Loading
 
Sabtu, 5 September 2015

Sumatra Barat - Indonesia
Rating : Rating 2.3 2.3 (143 pemilih)

Minangkabau termasuk salah satu nagari (desa) yang berada di wilayah Kecamatan Sungayang, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatra Barat. Nagari ini dulunya masih berupa tanah lapang. Namun, tersebab oleh sebuah peristiwa, daerah itu dinamakan Nagari Minangkabau. Peristiwa apakah itu? Berikut kisahnya dalam cerita Asal Mula Nama Nagari Minangkabau.

* * *

Dahulu, di Sumatera Barat, tersebutlah sebuah kerajaan bernama Kerajaan Pagaruyung. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja yang adil dan bijaksana. Rakyatnya senantiasa hidup aman, damai, dan tenteram. Suatu ketika, ketenteraman negeri itu terusik oleh adanya kabar buruk bahwa Kerajaan Majapahit dari Pulau Jawa akan menyerang mereka. Situasi tersebut tidak membuat para punggawa Kerajaan Pagaruyung gentar.

Musuh pantang dicari, datang pantang ditolak. Kalau bisa dihindari, tapi kalau terdesak kita hadapi,” demikian semboyan para pemimpin Kerajaan Pagaruyung.

Suatu hari, pasukan Kerajaan Majapahit tiba di Kiliran Jao, sebuah daerah di dekat perbatasan Kerajaan Pagaruyung. Di tempat itu pasukan Kerajaan Majapahit mendirikan tenda-tenda sembari mengatur strategi penyerangan ke Kerajaan Pagaruyung. Menghadapi situasi genting itu, para pemimpin Pagaruyung pun segera mengadakan sidang.

“Negeri kita sedang terancam bahaya. Pasukan musuh sudah di depan mata. Bagaimana pendapat kalian?” tanya sang Raja yang memimpin sidang tersebut.

“Ampun, Paduka Raja. Kalau boleh hamba usul, sebaiknya kita hadapi mereka dengan pasukan berkuda dan pasukan gajah,” usul panglima perang kerajaan.

“Tunggu dulu! Kita tidak boleh gegabah,” sanggah Penasehat Raja, “Jika kita serang mereka dengan pasukan besar, pertempuran sengit pasti akan terjadi. Tentu saja peperangan ini akan menyengsarakan rakyat.”

Suasana sidang mulai memanas. Sang Raja yang bijaksana itu pun segera menenangkannya.

“Tenang, saudara-saudara!” ujar sang Raja, “Saya sepakat dengan pendapat Paman Penasehat. Tapi, apa usulan Paman agar peperangan ini tidak menelan korban jiwa?”

Pertanyaan sang Raja itu membuat seluruh peserta sidang terdiam. Suasana pun menjadi hening. Semua perhatian tertuju kepada Penasehat Raja itu, mereka tidak sabar lagi ingin mendengar pendapatnya. Beberapa saat kemudian, Penasehat Raja itu pun angkat bicara.

“Ampun, Paduka Raja. Untuk menghindari terjadinya pertumpahan darah, alangkah baiknya jika musuh kita ajak berunding. Kita sambut mereka di perbatasan kemudian berunding dengan mereka. Jika mereka menolak, barulah kita tantang mereka adu kerbau,” ungkap Penasehat Raja.

“Hmmm... ide yang bagus,” kata sang Raja, “Bagaimana pendapat kalian semua?”

“Setuju, Paduka Raja,” jawab seluruh peserta sidang serentak.

Selanjutnya, sang Raja bersama punggawanya pun menyusun strategi untuk mengalahkan musuh tanpa pertumpahan darah. Sang Raja segera memerintahkan kepada putri Datuk Tantejo Garhano untuk menghiasi anak-anak gadisnya dan dayang-dayang istana yang cantik dengan pakaian yang indah. Datuk Tantejo Garhano adalah seorang putri yang memiliki tata krama dan kelembutan. Sifat-sifat itu telah diajarkan oleh Datuk Tantejo Garhano kepada anak-anak gadisnya serta para dayang istana.

Setelah semua siap, Datuk Tantejo Garhano bersama anak-anak gadisnya serta dayang-dayang istana menuju ke perbatasan untuk menyambut kedatangan pasukan musuh. Mereka pun membawa berbagai macam makanan lezat untuk menjamu pasukan Majapahit. Sementara itu, dari kejauhan, pasukan Pagaruyung terlihat sedang berjaga-jaga untuk menjaga segala kemungkinan yang bisa terjadi.

Tak berapa lama setelah rombongan Datuk Tantejo Garhano tiba di perbatasan, pasukan musuh dari Majapahit pun sampai di tempat itu.

“Selamat datang, Tuan-Tuan yang budiman,” sambut Datuk Tantejo Garhano dengan sopan dan lembut. “Kami adalah utusan dari Kerajaan Pagaruyung. Raja kami sangat senang dengan kedatangan Tuan-Tuan di istana. Tapi sebelumnya, silakan dicicipi dulu hidangan yang telah kami sediakan! Tuan-Tuan tentu merasa lapar dan lelah setelah menempuh perjalanan jauh.”

Melihat perlakuan para wanita cantik itu, pasukan Majapahit menjadi terheran-heran. Mereka sebelumnya mengira bahwa kedatangan mereka akan disambut oleh pasukan bersenjata. Namun, di luar dugaan, ternyata mereka disambut oleh puluhan wanita-wanita cantik yang membawa hidangan lezat. Dengan kelembutan para wanita cantik tersebut, pasukan Majapahit pun mulai goyah untuk melancarkan serangan hingga akhirnya menerima tawaran itu.

Setelah pasukan Majapahit selesai menikmati hidangan dan beristirahat sejenak, Datuk Tantejo Garhano segera mengajak pemimpin mereka ke istana untuk menemui sang Raja.

“Mari, Tuan! Raja kami sedang menunggu Tuan di istana!” bujuk Datuk Tantejo Garhano dengan santun.

“Baiklah, saya akan segera menemui Raja kalian,” jawab pemimpin pasukan itu.

Setiba di istana, Datuk Tantejo Garhano langsung mengantar pemimpin pasukan itu masuk ke ruang sidang. Di sana, sang Raja bersama punggawanya terlihat sedang duduk menunggu.

“Selamat datang, Tuan,” sambut sang Raja, “Mari, silakan duduk!”

“Terima kasih, Paduka,” ucap pemimpin itu.

“Ada apa gerangan Tuan kemari?” tanya sang Raja pura-pura tidak tahu.

“Kami diutus oleh Raja Majapahit untuk menaklukkan Pagaruyung. Kami pun harus kembali membawa kemenangan,” jawab pemimpin itu.

“Oh, begitu,” jawab sang Raja sambil tersenyum, “Kami memahami tugas Tuan. Tapi, bagaimana kalau peperangan ini kita ganti dengan adu kerbau. Tujuannya adalah untuk menghindari pertumpahan darah di antara pasukan kita.”

Pemimpin pasukan Majapahit itu terdiam. Setelah berpikir sejenak, akhirnya ia pun menyetujui usulan sang Raja.

“Baiklah, Paduka Raja. Kami menerima tawaran Paduka,” jawab pemimpin itu.

Akhirnya, kedua belah pihak bersepakat untuk beradu kerbau. Jika kerbau milik sang Raja kalah, maka Kerajaan Pagaruyung dinyatakan takluk. Tapi, jika kerbau milik Majapahit kalah, mereka akan dibiarkan kembali ke Pulau Jawa dengan damai.

Dalam kesepakatan tersebut tidak ditentukan jenis maupun ukuran kerbau yang akan dijadikan aduan. Oleh karena ingin memenangi pertandingan tersebut, pasukan Majapahit pun memilih seekor kerbau yang paling besar, kuat, dan tangguh. Sementara itu, sang Raja memilih seekor anak kerbau yang masih menyusu. Namun, pada mulut anak kerbau itu dipasang besi runcing yang berbentuk kerucut. Sehari sebelum pertandingan itu dihelat, anak kerbau itu sengaja dibuat lapar dengan cara dipisahkan dari induknya.

Keesokan harinya, kedua kerbau aduan segera dibawa ke gelanggang di sebuah padang yang luas. Para penonton dari kedua belah pihak pun sedang berkumpul di pinggir arena untuk menyaksikan pertandingan yang akan berlangsung sengit tersebut. Kedua belah pihak pun bersorak-sorak untuk memberi dukungan pada kerbau aduan masing-masing.

“Ayo, kerbau kecil. Kalahkan kerbau besar itu!” teriak penonton dari pihak Pagaruyung.

Dukungan dari pihak pasukan Majapahit pun tak mau kalah.

“Ayo, kerbau besar. Cincang saja anak kerbau ingusan itu!”

Suasana di tanah lapang itu pun semakin ramai. Kedua kerbau aduan telah dibawa masuk ke dalam arena. Suasana pun berubah menjadi hening. Penonton dari kedua belah pihak terlihat tegang. Begitu kedua kerbau tersebut dilepas, kerbau milik Majapahit terlihat beringas dan liar. Sementara itu, anak kerbau milik Pagaruyung segera memburu hendak menyusu pada kerbau besar itu karena mengira induknya.

Tak ayal, perut kerbau milik Majapahit pun terluka terkena tusukan besi runcing yang terpasang di mulut anak kerbau milik Pagaruyung. Setelah beberapa kali tusukan, kerbau milik pasukan Majapahit akhirnya roboh dan terkapar di tanah. Melihat kejadian itu, penonton dari pihak Pagaruyung pun bersorak-sorak gembira.

Manang kabau..., Manang kabau...,” demikian teriak mereka.

Akhirnya, pasukan Majapahit dinyatakan kalah dalam pertandingan tersebut. Mereka pun diizinkan kembali ke Majapahit dengan damai. Sementara itu, berita tentang kemenangan kerbau Pagarayung tersebar ke seluruh pelosok negeri. Kata manang kabau yang berarti menang kerbau pun menjadi pembicaraan di mana-mana. Lama-kelamaan, pengucapan kata manang berubah menjadi kata minang. Sejak itulah, tempat itu dinamakan Nagari Minangkabau, yaitu sebuah nagari (desa) yang bernama Minangkabau.

Sebagai upaya untuk mengenang peristiwa tersebut, penduduk negeri Pagaruyung merancang sebuah rumah rangkiang (loteng) yang atapnya menyerupai bentuk tanduk kerbau. Konon, rumah itu dibangun di perbatasan, tempat pasukan Majapahit dijamu oleh para wanita-wanita cantik Pagaruyung.

* * *

Demikian cerita Asal Mula Nama Nagari Minangkabau dari Sumatra Barat. Cerita di atas hanyalah sebuah legenda yang tidak mesti sesuai dengan fakta sejarah. Terlepas dari benar atau salah cerita di atas, yang penting adalah pesan moral yang terkandung di baliknya. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik adalah bahwa penyelesaian sebuah masalah tidak harus selalu diakhiri dengan kekerasan. Masih banyak jalan lain yang bisa ditempuh, salah satunya adalah jalan perundingan. (Samsuni/sas/286/10-11)

Diceritakan kembali oleh Samsuni 

Dibaca 232.573 kali


Rating :
Silahkan memberikan rating anda terhadap cerita ini.

Komentar untuk ""

Musnova Andre 2 September 2015

"Saya seorang pemuda minang kabau berdomisili di Jambi. sedikit penjelasan tentang pertanyaan pak Andi Muhamad Yusuf : Bukannya dipinang atau dilamar oleh perempuan tp hanya memberikan penghargaan karna dipandang SDM lelaki tsb baik dan MAPAN.dan juga ada konsekwensinya juga lho pak Andi MY, seandainya pisah ( cerai ) baik karna ULAH maupun karna ALLAH, maka semua harta menjadi milik PEREMPUAN apabila sudah punya keturunan. Bukan tradisi dari kerajaan, juga bukan adat tapi hanya kesepakatan kedua beleh pihak. klo lebih jelasnya lagi silahkan bapak datang atau shereng dgn pemuka masyarakat PARIAMAN. Thanks...."

dinda 25 Agustus 2015

"cerita yang mendidik sekali :)"

jaya 10 Agustus 2015

"Rancak bana ko... "

zalmon 10 Agustus 2015

"Kalau ndak cadiak bukan urang minang namonyo .....mantapa...."

aswandi 10 Agustus 2015

"Rasonyo ado nan kurang, tampek rapek untuak manantuan kabau ma nan ka diadu lokasinyo di balai dasun, lokasitu jadi lah SD kn, tampek ma adu kabau tu parak dasun, kn banamo sawah liek, sasudah di adu kabau tu dak langsung mati do, dek kasakik an nyo lari ka arah lantai batu, sapanjang jalan tu ado jangek kuliknyo nan jatuah, dijadian daerahtu banamo sijangek, ado pulo tampek paruik kabau tu nan jatuah, namo nagari tu pun banamo jadi si paruik, dek lamo kalamoan kn jadi simpuruik.."

muhammad ahda 9 Agustus 2015

"Indak relefan, banyak bukti sejarah terutama bukti peradaban lama di daerah mahek mungka kabupaten 50 kota. Untuk orang minang diperantauan bacalah tambo minang atau di tanah jawa di sebut Babat tanah leluhur."

si buyuang binguang 7 Agustus 2015

"Kalera .......nan rang minang tau tu... hahahaha"

anggra orlando#158 23 Juli 2015

"Saya bangga jadi orang minang. Sedikit kerja banyak uang."

Andi Muhammad Yusuf 11 Juli 2015

"Saya mau nanya. dimana yah kerajaan di sumatera yang pada jaman dahulu pihak perempuan yang melamar laki-laki.?"

delta 26 Juni 2015

"Nama Minangkabau dalam versi sy, yaitu minang artinya memintak atau memohon kepada tuhan, kabau adalah simbol, dari leluhur minangkabau yang juluki iskandar zulkarnain yang memiliki dua tanduk, jadi arti minangkabau itu persi sy adalah memohon kepada tuhan supaya di kembalikan ke jayaan iskandar zulkarnain dengan julukan yang memiliki dua tanduk"

Page

Berikan Komentar Anda

Bookmark and Share