Loading
 
Selasa, 21 Oktober 2014

Beranda   » Berita » Putu Wijaya Pandu Workshop Teater Cerita Rakyat di Ende
17 Juni 2012 03:51

Putu Wijaya Pandu Workshop Teater Cerita Rakyat di Ende


Putu Wijaya Pandu Workshop Teater Cerita Rakyat di Ende

Ende, NTT - Sastrawan dan sutradara Putu Wijaya (68) memandu acara Workshop Teater Cerita Rakyat Gambara Flores Bangkit, di Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (16/6/2012). "Ada kisah menarik yang saya dengar tentang Flores, seperti komodo, juga legenda Kelimutu (Danau Triwarna). Dari legenda ini akan dibuat pertunjukan (teater)," kata Putu Wijaya.

Sebelum memandu workshop, Putu juga menjadi pembicara dialog budaya bertema "Nasionalisme Dalam Aneka Budaya Daerah", di aula Gereja Katolik St. Josef Freinademetz, Ende. Ketua Panitia Workshop Teater Cerita Rakyat Gambara Flores Bangkit, Ferdinandus Watu mengatakan dalam sambutannya, tujuan workshop untuk meningkatkan kepedulian bersama memelihara warisan budaya dan menyebarluaskan budaya Flores secara umum, juga budaya masyarakat Ende Lio.

Sementara itu Project Director Gambara Photo Award 2012 Flores Bangkit, Trisakti Simorangkir mengemukakan, workshop lebih dititikberatkan untuk memberikan pemahaman seni teater, terutama pada generasi muda Ende. Pihak panitia menargetkan jumlah peserta workshop 50 orang dari kalangan pelajar di kota Ende. Hasil workshop akan ditampilkan dalam bentuk pementasan teater, Senin (18/6/2012) malam. Lokasi pementasan direncanakan di aula Gereja St Yoseph Onekore, Ende.

Acara workshop teater, dan dialog budaya itu merupakan rangkaian kegiatan lomba foto bertaraf internasional, Gambara Photo Award 2012 Flores Bangkit dengan tema "Cinta Bhinneka Tunggal Ika". Pergelaran sebelumnya adalah lomba foto Gambara Nias Bangkit 2010 dengan tema "Solidaritas untuk Nias, 6 Tahun Pasca Tsunami".

Tujuan Gambara Photo Award 2012 untuk mendorong solidaritas masyarakat dalam negeri dan internasional atas kondisi obyektif masyarakat dan pemerintah daerah di Flores dalam aspek pendidikan, kesehatan, ekonomi dan kemasyarakatan dewasa ini, sekaligus mengekspos potensi pariwisata dan sosial kemasysrakatan Pulau Flores yang multikultur.

Sumber: http://oase.kompas.com

Dibaca 685 kali



Bookmark and Share