Loading
 
Sabtu, 22 November 2014

Beranda   » Cerita Rakyat Nusantara » Asal Mula Upacara Bekakak

Asal Mula Upacara Bekakak

Yogyakarta - Indonesia
Asal Mula Upacara Bekakak
Rating : Rating 2.7 2.7 (12 pemilih)

Upacara Bekakak atau Saparan merupakan upacara adat masyarakat yang hingga kini masih diperingati oleh masyarakat di Gamping, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Bekakak berarti korban penyembelihan hewan atau manusia. Hanya saja, manusia yang dimaksud dalam upacara ini yaitu tiruan manusia yang berwujud sepasang boneka pengantin dalam posisi duduk bersila, terbuat dari tepung ketan yang berisi cairan gula merah. Disebut Saparan karena upacara ini dilaksanakan pada bulan Sapar (Syafar), bulan kedua dalam kalender Hijriah (Islam). Menurut cerita, upacara Bekakak bermula dari sebuah musibah yang menimpa dua orang abdi dalem (pegawai keraton) Sultan Hamengkubuwono I. Peristiwa apakah itu?  Berikut kisahnya dalam cerita Asal Mula Upacara Bekakak.

* * *

Pada 1755, Pangeran Mangkubumi dinobatkan sebagai raja pertama Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dengan gelar Sri Sultan Hamengkubuwono I. Sebagai raja baru, ia bermaksud mendirikan sebuah istana atau keraton sebagai tempat kediaman. Sembari menunggu pembangunan keraton itu selesai, Sultan memilih untuk berisitrahat di sebuah pesanggrahan yang terletak di Desa Ambarketawang, Sleman. Ketika itu, sebagian besar penduduk Ambarketawang bermata pencaharian sebagai pengumpul batu-batu gamping dari gunung kapur yang ada wilayah itu.

Sri Sultan Hamengkubuwono I tinggal di Ambarketawang bersama sejumlah abdi dalem. Dua abdi yang paling setia adalah sepasang suami istri bernama Kyai dan Nyai Wirasuta. Keduanya adalah abdi dalem penongsong, yaitu abdi dalem yang sehari-harinya bertugas memayungi Sri Sultan Hamengkubuwono I. Ke mana pun sang Raja pergi, keduanya turut serta membawa payung kebesaran keraton.

Selain setia, Kyai dan Nyai Wirasuta termasuk abdi dalem Sri Sultan yang paling rajin. Di sela-sela menjalankan kewajibannya, keduanya memelihara beragam hewan seperti ayam, bebek, burung puyuh, merpati, kelinci, dan landak. Mereka amat menyayangi dan rajin merawat hewan-hewan peliharaan itu.

Hingga pada suatu ketika, datanglah utusan dari keraton hendak menemui Sri Sultan Hamengkubuwono I di tempat peristirahatannya.

“Ampun, Kanjeng Gusti,” lapor utusan itu sambil memberi hormat.

“Bagaimana perkembangan keraton kita?” tanya sang Sultan.

“Pembangunan keraton telah selesai dan siap untuk ditempati,” jawab utusan itu.

“Bagus, kalau begitu, besok pagi-pagi sekali kami akan kembali ke keraton,” kata sang Sultan.

Keesokan harinya, Sri Sultan Hamengkubuwono I beserta para abdi delam bersiap-siap untuk kembali ke keraton. Namun, Kyai Wirasuta dan istrinya masih merasa betah tinggal di Ambarketawang.

“Ampun, Kanjeng Gusti. Bukannya hamba berdua tidak setia kepada Kanjeng Gusti. Izinkanlah hamba berdua tinggal di tempat ini untuk merawat tempat peristirahatan Kanjeng Gusti. Hamba berdua merasa betah tinggal di tempat ini. Lagipula, hewan peliharaan hamba sudah banyak. Sayang sekali kalau ditinggalkan,” pinta Kyai Wirasuta sembari menghaturkan sembah.

“Baiklah, jika itu sudah menjadi keinginan kalian. Rawatlah baik-baik pesanggrahan ini dan hewan-hewan kalian,” ujar sang Sultan.

“Terima kasih, Kanjeng Gusti,” ucap Ki Wirasuta, “Tapi, jika diperkenankan, bolehkah hamba membawa putra-putri hamba ke tempat ini?”.

Permintaan Kyai Wirasuta pun disetujui oleh sang Sultan. Sejak itulah, Kyai Wirasuta tinggal di daerah itu bersama istri dan dua putra, Raden Bagus Gombak dan Raden Bagus Kuncung serta dua putrinya, Roro Ambarsari dan Roro Ambarsekar. Selain itu, ia juga memboyong kedua pembantu setianya yaitu Kyai dan Nyai Brengkut.

Suatu hari, tepatnya hari Jumat Kliwon di bulan Sapar, Kyai Wirasuta bersama istrinya sedang membersihkan halaman pesanggrahan. Tanpa mereka duga sebelumnya, Gunung Gamping yang berada di dekat pesanggerahan itu runtuh. Karena posisinya berada sangat dekat dengan gunung itu, mereka pun tidak sempat menyelamatkan diri sehingga tertimbun batu-batu kapur. Ketika peristiwa itu terjadi, keempat putra-putri serta kedua pembantunya masih sempat melarikan diri bersama sebagian warga lainnya sehingga selamat dari musibah. Sementara hewan ternaknya hanya ada 3 ekor yang selamat yaitu seekor merpati memakai sawangan, seekor burung puyuh bergelang emas, dan seekor landak berkalung sapu tangan merah.

Mendengar kabar tentang musibah yang menimpa kedua abdi dalem kesayangannya itu, Sri Sultan Hamengkubuwono I memerintahkan para prajurinya untuk membongkar reruntuhan batu-batu kapur yang ada di Gunung Gamping itu. Namun, hingga batu kapur itu selesai disingkirkan, jasad Kyai Wirasuta dan istrinya tidak diketemukan. Kedua jasad tersebut menghilang tanpa jejak.

Di istana Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengkubuwono I duduk termenung mengenang kedua abdi dalem-nya itu. Hatinya sangat sedih karena kehilangan orang-orang yang disayanginya. Kesedihan yang dirasakan sang Raja hingga berbulan-bulan lamanya. Ketika kesedihan itu mulai lenyap, sang Raja kembali dikejutkan oleh laporan dari abdi dalem-nya.

“Ampun, Kanjeng Gusti. Hamba baru saja mendapat kabar bahwa beberapa penduduk Ambarketawang tertimbun reruntuhan batu kapur,” lapor abdi dalem itu.

Mendengar laporan itu, Sri Sultan Hamengkubuwono I kembali berduka. Musibah itu kembali mengingatkannya kepada Kyai Wirasuta dan istrinya. Kebetulan, musibah itu juga terjadi pada bulan Sapar. Demikian seterusnya, hampir setiap bulan Sapar, penduduk Ambarketawang kerap mendapat musibah yang serupa. Oleh karena itulah, masyarakat meyakini bahwa meskipun jasadnya telah menghilang, jiwa dan arwah Kyai dan Nyai Wirasuta masih tetap ada di Gunung Gamping. Dengan keyakinan itu, mereka pun menjadi resah. Mereka pun khawatir mengumpulkan batu-batu kapur di sekitar gunung itu, terutama pada bulan Sapar.

Mengetahui keresahan itu, Sri Sultan Hamengkubuwono I pun bertitah kepada masyarakat Ambarketawang agar setiap bulan Sapar mengadakan upacara selamatan. Upacara itu juga bertujuan untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar melindungi masayarakat dari musibah. Adapun wujud upacara selamatan itu berupa penyembelihan bekakak yang dilengkapi dengan beberapa perangkat upacara lainnya seperti tumpeng, ingkung ayam, jajan pasar, dan lain sebagainya. Penyembelihan bekakak dimaksudkan untuk menggantikan Kyai dan Nyai Wirasuta dan warga lain yang tertimpa musibah.

* * *

Demikian cerita Asal Mula Upacara Bekakak dari Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Hingga kini, upacara Bekakak masih tetap dilaksanakan oleh masyarakat Ambarketawang, Gamping, dan selalu digelar pada hari Jumat, antara tanggal 10 hingga 20 dalam bulan Syafar. Saat ini, upacara Bekakak telah menjadi agenda wisata budaya sehingga pergelarannya selalu dikemas secara atraktif untuk menarik perhatian para wisatawan.

Adapun pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah seorang abdi atau bawahan yang setia pada tuannya akan selalu dikenang jasanya. Demikian yang terjadi pada Kyai dan Nyai Wirasuta. Atas kesetiaan dan pengabdiannya, jasa-jasa mereka terus dikenang hingga saat ini. (Samsuni/sas/285/10-11) 

Diceritakan kembali oleh Samsuni

Dibaca 19.116 kali


Rating :
Silahkan memberikan rating anda terhadap cerita ini.

Komentar untuk "Asal Mula Upacara Bekakak"

qaa 26 November 2011

"Wah, kasihan bgt warga di sekitar situ dulu."

marto pacul 24 November 2011

"Sip!"

21 November 2011

"Pakai bahasa Jawaaaaa..."

Michan 4 November 2011

"Wah, di Yogyakarta."

Berikan Komentar Anda

Bookmark and Share