Loading
 
Rabu, 13 Desember 2017

Papua - Indonesia
Asal Mula Nama Irian
Buku 366 Cerita Rakyat Nusantara
Rating : Rating 2.7 2.7 (157 pemilih)

Dahulu kala, di Kampung Sopen, Biak Barat tinggal sebuah ke­luarga yang memiliki beberapa anak laki-laki. Salah satu anak tersebut ber­­nama Mananamakrdi. Ia sangat dibenci oleh saudara-saudaranya karena seluruh tubuhnya dipenuhi kudis, sehingga siapa pun tak tahan dengan baunya. Maka, sau­­­­dara-saudaranya selalu meminta Ma­­­na­­namakrdi tidur di luar rumah. Jika Mana­na­­­­makrdi me­lawan, tak segan-segan sau­­­­dara-saudara­­­­­nya akan menendangnya ke­l­u­ar hingga ia merasa kesakitan.

Suatu hari, saudara-saudaranya su­­dah tak tahan dengan bau kudis itu. Maka, Mananamakrdi diusir dari rumah. Dengan langkah gontai, Mananamakrdi berjalan ke arah timur. Sesampai di pantai, diambilnya satu perahu yang tertambat. Diarunginya laut luas hingga ia menemukan sebuah da­rat­an yang tak lain adalah Pulau Miokbudi di Biak Timur.

Ia membuat gubuk kecil di dalam hutan. Setiap hari ia pergi memangkur sagu untuk mencukupi kebutuhan makan­­nya. Selain itu, ia juga membuat tuak dari bunga kelapa. Kebetulan di hutan itu ter­dapat beberapa pohon kelapa yang da­­­­­pat disadapnya. Setiap sore, ia me­­­­­man­jat kelapa, kemudian memotong manggarnya. Di bawah potongan itu di­letakkan ruas bam­bu yang diikat. Hari be­­rikut­nya, ia tinggal mengambil air nira itu kemudian di­buat tuak. Suatu siang, ia amat terkejut, nira di dalam tabungnya telah habis tak ber­­­sisa. Mananamakrdi sangat kesal. Ma­lam itu ia duduk di pelepah daun kela­pa un­­tuk menangkap pencurinya. Hingga la­­­rut malam pencuri itu belum datang. Men­­­je­lang pagi, dari atas langit terlihat sebuah makhluk memancar sangat terang men­dekati pohon kelapa tempat Ma­na­na­makrdi bersembunyi. Makhluk itu ke­mudian me­minum seluruh nira. Saat ia hen­­dak lari, Ma­nanamakrdi berhasil me­nangkap­nya. Makhluk itu meronta-ronta.

“Siapa kamu?” tanya Mananamakrdi.

“Aku Sampan, si bintang pagi yang men­jelang siang. Tolong lepaskan aku, ma­tahari hampir menyingsing,” katanya me­­­­­­mohon.

“Sembuhkan dulu kudisku, dan beri aku seorang istri cantik,” pinta Mana­na­makrdi.

“Sabarlah, di pantai dekat hutan ini tumbuh pohon bitanggur. Jika gadis yang kamu inginkan sedang mandi di pantai, panjatlah pohon bitanggur itu, kemudian lemparkan satu buahnya ke tengah laut. Kelak gadis itu akan menjadi istrimu,” kata Sampan. Mananamakrdi kemudian me­lepaskan Sampan.

Sejak itu setiap sore Mananamakrdi du­duk di bawah pohon bitanggur mem­­per­hatikan gadis-gadis yang mandi. Suatu so­re, dilihatnya seorang gadis cantik man­di seorang diri. Gadis itu tak lain adalah Insoraki, putri kepala suku dari Kampung Meok­bundi. Segera dipanjatnya pohon bi­tang­gur. Kulitnya terasa sakit bergesekan de­ngan pohon bitanggur yang kasar itu. Di­ambilnya satu buah bitanggur, dan di­lemparnya ke laut.

Bitanggur itu terbawa riak air dan me­ngenai tubuh Insoraki hingga ia merasa terganggu. Dilemparnya buah itu ke tengah laut. Namun, buah itu kembali terbawa air dan mengenai Insoraki. Kejadian itu ber­langsung berulang-ulang hingga Inso­raki merasa jengkel. Ia kemudian pulang.

Beberapa hari kemudian, Insoraki ha­mil. Kejadian aneh di pantai ia cerita­kan kepada orangtuanya. Tentu saja orang­tua­nya tak percaya. Beberapa bu­­lan kemu­­di­­an, Insoraki melahirkan se­­orang bayi laki-laki. Saat lahir, bayi itu tak me­nangis, namun ter­tawa-tawa. Bebe­rapa waktu ke­mu­di­an, diadakan pesta pemberian nama. Anak itu diberi nama Konori. Manana­makrdi hadir dalam pesta itu. Saat pesta tari­an berlangsung, tiba-tiba Konori berlari dan menggelendot di kaki Mananamakrdi. “Ayaaah ...,” teriak­nya. Orang-orang ter­kejut. Pesta tarian kemudian terhenti.

Akhirnya, Isoraki dan Mananamakrdi di­nikahkan. Namun, kepala suku dan pen­duduk kampung merasa jijik dengan Ma­nanamakrdi. Mereka pun meninggalkan kampung dengan membawa semua ter­nak dan tanamannya. Jadilah kampung itu sepi. Hanya Mananamakrdi, Insoraki, dan Konori yang tinggal. Suatu hari, Mana­na­makrdi mengumpulkan kayu kering, ke­­mu­­dian membakarnya. Insoraki dan Ko­­no­ri heran. Be­lum hilang rasa heran itu, tiba-tiba Mananamakrdi melompat ke da­lam api. Spontan, Insoraki dan Konori men­­­jerit. Na­mun ajaib, tak lama kemudian Ma­­na­na­makrdi keluar dari api itu dengan tu­buh yang bersih tanpa kudis. Wajahnya sa­­ngat tampan. Anak dan istrinya pun gem­bira. Mananamakrdi kemudian me­nye­but dirinya Masren Koreri yang berarti pria yang suci. Beberapa lama kemudian, Mana­na­makrdi mengheningkan cipta, ma­ka ter­­ben­tuklah sebuah perahu layar. Ia kemu­­­di­an mengajak istri dan anaknya ber­­­layar sampai di Mandori, dekat Manokwari.

Pagi-pagi buta, anaknya bermain pa­­­­sir di pantai. Dilihatnya tanah berbukit-bukit yang amat luas. Semakin lama, ka­­­but tersibak oleh sinar pagi. Tampak pe­­­gu­nung­an yang amat cantik. Tak lama ke­­mu­dian matahari bersinar terang, udara men­jadi panas, dan kabut pun lenyap.

“Ayah ... Irian. Iriaaan,” teriak Konori. Dalam bahasa Biak, irian berarti panas.

“Hai, Anakku, jangan memekik be­gitu. Ini tanah nenek moyangmu,” kata Ma­nanamakrdi.

“Iya, Ayah. Maksud Konori, panas ma­tahari telah menghapus kabut pagi, pe­­man­dangan di sini indah sekali,” kata Konori.

Konon, sejak saat itu wilayah tersebut disebut dengan nama Irian. Air laut yang membiru, pasirnya yang bersih, bukit-bukit yang menghijau, dan  burung cendrawasih yang anggun dan mo­lek membuat Irian begitu indah.

Penulis: Daryatun

 

Dibaca 76.213 kali


Rating :
Silahkan memberikan rating anda terhadap cerita ini.

Komentar untuk ""

edward81 24 Agustus 2015

"Bagus ceritanya"

ebbe 23 Agustus 2015

"Yahh kita hargai saja karya orang"

eugenia 4 Agustus 2015

"Wah.. dongeng yang bagus. Sungguh menarik mulai dari awal hingga akhir😄"

Hans Elang andalas 11 Juli 2015

"Sy sangat menyukai cerita ini, apalagi cerita rakyat dr sabang sampai merauke... bravo NKRI, NKRI harga mati sy bangga menjd orang Indonesia"

Anca Rumbiak 8 Maret 2015

"Nama irian menurut buku yang berJuduL ’Api PerJuangan Pembebasan irian Barat’ irian itu singkatan dari ’I.kut R.epubLik I.ndonesia A.nti N.ederLand’ (I.R.I.A.N)"

Dian Djawa 25 Februari 2015

"Hmmm.......ternyata begitu ya, ceritanya......."

hilmi papua 29 September 2014

"Aku bangga jadi bagian dari masyarakat papua..... eme neme yauware"

Jujur 17 September 2014

"Menurut saya nama suatu daerah itu ada punya arti filosofi tersendiri. Sekarang kita harus menerjemahkan dengan kondisi saat ini. Nama irian atau papua tidak jadi masalah yang penting orang2 yang mendiami pulau atau daerahnya harus tahu bahwa mereka diberi kesempatan untuk hidup dan menjalankan kehidupannya di pulau yang menurut saya misterius, bentuknya menyerupai burung raksasa. Jadi menurut saya pulau ini pulau titisan dari Tuhan Yang Maha Esa untuk Manusia2 Baru. Yang akan berkembang dengan teknologi2 yang sekarang kita gunakan. "

AGUS 4 Juni 2014

"CERITA SANGAT BAGUS DAN MENARIK"

papua 4 Juni 2014

"Nama Irian itu tidak ada, dan yang ada itu Nieuw Guinea, itu ditemukan oleh seorang pelaut spanyol, dalam pelayarannya.
Di Papua..ceritanya sdh agak bagus, tapi kenapa tidak dimasukan cerita dari awal ketika dia menangkap bintang pagi,
Sampai dia harus memetik buah bintanggur dan mneghanyutkan ke laut,
Lalu terkena ke buah dada insoraki..
Ini cerita tentang Mananarmakeri, dan cerita ini tidak ada kaitan
Dengan asal usul nama Irian.

Nama irian itu nama yang diberikan oleh Presiden Soekarno untuk
Menggantikan nama Papua pada saat itu..

Tolong cerita ini harus di lengkapi karna verita ini dari kampung saya jdi.
Salam kenal slalu..Tuhan Yesus Memberkati."

Page

Berikan Komentar Anda

Bookmark and Share