Loading
 
Minggu, 20 Agustus 2017

Maluku - Indonesia
Legenda Tanifal di Pulau Buru
Legenda Tanifal di Pulau Buru
Rating : Rating 1.7 1.7 (15 pemilih)

Diceritakan kembali oleh Samsuni

Tanifal dalam bahasa Maluku berarti sebidang daratan berpasir putih halus. Menurut cerita masyarakat setempat, Tanifal yang terletak di sekitar Pantai Tifu atau Pulau Buru tersebut merupakan penjelmaan sepasang burung garuda raksasa. Apa yang menyebabkan sepasang burung garuda raksasa tersebut menjelma menjadi Tanifal? Ikuti kisahnya dalam cerita Legenda Tanifal di Palau Buru berikut ini!

* * *

Alkisah, di Pulau Buru, Maluku, tersebutlah sebuah negeri bernama Tifu. Tidak jauh dari negeri ini terdapat sebuah gunung bernama Gunung Garuda. Bila dipandang dari pantai Tifu, gunung itu tampak berwarna kemerah-merahan. Di lereng gunung itu terdapat dua buah liang batu yang letaknya agak berjauhan. Kedua liang batu tersebut masing-masing dihuni oleh seekor burung elang jantan dan seekor elang betina. Kedua burung elang tersebut merupakan burung elang terbesar di Pulau Buru. Jika burung elang raksasa ini sedang mengembangkan sayapnya di angkasa, hampir sebagian Negeri Tifu menjadi gelap akibat tertutupi bayangannya.

Burung elang rakasa tersebut termasuk burung paling ganas di antara burung pemangsa lainnya. Kukunya sangat runcing untuk menerkam dan mencengkram mangsa, serta memiliki keterampilan dan kecepatan yang tinggi dalam melumpuhkan mangsa. Burung elang rakasa itu juga memiliki bulu yang rapat dan tungkai yang bersisik tebal untuk melindungi tubuhnya dari sengatan binatang yang dimangsanya. Keistimewaan lain yang dimiliki burung ini adalah kepala dan matanya besar serta daya penglihatannya sangat tajam untuk memburu mangsa dari jarak jauh sehingga tak satu pun mangsa yang bisa lolos dari pengamatannya. Burung elang rakasa itu juga memiliki kecepatan untuk terbang melayang tinggi ke angkasa. Ia juga mempunyai sistem pernafasan yang baik dan mampu membekali dirinya dengan oksigen yang banyak sehingga dapat terbang sepanjang hari di angkasa.

Sepasang burung elang tersebut biasanya terbang mencari mangsa pada siang hari, sedangkan pada malam hari mereka beristirahat di sarangnya masing-masing Burung elang betina lebih giat mencari mangsa dibandingkan dengan burung elang jantan. Jenis binatang yang biasa menjadi sasarannya adalah hewan mamalia kecil seperti tikus, tupai, dan ayam. Terkadang pula ikan dan udang menjadi mangsanya. Jika mereka tidak mendapat mangsa binatang atau hewan, manusia pun bisa menjadi sasarannya. Meski demikian, mereka tidak mau memangsa manusia yang berada di sekitar tempat tinggalnya. Oleh karena itu, mereka selalu terbang jauh untuk mencari mangsa.

Kedua burung elang rakasa tersebut, terutama si elang betina, sering mengincar penumpang kapal yang melintas di perairan sekitar Pulau Buru. Jika melihat ada kapal yang melintas, elang betina dengan cepat terbang menuju ke kapal tersebut untuk menangkap para penumpangnya dan membawa mereka ke sarangnya. Sebagian mangsa tersebut langsung disantap dan sebagian yang lain disimpan selama beberapa hari sambil menunggu kedatangan kapal berikutnya. Manusia yang sering menjadi korbannya adalah pelaut-pelaut Cina yang melintas di daerah itu.

Berita tentang keganasan burung elang itu pun tersebar ke seluruh penjuru Negeri Cina. Sekelompok nelayan yang mendengar berita tersebut bermaksud untuk menumpas keganasan kedua burung elang raksasa tersebut. Mereka akan menghadapi kedua elang itu dengan besi runcing atau tombak besi sepanjang tiga meter. Saat berada di perairan Tifu, mereka akan memanaskan ujung besi runcing itu hingga merah membara sebelum menusukkannya ke tubuh burung elang tersebut.

Setelah semuanya siap, berangkatlah rombongan nelayan Cina itu ke perairan Tifu dengan menggunakan kapal. Setelah berhari-hari berlayar, akhirnya mereka pun tiba di perairan Buru Selatan. Nahkoda kapal segera memerintahkan seluruh awak kapal yang jumlahnya puluhan lebih untuk bersiaga.

“Pasukan, siapkan senjata kalian!” seru sang nahkoda kapal, “Sebentar lagi burung elang raksasa itu datang untuk menangkap kita.”

“Baik, Tuan,” jawab seluruh awak kapal serentak.

Para awak kapal segera mengambil senjata masing-masing lalu berkumpul di geladak kapal sambil memanaskan ujung tombak besi mereka. Tak berapa lama kemudian, ujung tombak besi itu berubah menjadi merah membara dan siap untuk digunakan. Bersamaan dengan itu, kedua burung elang rakasa itu pun datang untuk memangsa mereka. Namun, sebelum keduanya mencengkramkan cakar-cakarnya yang tajam ke tubuh mereka, para awak kapal segera menancapkan tombak besinya ke tubuh kedua burung elang tersebut. Tak ayal, sepasang burung elang raksasa itu langsung mengerang kesakitan.

“Koaaak… Koaaak… Koaaak…!!!”

Meskipun terluka parah dengan tombak besi menancap hampir di seluruh tubuhnya, kedua burung elang raksasa itu berusaha terbang ke sarangnya dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki. Namun belum sampai di sarangnya, mereka telah kehabisan darah hingga akhirnya jatuh dan tewas di pantai Tifa. Setelah memastikan keduanya telah mati, rombongan pelaut Cina tersebut segera meninggalkan itu dan kembali ke negerinya.

Sementara itu, bangkai kedua burung elang raksasa itu dibiarkan tergeletak di pantai Tifu. Lama-kelamaan bangkai itu kemudian berubah menjadi Tanifal, yaitu sebidang daratan berpasir putih dan halus. Tanifal itu dikelilingi oleh air laut dan hanya tampak ketika air laut sedang surut.

Menurut cerita masyarakat setempat, kedua bola dari salah satu dari burung elang itu terlepas dan kemudian berubah menjadi dua buah batu besar. Lama-kelamaan, kedua batu besar yang ditumbuhi rerumputan itu membentuk dua pulau kecil yang indah.

Hingga saat ini masyarakat setempat juga mempercayai bahwa di daerah tersebut masih terdapat burung goheba atau burung elang yang dianggap sebagai keturunan dari kedua burung elang raksasa itu. Bahkan, burung goheba itu menjadi salah satu tanda bagi para nelayan untuk mengetahui tempat berkumpulnya kawanan ikan di suatu tempat. Jika goheba itu beterbangan dan mondar-mandir mengelilingi Negeri Tifu atau Pulau Buru sambil berbunyi “Koaaak… Koaaak…” maka hal itu merupakan pertanda bahwa di tempat itu terdapat kawanan ikan yang sedang berkumpul.

* * *

Demikian cerita Legenda Tanifal di Pulau Buru dari daerah Provinsi Maluku. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita legenda di atas adalah bahwa dengan usaha dan kerja sama yang baik, maka segala rintangan dan gangguan dapat diatasi dengan mudah, sebagaimana yang dilakukan oleh sekelompok nelayan dari Negeri Cina. Berkat usaha dan kerja sama yang baik, mereka berhasil menumpas keganasan kedua burung elang raksasa tersebut sehingga para nelayan dapat lalu-lalang di perairan Tifu tanpa dihantui oleh perasaan takut.

(Samsuni/sas/217/12-10)

Dibaca 20.333 kali


Rating :
Silahkan memberikan rating anda terhadap cerita ini.

Komentar untuk ""

Bewe 22 Desember 2015

"1 tahun saya tinggal di Buru, yang sangat saya rasakan adlah hasil pertaniannya yg berlimpah."

Muchtar m sani 20 Juli 2015

"Saya orang p.buru. Saya baru tau legenda pulau ini setelah baca crita ini. Tpi msih ada aja orang bnyak blng kalo p.buru itu tempt yg paling menyeramkan"

Alfaridzy 24 Juni 2015

"P. Buru sekarang jadi lumbung pangan dan patut di perhitungkan untuk maluku kedepan. Karna di sana ada Transmigrasi besar2an dari P.Jawa. Tapi sayang kadang2 masih sering terjadi konflik tanah antara pribumi dgn saudara2 dari Jawa. Bahkan mereka yang sudah bertahun2 tinggal bahkan sudah merasa bukan lagi orang, tapi masih dianggap sebagai pendatang oleh masyarakat adat.. Mudah2an yang membaca ini bisa kasih masukan buat masa depan Buru bumi Bupolo.."

romy behuku 11 Mei 2015

"Memang betul cerita ini,tapi bukan nelayan cina tapi para pedagang cina"

yudow 15 Oktober 2014

"Saya sudah 18 tahun tinggal di P.Buru.tp baru hari ini saya mngetahui legenda P.Buru..."

lina 25 Juli 2014

"Ya, menurut saya kota namlea thu bagus meski saya bukan orng sana dan di namlea sana thu pemandangannya indah sekali...! "

yusdi hatala 5 Juni 2014

"Aku pernah dngar crita itu wktu aku masih kecil, yg kudngr wktu itu brng tersebut mati karena menabrak sebuah gunung yng besar, dan gunung itu runtuh mnjadi pulau-pulau kecil."

Blogger 29 Agustus 2011

"Semestinya nelayan Cina itu tdk membunuh burung itu!!!"

7 Agustus 2011

"Ini merupakan aset bangsa dan daerah yang harus dilestarikan, tetapi banyak anak daerah khususnya masyarakat BURU belum tau tentang sejarahnya sendiri. Jadi sangat disarankan agar cerita leluhur yang sifatnya tentang historis suatu daerah harus dimasukan dalam kurikulum pendidikan agar tetap lestari dan terjaga asal usulnya."

Berikan Komentar Anda

Bookmark and Share