Loading
 
Kamis, 2 Oktober 2014

Beranda   » Cerita Rakyat Nusantara » Asal Mula Nama Melaka

Asal Mula Nama Melaka

Melaka - Malaysia
Asal Mula Nama Melaka
Rating : Rating 2.4 2.4 (21 pemilih)

Melaka merupakan salah satu kota yang terletak di sebelah selatan Kuala Lumpur, Malaysia. Kota ini memiliki banyak catatan sejarah, sehingga masyarakat setempat menyebutnya Melaka Bandaraya Bersejarah. Dalam buku “The Malay Annals” karangan Tun Sri Lanang pada tahun 1565 disebutkan bahwa dahulu kota ini bernama Sungai Bertam yang didiami oleh orang-orang Seletar. Suatu waktu, kawasan mereka kedatangan seorang bangsawan bernama Parameswara beserta para pengikutnya. Parameswara adalah seorang raja yang melarikan diri dari kerajaan Palembang, karena diserang oleh Raja Jawa, Batara Tamavill, sewaktu ia mengukuhkan dirinya sebagai Mjeura.[1]

Menurut Tan Sri Lanang, sebelum Parameswara sampai di Sungai Bertam, ia bersama pengikutnya melarikan diri ke Singapura. Namun karena membunuh wakil Raja Siam, Tamagi, ia pun diserang dan diusir oleh pihak Siam. Kemudian ia bersama seribu pengikutnya melarikan diri ke arah pantai barat Semenanjung[2] Melayu untuk mencari tempat perlindungan. Hingga akhirnya mereka tiba di Sungai Bertam dan menetap di sana. Orang-orang Seletar yang mendiami kawasan tersebut kemudian meminta Parameswara menjadi raja. Setelah beberapa lama menjadi raja, Parameswara yang sebelumnya beragama Hindu kemudian memeluk agama Islam dan mengganti namanya menjadi Muhammad Iskandar Syah (sekitar tahun 1406).

Suatu ketika, Raja Iskandar Syah pergi berburu ke hutan. Dalam perburuan tersebut, ia menyaksikan suatu peritiwa yang sangat berkesan di hatinya, sehingga ia mengubah nama Sungai Bertam menjadi Melaka. Peristiwa apa sebenarnya yang disaksikan oleh Raja Iskandar Syah, sehingga ia mengubah nama daerah tersebut? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita rakyat Asal Mula Nama Melaka berikut ini!

* * *

Alkisah, di sebuah kawasan yang kini disebut Malaysia, berdiri sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang terkenal arif dan bijaksana, Muhammad Iskandar Syah namanya. Raja yang memiliki hobi berburu binatang tersebut, sangat mahir memanah dan melempar lembing. Selain itu, ia memiliki kepekaan yang sangat tajam, sehingga mampu mendeteksi jejak atau keberadaan binatang-binatang buruan yang berkeliaran di tengah hutan. Setiap kali pergi berburu, Raja Iskandar ditemani beberapa ekor anjing kesayangannya yang sangat lincah dan tangkas dalam menangkap binatang buruan.

Pada suatu hari, Raja Iskandar Syah bersama beberapa pengawalnya pergi berburu di sebuah hutan. Sesampainya di tengah hutan, Raja Iskandar Syah duduk bersila dan memejamkan matanya dengan penuh konsentrasi untuk mendeteksi keberadaan binatang buruan. Sesaat kemudian, tampak telinga Baginda Raja bergerak-gerak sebagai tanda bahwa ia telah mengetahui keberadaan binatang itu. Setelah itu, ia membuka matanya pelan-pelan.

“Wahai, pengawal! Lepaskan semua anjing pemburu itu!” titah Raja Iskandar Syah.

“Baik, Baginda!” jawab para pengawal serentak.

Setelah itu, Raja Iskandar memerintahkan anjing-anjing tersebut untuk memburu binatang buruan yang berkeliaran di tepi Sungai Bertam, yang berada tidak jauh di hadapan mereka. Sambil menggonggong, anjing-anjing tersebut berlari dengan kencang menuju ke arah tepi sungai. Raja Iskandar dan para pengawalnya mengikuti anjing-anjing tersebut dengan senjata terhunus. Raja Iskandar membawa panah sakti, sedangkan para pengawalnya membawa lembing dan tombak.

Sesampainya di tepi sungai, tampaklah puluhan ekor pelanduk[3] dan kijang yang sedang merumput. Anjing-anjing tersebut segera memburu mangsa mereka sambil menggonggong. Raja Iskandar yang baru juga tiba di tempat itu tidak tinggal diam, ia segera mengangkat panahnya. Dengan pelan-pelan, ia menarik anak panah dari busurnya dan mengarahkannya kepada seekor kijang, lalu melepaskannya. Apa yang terjadi? Ternyata tembakannya dapat dihindari oleh kijang yang sangat lincah itu. Ia kemudian mengambil lagi sebuah anak panah, lalu menembakkannya ke arah kijang itu. Namun, lagi-lagi tembakannya meleset. Beberapa kali Raja Iskandar Syah melepaskan anak panah, tapi tetap saja tidak mengenai sasaran. Demikian pula para pengawalnya, belum ada satu pun yang berhasil mendapatkan binatang buruan.

“Binatang di hutan ini sungguh tangkas dan cerdik,” kata sang Raja dengan perasaan kagum.

“Benar, Baginda! Mereka sangat lincah dan pandai menghindar,” kata seorang pengawal mengakui kehebatan binatang-binatang tersebut.

Setelah kelelahan berkelit dan melompat ke sana - ke mari menghindari serangan, binatang buruan tersebut kemudian berlarian masuk ke dalam semak-semak. Raja Iskandar Syah dan para pengawalnya berusaha mengejar, namun binatang tersebut sudah menghilang di balik semak-semak.

Sementara itu, dari arah tebing sungai terdengar suara anjing menggonggong dengan keras.

“Wahai, pengawal! Apakah kalian mendengar suara gonggongan anjing dari arah tebing sungai itu?” tanya sang Raja.

“Iya, Baginda! Sepertinya anjing-anjing tersebut sedang memburu binatang,” jawab seorang pengawal.

“Kalau begitu, ayo kita ke sana!” seru Raja Iskandar mengajak pengawalnya.

“Siap, Baginda!” jawab pengawal serentak sambil membawa senjata mereka masing-masing.

Sesampainya di tempat itu, mereka melihat seekor pelanduk putih yang cantik sedang dikeroyok oleh beberapa anjing pemburu. Dengan gesitnya, si Pelanduk melompat
ke sana – ke mari menghindari terkaman anjing galak tersebut.

“Selincah apa pun kamu berkelit, anak panahku ini akan menembus tubuhmu!” gumam Raja Iskandar dengan penuh keyakinan.

Pada saat Raja Iskandar hendak melepaskan anak panahnya, ia melihat pelanduk cantik itu melompat-lompat bagaikan orang sedang memperagakan jurus-jurus silat yang sangat indah. Ia sangat kagum melihat kelincahan pelanduk itu. Anak panah yang sudah siap di tangan, tidak jadi ia lepaskan. Ia dan pengawalnya hanya berdiri tertegun menyaksikan pelanduk itu melompat-lompat dengan indahnya.

Anjing-anjing tersebut terus menyerang, sementara si pelanduk terus menghindar. Pada saat yang tepat, seekor anjing mencoba menerkam si Pelanduk. Terkamannya tepat pada sasaran, namun si Pelanduk lebih lincah lagi berkelit. Sambil melompat tinggi, ia menekuk kedua kaki belakangnya. Ketika kedua kaki depannya mendarat di tanah, ia menendangkan kedua kaki belakangnya. Tendangannya tepat mengenahi kepala anjing itu, sehingga terlempar masuk ke dalam sungai. Pada saat anjing itu berusaha berenang ke tepian untuk kembali menyerang, si Pelanduk segera melarikan diri masuk ke dalam semak-semak.

Raja Iskandar sangat terkesan dengan peristiwa yang baru saja ia saksikan.

“Luar biasa kelincahan pelanduk itu! Sudah lama aku berburu, baru kali ini tidak mendapatkan seekor pun binatang buruan,” ungkap Raja Iskandar Syah dengan perasaan kecewa.

Sebelum meninggalkan hutan itu, Raja Iskandar Syah dan para pengawalnya memutuskan untuk beristrahat sejenak untuk melepaskan lelah setelah seharian berburu. Raja Iskandar Syah kemudian duduk bersandar di bawah sebuah pohon yang rindang dan halus daunnya. Peristiwa mengesankan yang baru saja disaksikannya terus terbayang dalam pikirannya. Sambil beristirahat, Raja Iskandar Syah menyuruh para pengawalnya yang hadir di tempat itu untuk bermusyawarah.

“Binatang-binatang di hutan ini sungguh cerdik dan berani. Bagaimana kalau tempat ini kita jadikan negeri?” tanya Raja Iskandar.

“Ampun, Baginda! Bukankah kita sudah memiliki negeri?” tanya salah seorang pengawal menyanggah.

“Betul, pengawal! Akan tetapi, tempat ini sangat baik untuk dijadikan negeri. Selain banyak binatang buruan, kawasan ini sangat subur,” tegas Raja Iskandar.

“Lalu, bagaimana dengan negeri kita yang berada di sana?” tanya seorang pengawal lainnya.

“Kita tinggalkan saja. Pusat pemerintahan kita pindahkan ke tempat ini,” jawab sang Raja.

“Bagaimana pendapat kalian? Apakah kalian setuju dengan pendapat saya” Raja Iskandar balik bertanya kepada para pengawalnya.

“Setuju, Baginda!” sahut para pengawalnya serentak.

“Tapi..., hendak diberi nama apa tempat ini?” tanya Raja Iskandar bingung.

Mendengar pertanyaan sang Raja, seluruh pengawal terdiam. Sejenak suasana menjadi hening. Tak seorang pun di antara mereka yang memberikan usulan tentang nama yang cocok untuk tempat itu. Di tengah keheningan itu, Raja Iskandar tiba-tiba bertanya kepada para pengawalnya.

“Apa nama pohon tempat saya bersandar ini?”

“Pohon Melaka, Baginda!” jawab salah seorang pengawal yang mengerti nama pohon itu.

“Melaka..., Melaka..., Melaka...,” Raja Iskandar mengucapkan kata itu hingga berkali-kali.

“Waaah... nama yang bagus! Kalau begitu, tempat ini kita beri nama Melaka,” kata Raja Iskandar kepada pengawalnya.

Mendengar keputusan sang Raja, para pengawal mengangguk-anggukan kepala sebagai tanda setuju. Setelah itu, dibukalah sebuah negeri bernama Melaka yang dipimpin oleh Raja Muhammad Iskandar Syah, sebagai raja pertama Melaka. Di bawah perintahnya, seluruh rakyat hidup rukun, damai dan sejahtera.

* * *

Demikian cerita Asal Mula Nama Melaka dari Negeri Jiran, Malaysia. Cerita di atas termasuk cerita rakyat teladan yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah keutamaan musyawarah untuk mufakat. Sifat ini tercermin pada sikap Raja Iskandar Syah yang telah mengajak para pengawalnya untuk memusyawarahkan tentang pembukaan sebuah negeri. Sifat ini termasuk sifat terpuji dan sangat diutamakan dalam kehidupan orang-orang Melayu. Keutamaan sifat ini dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu berikut ini:

apa tanda Melayu beradat,
berunding tidak memilih tempat

wahai ananda ingatlah pesan,
duduk musyawarah engkat utamakan
di situlah kebenaran engkau dirikan
di sana keadilan engkau tegakkan

(SM/sas/58/01-08)

Sumber:

  • Isi cerita diadaptasi dari Puteh, Othman dan Aripin Said. 2004. Himpunan 366 Cerita Rakyat Malaysia. Kuala Lumpur: PRIN-AD SDN. BHD.
  • Anonim. “Kesultanan Melaka: Parameswara”, (http://ms.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Melaka#Parameswara, diakses tanggal 17 Januari 2008).
  • Anonim. “Melaka”, (http://ms.wikipedia.org/wiki/Melaka, diakses tanggal 17 Januari 2008).
  • Anonim. “Semenanjung”, (http://ms.wikipedia.org/wiki/Semenanjung, diakses tanggal 17 Januari 2008).
  • Effendy, Tenas. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan AdiCita Karya Nusa
Kredit foto : Buku 366 Cerita Rakyat Malaysia

[1] Mjeure artinya orang pemberani.

[2] Semenanjung adalah tanah atau daratan yang menjulur ke laut, di mana bagian pangkalnya yang bersambung dengan tanah besar berukuran sempit.

[3] Pelanduk atau kancil (tragulus javaicus) adalah jenis hewan menyusui (mamalia) sebangsa kijang yang kecil tubuhnya.

Dibaca 14.025 kali


Rating :
Silahkan memberikan rating anda terhadap cerita ini.

Komentar untuk "Asal Mula Nama Melaka"

aqim 21 Agustus 2012

"Baru tw awak cerite nye, ternyate begian cerite nye. Bagus
"

Berikan Komentar Anda

Bookmark and Share