingga. Seorang ibu dapat dikatakan 24 jam dalam sehari selalu bersama dengan anaknya. Dimulai dari bangun tidur hingga tidur lagi, seorang ibu selalu bersama buah hatinya.

Ketika seorang anak mulai bisa berkomunikasi dan dapat menerima pesan-pesan dari orang lain, seorang anak selalu bersama dengan orang tuanya (terutama ibu). Semua ini karena seorang ibu dikaruniai rasa sayang yang besar terhadap anaknya. Perasaan lembutnya sanggup mengalahkan rasa cintanya pada diri pribadinya saat anaknya membutuhkan dirinya. Singkatnya, seorang anak selalu lekat dengan ibunya.

Dalam psikologi, seorang anak adalah makhluk yang tidak suka untuk berpikir keras. Dirinya akan menerima segala macam ilmu pengetahuan dan informasi melalui cerita. Seorang ibu seyogianya bisa bercerita sehingga dirinya mampu mendidik anaknya dengan baik dan diterima dengan senang hati oleh anaknya.

Kendati demikian, menjadi permasalahan yang cukup besar saat sekarang para ibu tidak siap untuk bercerita. Kenyataan ini bukan karena mereka kurang pengetahuan atau sedikit sejarah yang mereka kuasai. Mereka sangat menguasai ilmu pengetahuan termasuk sejarah umum dan keagamaan/lokal. Namun demikian mereka kalah dalam bercerita jika harus bertanding dengan kakek-kakek yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah apalagi bergelar sarjana.

Ketidakbisaan seorang ibu bercerita di hadapan anaknya tak lain dan tak bukan adalah karena minimnya bekal dalam bercerita. Mereka tidak familier terhadap dunia cerita. Para ibu-ibu ini tidak pernah diajari dan mencoba untuk bercerita.

Berakar dari sinilah, menjadi permasalahan yang harus diselesaikan adalah ketidakbisaan seorang ibu bercerita kepada anaknya. Sebagai pendidik pertama kali mereka dituntut menguasai cara bercerita yang baik dan mengena. Jangan sampai anaknya tidak mendapatkan kegembiraan dan pengetahuan karena ibunya tidak pernah bercerita kepadanya. Bercerita adalah salah satu kunci seorang ibu untuk dapat mendidik anaknya sehingga merena menjadi buah hati yang cakap, terang menatap masa depan.

Beragam

Beragam artikel bersebaran di media massa (cetak dan elektronik) tentang teori bercerita. Praktik demi praktik baik yang dialami penulis saat mengajar di sekolah maupun di rumah sebagai seorang ibu, menjadi penguat atas teori-teori yang ada.

Pada dasarnya, cerita, baik yang berbentuk nonfiksi maupun legenda (fiksi) cukuplah simpel. Hal-hal yang mesti dipersiapkan seorang ibu (baca: pencerita) adalah harus memahami terlebih dahulu tentang cerita yang hendak disampaikannya. Selanjutnya pilih materi cerita sesuai dengan kebutuhan dan usia anak.

Usia anak hingga 4 tahun menyukai dongeng fabel dan horror. Pada usia 4 hingga 8 tahun, anak-anak menyukai dongeng jenaka, tokoh pahlawan/hero dan kisah tentang kecerdikan. Selanjutnya, usia 8 hingga 12 tahun, anak-anak menyukai dongeng petualangan fantastis rasional (sage).

Selanjutnya seorang ibu yang bercerita juga perlu mengetahui durasi waktu yang digunakan untuk bercerita. Untuk anak usia 4 tahun, menggunakan waktu cerita hingga 7 menit. Usia 4 hingga 8 tahun menggunakan waktu cerita 10 hingga 15 menit. Sementara bagi anak usia 8 hingga 12 tahun, bisa 25 menit.

Ini didasarkan pada teori dan pengalaman. Teori dan pengalaman bisa juga dimiliki oleh orang lain karena pada dasarnya manusia memiliki banyak kesamaan. Namun begitu, yang menjadi patokan adalah kenyamanan seorang anak dalam mendapatkan pengajaran dari ibunya, utamanya melalui metode bercerita.

__________

Endaryati, seorang ibu rumah tangga dan guru TK Masyitoh Srikoyo, Bleberan, Playen, Gunung Kidul, DIY.

Sumber: http://suaramerdeka.com
Foto: http://mitrabaca.blogspot.com

Dibaca 5.596 kali



Bookmark and Share