Loading
 
Rabu, 29 Juni 2022

Papua - Indonesia
Asal Mula Nama Irian
Buku 366 Cerita Rakyat Nusantara
Rating : Rating 2.7 2.7 (159 pemilih)

Dahulu kala, di Kampung Sopen, Biak Barat tinggal sebuah ke­luarga yang memiliki beberapa anak laki-laki. Salah satu anak tersebut ber­­nama Mananamakrdi. Ia sangat dibenci oleh saudara-saudaranya karena seluruh tubuhnya dipenuhi kudis, sehingga siapa pun tak tahan dengan baunya. Maka, sau­­­­dara-saudaranya selalu meminta Ma­­­na­­namakrdi tidur di luar rumah. Jika Mana­na­­­­makrdi me­lawan, tak segan-segan sau­­­­dara-saudara­­­­­nya akan menendangnya ke­l­u­ar hingga ia merasa kesakitan.

Suatu hari, saudara-saudaranya su­­dah tak tahan dengan bau kudis itu. Maka, Mananamakrdi diusir dari rumah. Dengan langkah gontai, Mananamakrdi berjalan ke arah timur. Sesampai di pantai, diambilnya satu perahu yang tertambat. Diarunginya laut luas hingga ia menemukan sebuah da­rat­an yang tak lain adalah Pulau Miokbudi di Biak Timur.

Ia membuat gubuk kecil di dalam hutan. Setiap hari ia pergi memangkur sagu untuk mencukupi kebutuhan makan­­nya. Selain itu, ia juga membuat tuak dari bunga kelapa. Kebetulan di hutan itu ter­dapat beberapa pohon kelapa yang da­­­­­pat disadapnya. Setiap sore, ia me­­­­­man­jat kelapa, kemudian memotong manggarnya. Di bawah potongan itu di­letakkan ruas bam­bu yang diikat. Hari be­­rikut­nya, ia tinggal mengambil air nira itu kemudian di­buat tuak. Suatu siang, ia amat terkejut, nira di dalam tabungnya telah habis tak ber­­­sisa. Mananamakrdi sangat kesal. Ma­lam itu ia duduk di pelepah daun kela­pa un­­tuk menangkap pencurinya. Hingga la­­­rut malam pencuri itu belum datang. Men­­­je­lang pagi, dari atas langit terlihat sebuah makhluk memancar sangat terang men­dekati pohon kelapa tempat Ma­na­na­makrdi bersembunyi. Makhluk itu ke­mudian me­minum seluruh nira. Saat ia hen­­dak lari, Ma­nanamakrdi berhasil me­nangkap­nya. Makhluk itu meronta-ronta.

“Siapa kamu?” tanya Mananamakrdi.

“Aku Sampan, si bintang pagi yang men­jelang siang. Tolong lepaskan aku, ma­tahari hampir menyingsing,” katanya me­­­­­­mohon.

“Sembuhkan dulu kudisku, dan beri aku seorang istri cantik,” pinta Mana­na­makrdi.

“Sabarlah, di pantai dekat hutan ini tumbuh pohon bitanggur. Jika gadis yang kamu inginkan sedang mandi di pantai, panjatlah pohon bitanggur itu, kemudian lemparkan satu buahnya ke tengah laut. Kelak gadis itu akan menjadi istrimu,” kata Sampan. Mananamakrdi kemudian me­lepaskan Sampan.

Sejak itu setiap sore Mananamakrdi du­duk di bawah pohon bitanggur mem­­per­hatikan gadis-gadis yang mandi. Suatu so­re, dilihatnya seorang gadis cantik man­di seorang diri. Gadis itu tak lain adalah Insoraki, putri kepala suku dari Kampung Meok­bundi. Segera dipanjatnya pohon bi­tang­gur. Kulitnya terasa sakit bergesekan de­ngan pohon bitanggur yang kasar itu. Di­ambilnya satu buah bitanggur, dan di­lemparnya ke laut.

Bitanggur itu terbawa riak air dan me­ngenai tubuh Insoraki hingga ia merasa terganggu. Dilemparnya buah itu ke tengah laut. Namun, buah itu kembali terbawa air dan mengenai Insoraki. Kejadian itu ber­langsung berulang-ulang hingga Inso­raki merasa jengkel. Ia kemudian pulang.

Beberapa hari kemudian, Insoraki ha­mil. Kejadian aneh di pantai ia cerita­kan kepada orangtuanya. Tentu saja orang­tua­nya tak percaya. Beberapa bu­­lan kemu­­di­­an, Insoraki melahirkan se­­orang bayi laki-laki. Saat lahir, bayi itu tak me­nangis, namun ter­tawa-tawa. Bebe­rapa waktu ke­mu­di­an, diadakan pesta pemberian nama. Anak itu diberi nama Konori. Manana­makrdi hadir dalam pesta itu. Saat pesta tari­an berlangsung, tiba-tiba Konori berlari dan menggelendot di kaki Mananamakrdi. “Ayaaah ...,” teriak­nya. Orang-orang ter­kejut. Pesta tarian kemudian terhenti.

Akhirnya, Isoraki dan Mananamakrdi di­nikahkan. Namun, kepala suku dan pen­duduk kampung merasa jijik dengan Ma­nanamakrdi. Mereka pun meninggalkan kampung dengan membawa semua ter­nak dan tanamannya. Jadilah kampung itu sepi. Hanya Mananamakrdi, Insoraki, dan Konori yang tinggal. Suatu hari, Mana­na­makrdi mengumpulkan kayu kering, ke­­mu­­dian membakarnya. Insoraki dan Ko­­no­ri heran. Be­lum hilang rasa heran itu, tiba-tiba Mananamakrdi melompat ke da­lam api. Spontan, Insoraki dan Konori men­­­jerit. Na­mun ajaib, tak lama kemudian Ma­­na­na­makrdi keluar dari api itu dengan tu­buh yang bersih tanpa kudis. Wajahnya sa­­ngat tampan. Anak dan istrinya pun gem­bira. Mananamakrdi kemudian me­nye­but dirinya Masren Koreri yang berarti pria yang suci. Beberapa lama kemudian, Mana­na­makrdi mengheningkan cipta, ma­ka ter­­ben­tuklah sebuah perahu layar. Ia kemu­­­di­an mengajak istri dan anaknya ber­­­layar sampai di Mandori, dekat Manokwari.

Pagi-pagi buta, anaknya bermain pa­­­­sir di pantai. Dilihatnya tanah berbukit-bukit yang amat luas. Semakin lama, ka­­­but tersibak oleh sinar pagi. Tampak pe­­­gu­nung­an yang amat cantik. Tak lama ke­­mu­dian matahari bersinar terang, udara men­jadi panas, dan kabut pun lenyap.

“Ayah ... Irian. Iriaaan,” teriak Konori. Dalam bahasa Biak, irian berarti panas.

“Hai, Anakku, jangan memekik be­gitu. Ini tanah nenek moyangmu,” kata Ma­nanamakrdi.

“Iya, Ayah. Maksud Konori, panas ma­tahari telah menghapus kabut pagi, pe­­man­dangan di sini indah sekali,” kata Konori.

Konon, sejak saat itu wilayah tersebut disebut dengan nama Irian. Air laut yang membiru, pasirnya yang bersih, bukit-bukit yang menghijau, dan  burung cendrawasih yang anggun dan mo­lek membuat Irian begitu indah.

Penulis: Daryatun

 

Dibaca 88.054 kali


Rating :
Silahkan memberikan rating anda terhadap cerita ini.

Komentar untuk ""

gue anak cantik 19 Juli 2011

"Ya lumayan bagus sih!!!!! dan gue cuma bisa acung jempol satu aja, tapi sebenarnya ini tuh salah ceritanya, cuman namanya juga dongeng ya pastinya bo’onganlah.....
"

Rumbiak 15 Juni 2011

"Ah namanya bukan Mananamakrdi tapi namanya Manarmaker itu nama Rajanya orang Biak. Saya tidak tahu nama Irian yang diberikan Ir.Soekarno itu singkatan dari Ikut Indonesia Raya Anti Netherland, yang saya tahu kata Iriani itu kalau bahasa biak artinya matahari terbit."

theresia ayomi 21 April 2011

"Cerita ini sama sekali SALAH.... IRIAN itu nama yg diberikan suharto kalau tdk slah atw soeharto..... kisah ini sebenarnya adalah kisah bagaimana YESUS menampakan diri bagi orang papua jauh sebelum injil masuk... law maw tahu cerita yg sebenarnya ntar biar saya tuliskan di bloger Q.... di www.destyayomi.blogspot.com....
salam damai,,,"

muadz jabbar ahmad 4 Maret 2011

"Itu namanya asal nama irian
"

Admin 9 Februari 2011

"Kepada Adik Farida Fransisca@ Bukannya kami tidak mengizinkan, tapi akan lebih baik jika Dik Farida lebih kreatif dengan menceritakan ulang saja cerita ini. Jika, para dewan yuri mengetahui bahwa cerita yg Adik lombakan menciplak dari dr web ini, Adik tentu tidak akan jadi juara. Jadi, kami sarankan, lebih baik Adik Farida tidak menggunakan cerita ini, kecuali kalau menceritakannya ulang. Terima kasih... "

Farida Fransisca Sihotang 8 Februari 2011

"Cyalom, kak. maaf mengganggu,ya kak, boleh minta izin tidak pakai cerita kakak, untuk lomba kontes berbahasa Indonesia?
terima kasih banyak, ditungu balasannya, ya kak. Tuhan memberkati, kakak sekeluarga.amin.
"

perky leirrisa 23 Oktober 2010

"bagus critanya.. baru kali ini baca tentang papua.."

fajarudin 22 Agustus 2010

"okelah.. buat nambah2 cerita...hahahahahaha"

Said.muhammad.faros.ghalib.alaydrus 3 Agustus 2010

"hmmm... good2 sep!! tpy pohon bitanggur pohon yg gmna ya??? mohon di jawab, klo bisa kasih gambar nya kwkwkw^^"

Wamla 15 Juni 2010

"Wahhh..... cerita ini kurang betul. Cerita yang sebenarnya berjudul KORERI, dan nama Mananamakrdi salah, yang seharusnya namanya Manarmakeri, coba cek judul buku Koreri karangan Kamma... Terimaksih. Salam dari Papua"

Page

Berikan Komentar Anda

Bookmark and Share