Loading
 
Senin, 20 Oktober 2014

Beranda   » Cerita Rakyat Nusantara » Asal Mula Burung Ntaapo-Apo

Asal Mula Burung Ntaapo-Apo

Sulawesi Tenggara - Indonesia
Asal Mula Burung Ntaapo-Apo
Asal Mula Burung Ntaapo-Apo
Rating : Rating 3.5 3.5 (10 pemilih)

Selama ini orang mengira burung cenderwasih hanya ada di Papua. Tapi, tahukah Anda bahwa burung jenis ini ternyata juga terdapat di Sulawesi Tenggara, tepatnya di Kabupaten Muna? Masyarakat di sana menyebutnya dengan nama burung Ntaapo-apo. Menurut cerita, burung ini merupakan penjelmaan seorang anak laki-laki yang bernama La Ane. Bagaimana La Ane bisa menjelma menjadi burung Ntaapo-Apo? Ikuti kisahnya dalam cerita Asal Mula Burung Ntaapo-Apo berikut ini!

* * *

Dahulu, di sebuah kampung di daerah Muna, Sulawesi Tenggara, hiduplah seorang janda bersama seorang anak laki-lakinya bernama La Ane. Suaminya meninggal dunia saat La Ane masih bayi. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, janda itu mengolah kebun yang luasnya tidak seberapa. Kebun itu ia tanami ubi dan jagung untuk dimakan sehari-hari. Selain kebun, sang suami juga mewariskan seekor kuda jantan.

Janda itu amat sayang kepada La Ane. Ia merawatnya dengan penuh kasih sayang hingga tumbuh menjadi besar. Namun, La Ane yang telah menginjak usia remaja itu tidak pernah membantu ibunya bekerja. Dari bangun hingga tidur lagi, kerjanya hanya bermain gasing bersama teman-temannya. Ia baru pulang ke rumah jika perutnya sudah lapar. Tapi, setelah kenyang, ia kembali bermain gasing.

Sang ibu mulai tidak senang melihat kelakuan anaknya yang semakin hari semakin malas. Ia sudah berkali-kali mengajaknya pergi ke kebun, namun La Ane selalu menolak.

“Buat apa bekerja setiap hari. Capek, Bu,” begitu selalu kata La Ane.

“Anakku, kita mau makan apa kalau tidak bekerja?” ujar ibunya.

“Ibu saja yang bekerja. Aku lebih senang bermain gasing bersama teman-temanku daripada ikut bekerja di kebun,” kata La Ane dengan cuek.

“Kalau begitu, makan saja itu gasingmu!” tukas ibunya dengan nada kesal.

La Ane tetap saja tidak peduli pada nasehat ibunya. Ia pergi meninggalkan rumah menuju ke rumah teman-temannya. Sang ibu yang masih kesal sedang menyiapkan makanan di meja makan. Namun, bukannya nasi dan jagung rebus yang disiapkan, melainkan gasing yang dipotong kecil-kecil lalu ditempatkan di dalam kasopa (tempat jagung dan ubi). Tali gasing itu juga dipotong-potong lalu ditaruh di dalam kaghua (tempat sayur atau ikan).

“Huh, makanlah gasing dan talinya itu, anak malas!” geram sang ibu.

Janda itu kemudian pergi ke kebun. Menjelang siang hari, La Ane pun kembali dari bermain karena lapar. Alangkah terkejutnya ia setelah melihat kasopa dan kaghua di atas meja yang berisi potongan-potongan gasing dan talinya.

“Oh, Ibu. Engkau benar-benar marah kepadaku? Padahal, aku lapar sekali,” keluh La Ane.

Dengan perasaan sedih, La Ane naik ke atas loteng rumahnya. Di atas loteng itu ia duduk termenung sambil memikirkan nasibnya.

“Ibu sudah tidak sayang lagi kepadaku. Lebih baik menjadi burung saja sehingga aku bisa terbang ke sana ke mari mencari makan sendiri,” ucap La Ane.

Ucapan La Ane rupanya menjadi kenyataan. Begitu ia selesai berucap, tiba-tiba sekujur tubuhnya perlahan-lahan ditumbuhi bulu berwarna-warni yang indah dan berkilauan. Selang beberapa saat kemudian, anak pemalas itu pun berubah menjadi seekor burung. Ia kemudian hinggap di atap rumahnya sambil berkicau dengan merdu.

Saat hari menjelang sore, sang Ibu kembali dari kebun. Ia pun memanggil-manggil anaknya.

“La Ane… La Ane…, kamu di mana anakku?!” teriaknya.

Sudah berkali-kali ibu itu berteriak, namun tak ada jawaban. Dengan panik, ia segera keluar dari rumah. Ketika berada di depan rumah, ia pun melihat seekor burung bertengger di atap rumah sambil bernyanyi merdu. Janda itu hampir pingsan melihat pada burung itu masih memperlihatkan tanda-tanda anaknya.

“Oh, anakku, maafkan Ibu. Turunlah, Nak!” bujuk sang Ibu.

Nasi sudah menjadi bubur. La Ane yang telah menjelma menjadi burung itu tidak mungkin lagi berubah menjadi manusia. Ia akan menjadi burung untuk selama-lamanya. Ketika ibunya berteriak memanggilnya, ia sudah tidak mendengarnya lagi. Ia terbang dan hinggap di atas pohon pinang sambil berkicau.

“Ntaapo-apo… Ntaapo-apo!” demikian kicauan burung itu.

Sang ibu tak henti-hentinya memanggil anaknya. Namun, burung itu tetap tidak mau kembali. Ia terbang menuju ke hutan belantara untuk mencari makan. Sang ibu pun tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali menyesal atas perlakuannya terhadap anak semata wayangnya itu.

Sejak peristiwa itu, burung yang suka berkicau “ntaapo-apo” itu dinamakan burung Ntaapo-apo. Hingga saat ini, burung yang mirip dengan burung cenderawasih itu masih sering terdengar kicauannya dari dalam hutan di daerah Muna, Sulawesi Tenggara.

* * *

Demikian cerita Asal Usul Burung Ntaapo-Apo dari Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah anak pemalas dan pembangkang seperti La Ane pada akhirnya akan mendapat malapetaka. (Samsuni/sas/272/07-11)

Diceritakan kembali oleh Samsuni

Dibaca 8.765 kali


Rating :
Silahkan memberikan rating anda terhadap cerita ini.

Komentar untuk "Asal Mula Burung Ntaapo-Apo"

soleman 24 September 2014

"Sungguh malang nasip anak yang tidak mendengar perkataan orang tua... Maka dari itu jadilah anak yang berbakti kepada orang tua."

SALABA 15 Mei 2014

"LUAR BIASA CERITA DI PULAU MUNA KHUSUSNYA MUNA SELATAN BISA DI LIHAT DI CERITA NUSANTARA NANTI BUATKAN VERSI DALA BAHSA MUNANYA YAAHHHH SUPAYA ANAK ANAK MUNA BISA TAU TENTANG LEGENDA DAN HIKAYAT DI MUNA "

nhiembar 29 November 2012

"Wahh, ceritanya unik dan keyennz, tapi napa namax la ane bukan la ege :D THE STORY IS VERY GOOD :)
"

ramadhan 8 Maret 2012

"Nda ada kune cendrawasi dimuna, belum aku lihat karnaya."

Nessa Aqilla Z.P 10 November 2011

"Coba kalao La Ane tau maksud ibunya berbuat demikian, mungkin dia ga jadi burung. Sebenarnya ibunya itu sayang sama La Ane.... Jangan bilang’ sang ibu gak sayang pada La Ane!"

nita 13 Oktober 2011

"Wah. critax krennnnnnnnnnnnnnnnnnnn...!!!"

Embe 21 September 2011

"Hehehee.....mantap ceritax. Tambahin lg cerita yg lain ttg Muna."

vega 7 September 2011

"Ini pengarangnya sapa ya?
"

bima 26 Agustus 2011

"Ceritanya pun "ntaapo-apo" .."

vivaaa 21 Agustus 2011

"blh download ga??? se kali aja!"

Page

Berikan Komentar Anda

Bookmark and Share