Loading
 
Rabu, 22 November 2017

Beranda   » Berita » Bincang dengan Pendongeng Kampung Dongeng Etam, Anak Cerdas dan Skeptis, Utamakan Karakter Baik
16 Juni 2015 04:49

Bincang dengan Pendongeng Kampung Dongeng Etam, Anak Cerdas dan Skeptis, Utamakan Karakter Baik


Bincang dengan Pendongeng Kampung Dongeng Etam, Anak Cerdas dan Skeptis, Utamakan Karakter Baik

Samarinda, Pernah mendengar kisah si kancil anak nakal, yang suka mencuri mentimun? Di tangan Fitri Susilowati, hewan dengan nama ilmiah Tragulus kanchil itu, imej kancil berubah menjadi cerdik.

BERSAMA Wati dan Rawin, pendiri Kampung Dongeng Etam yang beralamat di Jalan Pramuka itu, membeber karyanya saat mengisi acara Samarinda Pagi garapan Samarinda Televisi (televisi lokal dalam jaringan Kaltim Post Gruop) kemarin.

“Anak zaman sekarang lebih cerdas dan skeptis. Itulah alasannya, mendongengi sekarang harus lebih hati-hati,” terang perempuan yang akrab disapa Bunda Fitri itu.

Lagi pula, nilai-nilai cerita dongeng akan terus diingat anak sampai dirinya meranjak dewasa. Oleh karenanya, Bunda Fitri menghindari karakter tidak baik. Selain itu, dirinya juga mengangkat kearifan lokal seperti karakter orangutan, pesut mahakam, dan burung enggang. Orangutan diberi nama Tatan, pesut mahakam diberi nama Uut, dan burung enggang diberi nama Enggi.

“Tatan itu sifatnya pintar, ceria, tapi jarang mandi. Enggi lebih bijaksana, sedangkan Uut baik hati namun pemalu. Dongengnya seputar persahabatan atau anjuran moral seperti tidak boleh membuang sampah di sungai yang membuat Uut jadi sedih,” terang Bunda Fitri.

Ya, mendongeng bukan hal baru lagi bagi Bunda Fitri yang mendirikan Kampung Dongeng Etam sejak 2012. Baginya, mendongeng adalah hal yang sangat mengasyikkan. Dirinya sangat suka berinteraksi dengan anak-anak. Begitu pula denga Wati.

 “Ketika mendongeng ada kepuasan tersendiri. Apalagi, kalau anak-anak antusias,” tutur Wati.

Melihat antusiasme anak-anak menjadi hal yang menyenangkan bagi mereka. Apalagi, saat ini tak sedikit orangtua yang meninggalkan kebiasaan mendongeng, dengan alasan sibuk dan anaknya hanya diberi gadget. Padahal, dongeng lebih mengena, karena nilai-nilai dongeng lebih menancap di benak anak-anak.

“Maka dari itu, kami mengajak orangtua, kakek-nenek, dan kakak-kakak agar mau mendongeng. Dengan cara ini, kita bisa menanamkan nilai-nilai moral ke anak,” ujar Rawin.

Mendongeng pun tak harus berasal dari kisah-kisah di buku cerita. Bisa melalui cerita buatan pendongeng itu sendiri. Selama memuat nilai moral baik dan mengasyikkan. (*/nyc/er)

 

Sumber: http://www.kaltimpost.co.id/

 

Dibaca 748 kali



Bookmark and Share