Loading
 
Jumat, 24 Oktober 2014

Beranda   » Cerita Rakyat Nusantara » Jayaprana dan Layonsari

Jayaprana dan Layonsari

Bali - Indonesia
Jayaprana dan Layonsari
Jayaprana dan Layonsari
Rating : Rating 2.7 2.7 (37 pemilih)

Diceritakan kembali oleh Samsuni

Jayaprana adalah seorang abdi dari Raja Kalianget. Atas saran sang raja, Jayaprana menikahi seorang perempuan yang bernama Loyansari. Namun, ketika melihat kecantikan Loyansari yang luar biasa, sang raja justru jatuh hati dan berniat untuk merebut istri Jayaprana. Berhasilkah Raja Kalianget merebut istri Jayaprana? Lalu, bagaimana dengan nasib Loyansari? Ikuti kisahnya dalam cerita Jayaprana dan Loyansari berikut ini!

* * *

Alkisah, di sebuah desa di Negeri Kalianget, Bali, hiduplah sebuah keluarga miskin. Keluarga itu terdiri dari sepasang suami istri yang memiliki dua anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Kehidupan keluarga tersebut sungguh memprihatinkan karena selalu serba kekurangan. Kesengsaraan keluarga itu semakin bertambah ketika suatu ketika desa mereka diserang wabah penyakit yang menyebabkan empat orang dari keluarga itu meninggal dunia. Satu-satunya dari anggota keluarga itu yang selamat adalah si anak laki-laki bungsu bernama Jayaprana yang saat itu masih kecil.

Jayaprana menjadi seorang anak yatim piatu. Oleh karena tidak kuat menjalani hidup seorang diri, bocah itu memberanikan diri menghadap Raja Kalianget dan memohon agar diangkat menjadi abdi kerajaan. Jayaprana sungguh beruntung karena Raja Kalianget mengambulkan permintaannya. Sejak itulah, Jayaprana mengabdi kepada Raja Kalianget. Meski demikian, Jayaprana tetap tinggal di rumah peninggalan orang tuanya. Ia seorang abdi yang baik dan sangat rajin. Setiap pagi-pagi sekali ia sudah berangkat ke istana untuk menjalankan tugas-tugasnya sebagai abdi raja. Tidak mengherankan jika ia menjadi abdi kesayangan sang raja.

Waktu terus berjalan. Jayaprana telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan. Karena itulah, ia menjadi idola para dayang-dayang istana. Suatu ketika, Raja Kalianget pun menitahkan Jayaprana untuk memilih seorang dayang-dayang istana untuk dijadikan istri. Namun, rupanya Jayaprana lebih memilih untuk mencari calon istri dari luar istana.

“Ampun, Baginda! Hamba bukan bermaksud untuk menolak titah Baginda. Hamba ingin menikah, tapi bukan dengan dayang-dayang istana,” kata Jayaprana dengan penuh hormat, “Jika diperkenankan, izinkanlah hamba untuk mencari calon istri hamba di luar istana ini.”

“Baiklah Jayaprana jika itu yang kamu inginkan. Aku pun tidak akan menghalangimu untuk memilih calon istri yang sesuai dengan pilihan hatimu,” jawab Raja Kalianget.

Mendapat persetujuan tersebut, pada keesokan harinya Jayaprana berjalan-jalan ke pasar yang terletak di depan istana untuk melihat-lihat gadis yang lalu-lalang. Setiba di pasar, ia sengaja duduk di depan pasar sambil memperhatikan gadis-gadis yang lewat di depannya. Tak berapa lama kemudian, tampak dari kejauhan seorang gadis berjalan melenggang dengan mengenakan pakaian cukup sederhana. Gadis itu memiliki paras yang cantik serta senyum yang manis dan mempesona. Si gadis berjalan menuju ke pasar sambil menunduk malu-malu dan matanya sesekali melirik ke sekelilingnya. Jayaprana pun terpana saat melihat gadis yang cantik jelita itu.

“Oh, gadis itu sungguh cantik dan mempesona,” puji Jayaprana dalam hati dengan kagum, “Siapakah perempuan itu dan dari mana asalnya?”

Kecantikan paras Loyansari benar-benar memikat hati Jayaprana. Pandangannya terus mengikuti lenggang gadis itu sampai lewat di depannya. Sementara itu, Loyansari yang merasa diperhatikan tiba-tiba mengalihkan pandangannya kepada Jayaprana. Sepasang mata pun bertemu seakan saling menyapa dan saling bicara. Walaupun tak ada kata-kata yang terungkap, keduanya berbicara dengan bahasa jiwa. Tak dapat dipungkiri bahwa ungkapan rasa cinta dengan bahasa jiwa memang jauh lebih jujur, tulus, dan apa adanya. Begitulah yang dirasakan oleh Jayaprana dan gadis itu.

Pandangan pertama itu telah membuat mereka saling jatuh hati. Meski demikian, Jayaprana sebagai anak muda tentu berharap cintanya tidak kandas di tengah jalan. Demikian pula yang dirasakan oleh gadis itu. Karena cinta itu tidak berada di dalam khayal, tapi menjelma dalam kenyataan, maka ketika Jayaprana melemparkan senyum kepada sang gadis, gadis itu pun membalasnya. Ternyata cinta keduanya gayung bersambut, cinta mereka terjalin erat di lubuk hati yang paling dalam seperti pepatah yang mengatakan, “ketika cinta sudah terurai jadi perbuatan, cinta itu sempurna seperti pohon; akarnya terhujam dalam hati, batangnya tegak dalam kata, dan buahnya menjumbai dalam perbuatan”.

Setelah gadis itu berlalu dan menyelinap di balik keramaian orang di dalam pasar, Jayaprana segera mencari informasi perihal gadis itu kepada orang-orang di sekitarnya. Setelah memperoleh keterangan bahwa gadis itu bernama Loyansari, putri Jero Bendesa dari Banjar Sekar, ia pun bergegas kembali ke istana untuk melapor kepada Raja Kalianget. Mendengar laporan itu, Raja Kalianget segera menulis sepucuk surat untuk Jero Bendesa.

“Besok pagi-pagi kamu antar surat ini ke rumah orang tua gadis itu,” titah Raja Kalianget.

“Baik, Baginda,” jawab Jayaprana.

Keesokan hari, pagi-pagi sekali Jayaprana mengantar surat dari raja itu ke rumah Jero Bendesa. Setelah membaca isi surat itu dalam hati dan mengetahui isinya, Jero Bendesa pun setuju jika putrinya menikah dengan Jayaprana. Isi surat itu kemudian ia sampaikan kepada putrinya yang sedang duduk di sampingnya.

”Bagaimana putriku, apakah kamu bersedia menikah dengan Jayaprana?” tanya Jero Bendesa kepada putrinya.

Loyansari hanya tersenyum malu-malu. Walaupun tak terucap sepatah kata dari mulut sang gadis pujaan, namun Jayaprana mengerti bahwa lamarannya tidak bertepuk sebelah tangan. Setelah itu, Jayaprana memohon diri kembali ke istana untuk menyampaikan berita gembira itu kepada Raja Kalianget.

“Ampun, Baginda! Lamaran hamba diterima oleh keluarga gadis itu,” lapor Jayaprana.

Mendengar laporan itu, Raja Kalianget pun langsung mengumumkan kepada seluruh keluarga istana bahwa perkawinan Jayaprana dengan Loyansari akan dilaksanakan pada hari Selasa Legi, Wuku[1] Kuningan di halaman istana. Untuk itu, sang raja kemudian memerintahkan para patih dan punggawa istana untuk mendirikan balai-balai demi keperluan pesta pernikahan abdi kesayangannya.

Saat hari pesta perkawinan itu tiba, Jayaprana bersama para patih dan punggawa istana serta masyarakat sedesanya menuju ke rumah Jero Bendesa untuk menjemput calon istrinya. Setelah melalui berbagai macam upacara di rumah itu, kedua mempelai kemudian diiring ke istana dengan menggunakan joli[2]. Ketika rombongan pengantin itu tiba di depan istana, kedua mempelai turun dari atas joli untuk memohon doa restu kepada Raja Kalianget. Saat kedua mempelai memberi hormat di hadapannya, sang raja hanya membisu. Ia terpana melihat kecantikan Loyansari. Rupanya, Raja Kalianget jatuh hati kepada istri abdinya itu. Dari situlah muncul niat buruknya untuk merebut Loyansari dari Jayaprana.

Setelah pesta perkawinan itu usai, Jayaprana bersama istrinya pun memohon diri untuk kembali ke rumahnya. Setelah keduanya pergi, Raja Kalianget segera mengumpulkan seluruh patihnya untuk meminta pertimbangan tentang bagaimana cara menghabisi nyawa Jayaprana secara diam-diam.

“Jika Loyansari tidak segera menjadi permaisuriku, maka aku akan menjadi gila,” ucap Raja Kalianget yang sudah dimabuk asmara.

Mendengar ucapan sang raja, seorang patih yang bernama I Saunggaling memberikan pertimbangan bahwa raja harus menitahkan Jayaprana pergi ke Celuk Terima untuk menyelidiki perahu yang hancur dan orang-orang Bajo yang menembak binatang di kawasan Pengulan. Rencana ini hanya merupakan siasat agar mereka bisa menghabisi nyawa Jayaprana tanpa sepengetahuan orang lain, termasuk Loyansari. Pertimbangan Patih Saunggaling itu pun diterima oleh sang raja.

Beberapa hari kemudian, Raja Kalianget pun memanggil Jayaprana agar menghadap ke paseban (balai penghadapan). Mendapat panggilan tersebut, Jayaprana pun segera menghadap sang raja yang teramat dihormatinya.

“Ampun, Baginda. Ada apa gerangan hamba diminta untuk menghadap?” tanya Jayaprana sambil memberi hormat.

“Ada tugas penting untukmu. Besok pagi-pagi kamu harus berangkat ke Celuk Terima untuk menyelidiki perahu yang kandas dan kekacauan-kekacauan yang terjadi di sana!” titah sang raja.

Tanpa merasa curiga sedikit pun, Jayaprana langsung saja menerima perintah itu dan segera kembali ke rumahnya untuk menyampaikan berita itu kepada sang istri. Mendengar berita itu, Loyansari tiba-tiba mendapat firasat buruk. Apalagi tadi malam ia bermimpi melihat rumah mereka dihanyutkan oleh banjir besar. Karena alamat-alamat buruk itulah ia meminta agar Jayaprana membatalkan keberangkatannya ke Celuk Terima.

“Kanda, sebaiknya urungkan saja niat Kanda itu. Dinda khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada diri Kanda,” ujar Loyansaridengan cemas.

“Tidak, Dinda. Ini perintah raja. Kanda harus berangkat,” kata Jayaprana, “Dinda tidak usah cemas, kematian ada di tangan Tuhan.”

Keesokan hari, berangkatlah Jayaprana ke Celuk Terima bersama Patih I Saunggaling dan sejumlah prajurit istana. Saat mereka melewati sebuah hutan lebat, Patih I Saunggaling menikam Jayaprana atas perintah Raja Kalianget. Keris patih itu tepat mengenai lambung kiri Jayaprana hingga tewas seketika. Setelah itu, Patih Saunggaling bersama rombongannya kembali ke istana untuk menyampaikan kabar palsu bahwa Jayaprana tewas karena diserang perampok.

Mendengar kabar itu, Loyansari tidak langsung mempercayainya. Ia tahu bahwa suaminya dibunuh atas perintah raja. Meski demikian, ia tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak berdaya menentang raja seorang diri. Ia hanya bisa berdoa semoga kejahatan Raja Kalianget mendapat balasan dari Yang Maha Kuasa.

Keesokan hari, Raja Kalianget datang menemui Loyansari. Di hadapan istri abdinya itu, ia berpura-pura sedih atas kematian Jayaprana. Setelah itu, ia mencoba merayu agar mau menjadi permaisurinya. Namun, Loyansari menolaknya dengan kata-kata halus.

“Maafkan hamba, Baginda. Hamba belum bisa melupakan suami hamba,” jawab Loyansari.

Mendengar jawaban penolakan itu, Raja Kalianget menjadi murka. Ia langsung menarik tangan Loyansari agar ikut bersamanya ke istana. Pada saat itulah, Loyansari mencabut keris yang terselip di pinggang sang prabu.

“Lebih baik hamba mati daripada harus menikah dengan orang yang telah membunuh suamiku,” ucap Loyansari seraya menikam dirinya dengan keris itu.

Raja Kalianget baru saja ingin mencegatnya, namun tubuh Loyansari sudah tergeletak di tanah. Melihat Loyansari tewas, sang raja pun menjadi kalap. Ia langsung menyerang setiap orang yang mendekatinya. Kejadian itu berlangsung hingga berhari-hari sehingga banyak orang menjadi korban karena tikaman kerisnya. Perilaku Raja Kalianget tersebut benar-benar meresahkan seluruh rakyat negeri itu. Akhirnya, para punggawa kerajaan memutuskan untuk menangkap sang raja dan memasukkannya ke dalam penjara.

* * *

Demikian cerita Jayaprana dan Loyansari dari Bali. Sedikitnya ada dua pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas yaitu; pertama, keutamaan sifat setia seorang istri sebagaimana yang ditunjukkan oleh Loyansari. Kedua, akibat buruk dari perbuatan semena-mena terhadap orang lain. Hal ini terlihat pada sikap Raja Kalianget. Akibat sikapnya yang arogan, sang raja termakan oleh ucapannya sendiri bahwa dirinya akan menjadi gila jika tidak berhasil memperistri Loyansari, sampai akhirnya ia harus menjalani hidup di balik jeruji penjara. (Samsuni/sas/221/12-10)



[1] Wuku adalah nama sebuah siklus waktu dalam penanggalan adat Bali yang berlangsung selama 30 pekan. Satu pekan atau satu minggu terdiri dari tujuh hari. Wuku Kuningan merupakan wuku ke-12 dari 30 wuku yang ada.

[2] Joli adalah tandu atau usungan yang tertutup atau bertirai yang biasanya digunakan untuk mengusung raja, putri-putri kraton, dan orang-orang penting lainnya.

Dibaca 37.991 kali


Rating :
Silahkan memberikan rating anda terhadap cerita ini.

Komentar untuk "Jayaprana dan Layonsari"

Arfabel Nadaulya 2 Oktober 2014

"Kok agak beda yah alur Ceritanya sama yang di buku? "

titinmaharani 12 Agustus 2014

"Jayaprana kok cuma sebentar!!!!"

niluh 30 Juli 2014

"Ceritanya kurang, jayaprana gak bisa langsung dbunuh gitu pake keris selain kerisnya sendiri."

nunuk 15 November 2012

"Keren banget...
kesetiaan yang perlu patut ditiru."

ulfa 7 September 2012

"Ceritanya mengharukan, pokoknya kerreeen bangeeeetds.. "

candra jayaprana 2 Juni 2012

"Melihat ceritanya bagus banget, dan anehnya nama saya diangkat dari mimpi ortu (IBU)sebelum sy dilahirkan, saya lahir di hari ke 12 (wuku) anak bungsu pula sedikitpun ortu nga ada yg mengerti tentang nama saya ini hanya dlm mimpi ibu saya nama ini adalah orang yg terhilang atau dilupakan? Dan anehnya lg waktu sy di baptis pdt di greja saya nga protes padahal sedikitpun nama saya tdk ada nama orng kristen,tp puji Tuhan nama saya di pake oleh orng yg percaya akan TUHANnya begitupun saya percaya akan kasih TUHAN saya YESUS semuanya yg ada dlm diri jayaprana ada dlm saya!!! Dan semuanya sama(anak bungsu yg lahir pd hari yg 12) "

putry 14 Maret 2012

"Ya, bagus."

Nita LeonX 10 Maret 2012

"Aku terharu.... Bagus!"

mika 25 Februari 2012

"Aq salut banget ama Loyansari, ini baru nama’a cinta sampai mati, gx asal ngomong ajj."

gek wulan 5 Februari 2012

"Baguuss.... kisah cinta sejati....^__^"

Page

Berikan Komentar Anda

Bookmark and Share