Loading
 
Kamis, 2 Oktober 2014

Beranda   » Cerita Rakyat Nusantara » Murtado Macan Kemayoran

Murtado Macan Kemayoran

DKI Jakarta - Indonesia
Murtado Macan Kemayoran
Buku 366 Cerita Rakyat Nusantara
Rating : Rating 2.6 2.6 (113 pemilih)

Pada zaman penjajahan Belanda, di daerah Kemayoran tinggal se­orang pemuda bernama Murtado. Ayah­nya adalah anak mantan lurah di dae­rah tersebut. Murtado adalah anak yang baik. Ia suka menolong orang yang mem­bu­tuh­­kannya. Maka Murtado disenangi oleh pen­­­du­duk di kampung tersebut. Selain itu, ia te­kun menuntut ilmu, baik ilmu agama mau­­pun ilmu pengetahuan lainnya. Tak ke­tinggal­an, ilmu bela diri juga dipelajarinya hing­ga ia menjadi seorang jagoan yang rendah hati.

Pada waktu itu, keadaan masyarakat di daerah Kemayoran tidak tenteram. Pen­duduk selalu diliputi rasa ketakutan akibat gang­guan dari jagoan-jagoan Kemayoran yang ber­watak jahat. Belum lagi pajak yang di­tarik oleh Belanda dan Cina sangat mem­­berat­kan. Padahal, sebagian besar pen­duduk adalah petani miskin dan pe­da­gang kecil-kecilan.

Sebenarnya daerah itu dipimpin oleh orang pribumi yang bernama Bek Lihun dan Mandor Bacan. Namun keduanya te­lah menjadi kaki tangan Belanda se­hingga mereka sangat kejam dan hanya me­mikir­kan keuntungan pribadinya saja.

Pada suatu hari, di kampung Kema­yoran diadakan derapan padi. Acara itu boleh dilaksanakan dengan syarat se­tiap lima ikat padi yang dipotong, satu ikat adalah untuk yang memotong, sedangkan yang empat ikat untuk kompeni. Mandor Bacan ditunjuk mengawasi jalannya upacara itu.

Dalam upacara itu, ada seorang ga­dis cantik ikut memotong padi. Murtado pun tak ketinggalan ikut di samping gadis ter­sebut. Mereka rupanya sudah lama men­jalin kasih. Tiba-tiba Mandor Bacan me­lihat ke arah gadis itu dan berniat kurang ajar. Niat itu berhasil digagalkan Murtado. Ru­pa­nya Mandor Bacan tidak terima. Lalu terjadi­lah perkelahian. Dalam perkelahian itu Mur­tado memperlihatkan ketinggian ilmu beladirinya, sehingga Mandor Bacan da­pat dikalahkan dan lari terbirit-birit me­ninggalkan tempat itu kemudian melapor kepada Bek Lihun.

Mendengar laporan mandornya, Bek Lihun menjadi marah. Berbagai upaya di­lakukan untuk membunuh Murtado. Na­mun semua upaya itu dapat digagalkan Murtado. Sampai suatu hari, Bek Lihun mencoba mencelakai kekasih Murtado. Maka hilang­lah kesabaran Murtado. Di­ten­dang dan di­ha­jar­nya Bek Lihun hingga babak belur. Akhir­nya Bek Lihun minta ampun dan berjanji tidak akan melakukannya lagi. Se­telah kejadian-kejadian itu, maka mulai insyaflah Bek Lihun. Dia mulai menghargai Murtado.

Ketika itu beberapa gerombolan pe­rampok di bawah pimpinan Warsa mulai mengganas di Kemayoran. Setiap malam me­reka merampas harta benda penduduk. Kadang-kadang juga melakukan pem­bu­nuh­an. Menghadapi hal ini Bek Lihun me­rasa kewalahan. Bahkan ia berkali-kali men­­­­­­­­da­pat teguran dari kompeni karena tidak dapat me­njaga keamanan di kam­pung­­nya se­hingga pajak-pajak untuk kom­pe­ni tidak berjalan lancar.

Bek Lihun akhirnya meminta bantuan kepada Murtado. Murtado yang menyadari bah­­wa ia juga bertanggung jawab atas ke­­a­man­an kampung tersebut menyetujui per­­mohonan Bek Lihun. Bersama dua orang teman­nya yang bernama Saomin dan Sar­pin, Murtado mencari markas perampok itu di daerah Tambun dan Bekasi, tetapi tidak ditemu­kan. Kemudian mereka pergi ke dae­rah Kerawang. Di sana ge­rombol­an Warsa dapat dikalahkan. Warsa sen­diri mati da­lam perkelahian itu. Oleh Murtado dan teman-temannya semua ha­sil rampok­an gerombol­an itu diambil dan di­bawa kem­bali ke Ke­­ma­yoran. Kemudian di­kembali­kan lagi ke­pa­da pemiliknya masing-masing. Semua rakyat di daerah Ke­ma­yo­ran berterima kasih dan merasa ber­­hutang budi kepada Murtado.

Penguasa Belanda pun sangat meng­­­har­gai jasa-jasa Murtado. Mereka ingin men­g­­­ang­katnya menjadi bek di dae­­rah Ke­­­­­­ma­­­yo­r­an menggantikan Bek Lihun. Tetapi ta­­war­an Belanda ini ditolak Mur­tado, kare­na dia tidak ingin menjadi alat peme­rin­tah jajahan. “Lebih baik hidup sebagai rakyat biasa tetapi ikut menjaga keamanan rak­yat,” gumamnya. Murtado pun aktif ber­­­juang untuk membebaskan rakyat dari ceng­­­­­­­keraman penjajahan, penindasan, dan pemerasan.

Bek: kepala kampung.

Derapan padi:  panen/memotong padi.

Penulis: Daryatun

 

Dibaca 42.359 kali


Rating :
Silahkan memberikan rating anda terhadap cerita ini.

Komentar untuk "Murtado Macan Kemayoran"

Yunike Dewi Putri 12 September 2014

"Ceritanya sangat menganggumkan bangettt....❤️😍🍷😇👍😢"

dd 9 September 2014

"Wowwwwwwwwwwww.."

adisty 2 September 2014

"Keren..."

Uban kasihan bangt 28 Juli 2014

"Terima kasih terima kasih:........ (y)"

Lem fox 2 Juni 2014

"Yg namanya macan kemayoran tuh orangnya rendah hati wlopn beliau seorang jagoan, maka qt sbg penerusnye hrs mencontoh sifat kerendahan hatinye, bukannye qt malah jd sok jagoan dan membawakan nama macan kemayoran sbg dalih sprt yg sering terjdi di kalangan anak muda sekarang ni?!"

jembo biang kerox 20 Mei 2014

"Jawara yg rendah hati, patut dicontoh ni untuk abang-abang kite di kemayoran
SaLam biang kerox
"

timoti 21 November 2012

"bagus ceritanya "

albert cllalu 8 Oktober 2012

"bgus stujuuuu.... kalau bisa ada dialognya."

aynii 31 Agustus 2012

"terlalu singkat!!"

ady s 2 Agustus 2012

"inilah jagoan dari tanah kelahiran aye"

Page

Berikan Komentar Anda

Bookmark and Share