Loading
 
Rabu, 13 Desember 2017

Sulawesi Tenggara - Indonesia
La Onto-Ontolu
La Onto-Ontolu
Rating : Rating 2.8 2.8 (17 pemilih)

La Onto-Ontolu adalah putra sulung seorang raja di bulan. Suatu ketika, ia turun ke bumi dengan menyamar menjadi sebutir telur. La onto-ontolu dalam bahasa Buton (Sulawesi Tenggara) berarti telur. Setelah tinggal di bumi, ia menikahi putri bungsu Raja Buton. Namun, pernikahan mereka membuat keenam kakak kandung putri bungsu iri hati dan dendam. Suatu hari, mereka berniat untuk mencelakai La Onto-Ontolu. Berhasilkah rencana itu? Ikuti kisahnya dalam cerita La Onto-Ontolu berikut ini!

* * *

Dikisahkan bahwa di planet bulan ada seorang pemuda perkasa dan sakti mandraguna bernama Sumantapura. Ia adalah putra sulung raja di bulan. Dengan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki, Sumantapura kerap mengelilingi angkasa raya untuk melihat-lihat suasana. Suatu ketika, ia sempat menyaksikan keindahan bumi. Oleh karena kagum dan penasaran, maka meluncurlah ia ke bumi dengan menyamar menjadi sebutir telur.

Setiba di bumi, Sumantapura hinggap di petarangan (tempat ayam mengerami telurnya) milik seorang nenek. Rupanya, kehadiran Sumantapura mengundang perhatian ayam-ayam yang ada di kandang itu. Hewan piaraan nenek itu pun berkotek bersahut-sahutan sehingga menimbulkan suara gaduh.

“Kok… kok… kotek! Kok… kok… kotek!” demikian suara kotek ayam itu.

Suara gaduh kotekan ayam itu terdengar oleh si Nenek yang sedang menyiangi rumput di kebun dekat pondoknya.

“Hai, apa yang terjadi dengan ayam piaraanku?” gumam nenek itu, “Wah, jangan-jangan telur ayamku dimakan burung gagak.”

Nenek itu pun bergegas pulang ke pondoknya. Alangkah terkejutnya ia setelah memeriksa semua telur ayamnya di petarangan. Ia melihat sebutir telur raksasa tergeletak di antara butiran-butiran telur ayam tersebut.

“Wow, besar sekali telur ini!” takjub nenek itu, “Baru kali ini aku melihat telur sebesar ini.

Tanpa berpikir panjang, nenek itu segera memasukkan telur raksasa itu ke dalam keranjang lalu membawanya masuk ke dalam pondok. Setelah itu, ia kembali ke kebun untuk melanjutkan pekerjaannya yang hampir selesai. Saat hari menjelang siang, ia pulang ke pondoknya untuk makan siang. Hari itu, ia amat lapar. Tapi, alangkah terkejutnya ia karena semua persediaan makanannya habis.

“Hai, siapa yang menghabiskan semua makananku?” gumamnya dengan heran.

Ketika nenek itu hendak memasak lagi, ternyata air di tempayannya juga habis tak tersisa setetes pun. Ia pun semakin heran dan bingung.

Pada esok harinya, nenek itu mengalami kejadian yang serupa. Karena penasaran, ia pun berniat menjebak pelakunya. Ia menyiapkan makanan, sirih, dan tembakau di dapur. Setelah itu, berangkatlah ia ke kebun. Begitu nenek itu pergi, keranjang yang berisi telur perlahan-lahan terbuka penutupnya dan keluarlah seorang pemuda perkasa dari dalamnya yang tidak lain adalah Sumantapura. Dengan perasaan senang, cepat-cepatlah ia mandi lalu melahap habis makanan tersebut tanpa menyisakan sedikit pun. Setelah itu, ia mencoba mencicipi sirih dan tembakau yang juga tersedia di situ. Oleh karena tidak terbiasa makan sirih, kepalanya pun menjadi pusing, matanya berkunang-kunang, dan akhirnya jatuh pingsan.

Menjelang siang, nenek itu kembali dari kebunnya. Ia amat terkejut saat mendapati sesosok pemuda yang sedang tergeletak di ruang dapurnya. Mulanya, ia mengira pemuda itu sudah meninggal dunia. Setelah diperiksa, ternyata laki-laki yang tidak dikenalnya itu hanya pingsan. Nenek itu pun berupaya menyadarkannya.

Begitu siuman, Sumantapura terkejut melihat seorang nenek yang sedang duduk di sampingnya. Dengan perasaan malu-malu, ia pun meminta maaf kepada nenek itu.

“Maafkan saya, Nek. Sayalah yang telah menghabiskan semua makanan Nenek,” ucap Sumantapura.

Nenek hanya tersenyum, lalu berkata, “Sudahlah, Cucuku! Tidak apa-apa.”

“Terima kasih, Nek,” ucap Sumantapura.

“Tapi, kalau boleh Nenek tahu, kamu siapa dan berasal dari mana?” tanya si Nenek.

Sumantapura pun menceritakan asal usulnya hingga keberadaannya di pondok itu. Betapa senangnya hati si Nenek setelah mengetahui bahwa pemuda perkasa yang ada di hadapannya adalah putra Raja Bulan. Hatinya pun kian gembira saat Sumantapura bersedia tinggal bersamanya. Sejak itu pula, si Nenek mulai memanggil pemuda itu dengan panggilan La Onto-Ontolu, yang berarti “telur”.

Sejak tinggal bersama La Onto-Ontolu, hidup nenek itu semakin membaik. Putra sulung Raja Bulan itu rajin membantunya bekerja di kebun. Bahkan dengan kesaktiannya, ia mengubah pondok nenek itu menjadi rumah mewah lengkap dengan perabotannya. Keduanya pun hidup bahagia dan saling menyayangi. Namun, La Onto-Ontolu merasa bahwa kebahagiaan tersebut terasa kurang tanpa kehadiran seorang istri. Maka sebab itulah, ia meminta kepada nenek itu untuk dilamarkan salah satu dari tujuh putri Raja Buton yang ada di istana.

“Nek, bolehkah saya minta tolong untuk dilamarkan putri sulung Raja Buton?” pinta La Onto-Ontolu.

Nenek itu pun menerima permintaan La Onto-Ontolu. Maka, berangkatlah ia seorang diri ke istana raja. Namun, ketika menyampaikan lamaran tersebut di hadapan raja beserta keenam putrinya, ia tidak menyebut nama asli putra Raja Bulan itu karena sudah terbiasa memanggilnya dengan La Onto-Ontolu.

“Ampun, Baginda! Hamba datang kemari untuk menyampaikan lamaran cucu saya La Onto-Ontolu kepada putri sulung Baginda,” ungkap nenek itu seraya memberi hormat.

Putri sulung raja yang mendengar nama orang yang melamarnya itu tentu saja tidak mau terima.

“Tidak, Yah. Aku tidak mau menikah dengan telur,” tegas putri sulung raja.

Dengan perasaan kecewa, si Nenek pulang ke rumahnya untuk menyampaikan kabar buruk itu kepada La Onto-Ontolu. Mendengar kabar buruk tersebut, La Onto-Ontolu tidak putus asa. Keesokan harinya, ia meminta tolong lagi kepada si Nenek agar kembali ke istana untuk melamar putri kedua raja, dan ternyata putri kedua raja itu juga menolak. Begitu pula pada hari-hari berikutnya, nenek itu bolak-balik ke istana untuk menyampaikan lamaran La Onto-Ontolu hingga putri raja keenam raja, namun hasilnya tetap nihil.

Meskipun tinggal putri bungsu yang menjadi harapan satu-satunya, La Onto-Ontolu tidak pernah putus asa. Ia kembali meminta kepada nenek itu untuk menyampaikan lamarannya kepada putri bungsu.

“Maaf, Nek! Jika Nenek tidak keberatan, saya minta tolong sekali lagi untuk dilamarkan putri bungsu raja,” pinta La Onto-Ontolu, “Siapa tahu dia mau menerima lamaran saya.”

Nenek itu menghargai tekad keras La Onto-Ontolu. Alhasil, putri bungsu pun bersedia menerima lamaran itu. Sementara itu, keenam saudara putri bungsu yang mengetahui hal tersebut mengolok-olok dan menganggap adiknya itu tidak waras lagi.

“Hai, Bungsu! Apakah kamu sudah gila? Untuk apa menikah dengan telur?” sindir putri sulung.

“Dasar memang nasibmu ditakdirkan menikah dengan telur!” imbuh putri kedua raja.

Meskipun disindir oleh keenam saudaranya, si Bungsu tetap sabar dan akan ikhlas menerima La Onto-Ontolu apa adanya. Sementara itu, si Nenek merasa gembira karena lamaran cucunya diterima. Ia pun bergegas pulang untuk menyampaikan berita gembira itu kepada La Onto-Ontolu yang menyambutnya dengan perasaan bahagia pula.

Keesokan harinya, nenek itu membawa La Onto-Ontolu kepada putri bungsu raja dalam wujud sebutir telur. Dengan senang hati, putri bungsu pun menerima telur itu lalu menyimpannya di kamar. Sejak itulah, ia selalu mengalami kejadian aneh di dalam kamarnya. Setiap kali ia hendak mandi di pagi hari, air di bak mandinya selalu habis. Padahal, bak itu selalu penuh air pada sore harinya. Karena penasaran ingin mengetahui pelakunya, suatu malam ia berpura-pura tidur. Begitu tengah malam, ia pun mendengar gemericik air di dalam kamar mandi. Beberapa saat kemudian, seorang pemuda perkasa keluar dari kamar mandi itu lalu berjalan menuju ke pembaringannya.

“Hai, kamu siapa? Berani-beraninya kamu menyusup masuk ke dalam kamarku,” tegur putri bungsu saat melihat pemuda itu mendekatinya.

Pemuda yang tak lain adalah La Onto-Ontolu itu tersenyum. Ia lalu duduk di samping sang Putri Bungsu dan menceritakan asal usulnya. Mendengar cerita itu, maka tahulah ia bahwa ternyata pemuda tampan itu adalah calon suaminya. Dengan persetujuan raja dan permaisuri, perkawinan putri bungsu dengan La Onto-Ontolu pun dilangsungkan.

Rupanya, perkawinan putri bungsu dengan pemuda tampan itu membuat keenam kakaknya iri hati dan dendam. Mereka berniat untuk membuat adik bungsunya itu menderita. Suatu hari, mereka mengajak Putri Bungsu dan suaminya untuk memancing di laut. Selain membawa bekal makanan, mereka juga membawa sirih dan tembakau. Setiba di tengah laut, putri sulung raja sengaja membuang puan (tempat sirih) kesayangan milik putri bungsu ke dalam laut. Tak ayal, putri bungsu pun menangis dan meminta kepada suaminya untuk mengambil puan itu di dalam laut. La Onto-Ontolu yang amat sayang kepada istrinya langsung terjun ke dalam air. Namun, begitu ia terjun, keenam kakak putri bungsu segera mendayung perahu menuju ke pantai. Putri bungsu pun menangis tersedu-sedu karena suaminya ditinggal sendirian di tengah laut.

Setiba di istana, keenam putri raja merasa amat puas melihat adiknya karena kehilangan suami. Sementara itu, putri bungsu kembali ke kamarnya dengan perasaan hancur. Ia hanya bisa pasrah atas peristiwa yang menimpa suaminya. Hingga tengah malam, putri bungsu yang malang itu hanya duduk termenung memikirkan nasib laki-laki tampan yang amat dicintainya itu. Di tengah-tengah lamunannya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.

“Tok… Tok… Tok…! Dinda, tolong bukakan pintunya!” seru suara seorang laki-laki di depan pintu.

“Hai, sepertinya aku mengenal suara orang itu,” gumam putri bungsu, “Ah, tidak mungkin dia suamiku.”

Putri bungsu enggan membuka pintu kamarnya karena mengira suaminya telah tewas di tengah laut. Namun, setelah laki-laki itu beberapa kali memanggilnya, maka ia pun mulai yakin bahwa suara itu adalah suara suaminya. Maka, cepat-cepatlah ia membuka pintu. Alangkah terkejutnya ia saat melihat suaminya kembali dengan membawa puan emas kesayangannya.

“Oh, ternyata Kanda masih hidup. Maafkan Dinda telah membuat Kanda menunggu lama di depan pintu!” ucap putri bungsu seraya memeluk suaminya. 

“Sudahlah, Dinda. Lupakanlah semua peristiwa yang telah terjadi,” ujar La Onto-Ontolu.

Putri bungsu sangat bahagia karena bisa bertemu kembali dengan suami tercintanya. Merasa tidak nyaman tidak tinggal di istana, pada malam itu juga La Onto-Ontolu mengajak istrinya ke bulan tanpa sepengetahuan keluarga istana. Mereka pun hidup rukun dan bahagia. Sementara itu, keenam kakak putri bungsu mendapat hukuman dari raja karena diketahui telah membuat putri bungsu menderita sehingga pergi dari istana.

* * *

Demikian cerita La Onto-Ontolu dari Sulawesi Tenggara. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa orang yang selalu sabar sepeti putri bungsu akan disayangi Tuhan. Sebaliknya, orang yang suka iri hati dan denam seperti keenam kakaknya akan mendapat balasan yang setimpal. (Samsuni/sas/234/02-11)

Diceritakan kembali oleh Samsuni

Dibaca 17.074 kali


Rating :
Silahkan memberikan rating anda terhadap cerita ini.

Komentar untuk ""

yhana 28 Agustus 2012

"kak, kok nda ad bhs.butonnya shy...
tlong donk d.ksih bhs buton nyaa....."

mery hutagaol 8 Maret 2011

"Pesan cerita ini mnegajarkan kita menerima orang apa adanya hanya La Onto-Ontolu belum banyak berbuat di bumi seperti memberikan contoh-contoh perbuatan yang baik, hanya terfokus pada istana dan putri bungsu...."

Berikan Komentar Anda

Bookmark and Share