Loading
 
Sabtu, 18 November 2017

Beranda   » Berita » Demi Lestarikan Budaya Mendongeng, Poetri Soehendro Rela Menjelajah Indonesia
6 Juli 2015 03:38

Demi Lestarikan Budaya Mendongeng, Poetri Soehendro Rela Menjelajah Indonesia


Demi Lestarikan Budaya Mendongeng, Poetri Soehendro Rela Menjelajah Indonesia

Jakarta Abu Nawas ”hadir” di salah satu mal di Jakarta Timur pekan lalu. Datang dalam wujud boneka tangan, tokoh asal Timur Tengah itu mampu menerbangkan imajinasi puluhan bocah yang hadir di sana. ”Assalamualaikum, Adik-adik,” sapa Abu Nawas.

Mengenakan penutup kepala berwarna oranye, Abu Nawas bercerita bahwa dirinya sedang berada di istana. Dia ditugasi raja mencarikan binatang piaraan yang akan menemani putri raja. Ikan adalah piaraan pertama yang dia tawarkan kepada sang putri. ”Namun, baru sebentar tinggal di istana, sang ikan tidak kerasan,” kata Abu Nawas.

Abu Nawas pun mencari binatang lain. Bertemulah dia dengan seekor kucing yang lucu. Namun, bukannya senang, sang putri malah dibikin menangis olehnya. ”Si kucing mencakar tuan putri,” ucap Abu Nawas dengan suara bergetar.

Dalam pencariannya, Abu Nawas yang sangat cerdik menemukan ide. Dia mencari binatang yang bisa hidup di air maupun darat. Tujuannya, si binatang bisa menemani putri saat bermain di air maupun darat.

Lalu, bertemulah Abu Nawas dengan seekor kura-kura. ”Lucu sekali, Abu Nawas. Tapi, kenapa mukanya cemberut?” tanya sang putri. ”Aku ingin punya rumah,” jawab sang kura-kura.

Adalah Poetri Soehendro yang menceritakan dialog dan dongeng di atas. Suaranya mirip dalang, bisa memerankan banyak tokoh. Abu Nawas, putri, kucing, kura-kura, dan banyak lagi lainnya. Tangan putri pula yang lincah memainkan boneka tangan Abu Nawas dkk.

Melalui dongengnya, Poetri menyampaikan banyak ajaran kepada anak-anak di hadapannya dengan cara yang menyenangkan. Ketika kura-kura ingin rumah, dia mengajak mereka membantu. Ketika rumah (baca: tempurung) buat kura-kura terbentuk, dia mengajarkan satu logika sederhana. ”Karena memikul berat rumahnya, jalan kura-kura jadi lambat,” kisah Poetri.

Yang dilakukan Poetri adalah sesuatu yang banyak dilakukan mayoritas orang Indonesia pada 1990-an. Sebelum tidur, ketika itu dongeng adalah sesuatu yang selalu diberikan orang tua kepada anak-anaknya. Di sekolah dasar dongeng juga menjadi materi pelajaran yang menyapa siswa setidaknya sekali dalam sepekan.

Namun, kini, sejalan dengan perkembangan teknologi, aktivitas mendongeng sudah menjadi sesuatu yang langka. Karena berbagai alasan, anak mendapatkan ”dongeng” dari gadget, televisi, atau bioskop.

Dongeng melalui gadget sepintas lebih menarik. Ada gambarnya dan suara masing-masing karakter pun lebih jelas perbedaannya karena diperankan banyak orang. Bandingkan dengan dongeng kancil mencuri mentimun yang dibawakan ayah atau bunda kepada anaknya. Mereka belum tentu bisa memerankan suara kancil dan buaya dengan sangat berbeda. Juga tidak ada gambarnya.

”Namun, itulah keunggulan dongeng. Sebab, dengan demikian, si anak akan berimajinasi lebih baik daripada jika cerita itu ditayangkan di gadget,” jelas Poetri. ”Hal itu akan membantu tumbuh kembang otak si anak,” tuturnya.

Mendongeng sesuatu yang tidak lagi populer di Indonesia disebut Poetri sebagai suatu kondisi yang menyedihkan. Sebab, mendengarkan dongeng tidak akan pernah sama dengan aktivitas anak menonton satu cerita melalui gadget atau televisi. ”Dalam aktivitas mendongeng, akan ada komunikasi dua arah. Itu tidak akan ditemui dalam produk teknologi secanggih apa pun,” tegasnya.

Bahwa saat ini mayoritas orang tua tidak punya banyak waktu untuk mendongeng kepada anaknya, hal itu sebenarnya bisa diantisipasi. Misalnya, akhir pekan tidak harus dihabiskan ke mal. Mengalokasikan waktu untuk mendongeng bersama sekeluarga akan memberikan banyak manfaat.

”Weekend bukan ajang untuk spend money. Kalau sejak kecil dibiasakan seperti itu, ketika besar si anak akan terus berperilaku demikian,” pesan Poetri yang menjadi pendongeng sejak 20 tahun lalu.

Di negara maju, termasuk AS, mendongeng juga dianggap sebagai suatu aktivitas yang sangat penting untuk tumbuh kembang anak. Beberapa jurnal di Negeri Paman Sam itu menyimpulkan bahwa Barack Obama bisa menjadi presiden negara terbesar di dunia tersebut karena punya kemampuan storytelling yang hebat.

”Ronald Reagan, Margaret Thatcher, Bill Clinton, maupun Barack Obama, kenapa mereka menjadi pemimpin besar? Karena mereka punya kemampuan yang hebat dalam mendongeng. Sebagai alat untuk memimpin rakyatnya,” jelas Steve Denning, kolumnis Forbes.

Pidato Obama pada 25 Januari 2011 bertajuk ”We Do Big Things” adalah salah satu bukti kehebatannya mendongeng. Dalam pidato di depan Kongres AS itu, pria yang pernah tinggal di Jakarta tersebut menceritakan kehebatan seseorang bernama Brandon Fisher. Dia adalah seorang pengusaha yang bergerak di bidang teknologi pengeboran. Meski perusahaannya kecil, dia menjadi pahlawan saat menyelamatkan 33 pekerja tambang yang runtuh di Cile.

Bagaimana Obama menceritakan kesuksesan Fisher oleh banyak kalangan disebut sebagai satu proses mendongeng yang luar biasa. Fisher mampu digambarkan Obama sebagai seorang pahlawan besar. Pahlawan yang bisa menjaga harapan saat semua orang terhebat tidak punya jawaban dan harapan.

Muhammad Zuhdi, kreator serial anak-anak Jalan Sesama, menyatakan bahwa orang yang pintar mendongeng pasti orang yang punya kemampuan spesial. Yang tidak bisa dilakukan orang yang tidak pintar storytelling. ”Sebab, kemampuan mendongeng menggabungkan kemampuan imajinasi, kreativitas, dan misi,” ungkapnya.

Saat ini, ketika semakin banyak orang menjalani pekerjaan sebagai rutinitas, tiga hal yang dibutuhkan untuk menjadi seorang pendongeng itu luntur. Akibatnya, mereka akan kesulitan untuk membuat dongeng maupun mendongeng kepada anak-anak mereka.

Menurut Poetri, kemampuan mendongeng tidak bisa didapatkan secara tiba-tiba. Butuh proses panjang. Sebab, seorang pendongeng harus punya imajinasi hebat. Supaya bisa merangkai serpihan cerita yang akan didongengkan dengan menarik. Pada anak kecil, dongeng juga bisa mempercepat perbendaharaan kata. ”Minimal terdapat sepuluh kosakata baru dalam satu kali dongeng,” ucapnya.

Karena demikian pentingnya mendongeng, Poetri bertekad terus menginspirasi orang Indonesia untuk kembali melakukan kebiasaan yang baik itu. Telah banyak kota yang dia kunjungi untuk mendongeng. Mulai Aceh sampai Maluku. Baik di daerah pantai maupun pegunungan.

Salah satu kisah paling berkesan buat Poetri adalah mendongeng di atas kapal di Sungai Mahakam pada 2003. Dia mendongeng kepada anak-anak yang beberapa di antaranya adalah penambang emas liar. ”Mereka sangat minim hiburan. Kalaupun ada, mereka menonton tayangan televisi dari stasiun di Malaysia,” kenangnya. ”Itu secara tidak langsung membuat kemampuan bahasa Inggris mereka lebih baik daripada anak-anak di daerah lain,” bebernya.

Saat mendongeng di daerah Gunung Merapi, Jawa Tengah, Poetri mendapatkan pengalaman lain. Ketika itu gunung dengan tinggi 2.930 meter tersebut baru meletus. Itu adalah kali pertama dia mendongeng kepada korban bencana alam.

”Saya pantang untuk datang mendongeng saat bencana baru saja terjadi,” tegasnya. ”Jangan ada motivasi untuk nampang. Kondisi sudah aman, perut si anak sudah kenyang, orang tua sudah ditemukan, psikis anak sudah tertangani, baru mendongeng,” imbuhnya.

Saat mendongeng untuk anak di kota besar seperti Jakarta, Poetri merasakan sesuatu yang unik. Pada anak-anak di Jakarta Barat, misalnya, Poetri harus menyelipkan sesuatu terkait sains untuk membuat mereka tertarik dengan dongeng yang dibawakannya.

Selain mendongeng kepada kelompok-kelompok anak, Poetri memberikan pelatihan dongeng, yakni ke Persatuan Guru Taman Kanak-Kanak (PGTK), maupun perkumpulan orang tua. Selama 15 tahun menjadi pendongeng, Poetri merasakan kebahagiaan yang tidak pernah dikecapnya ketika menjalani profesi lain. Perempuan kelahiran 7 Juli 1964 itu sebelumnya pernah bekerja di dunia periklanan.Gaji yang dia dapatkan dari profesi tersebut jauh lebih besar. Namun, bagaimana pendongeng memanusiakan manusia jauh lebih baik membuat materi tidak menjadi pertimbangan utamanya lagi. ”Pendongeng bagi saya bukan hanya pekerjaan, namun lebih sebagai sebuah kesenangan,” tandasnya.

Sebelum menjadi pendongeng profesional, perempuan lulusan Universitas Indonesia itu pernah menjadi penyiar radio di Jakarta pada 2000. Kemampuannya mendongeng pada awalnya terlihat saat dia di sana. Pada pagi hari dia memiliki sesi dongeng untuk anak-anak. Ada kalanya beberapa anak enggan turun dari mobil ketika sudah sampai di sekolah untuk menyelesaikan mendengar dongeng Poetri melalui radio. Setelah itu dia mulai mendongeng off air. Itulah momen Poetri mulai menjadi pendongeng profesional.

”Pepatah Afrika bilang, it takes one village to raise a child. Saya rasa sudah saatnya semua orang pintar mendongeng untuk generasi yang lebih baik,” ajaknya.

Sumber: http://pojoksatu.id/

 

Dibaca 898 kali



Bookmark and Share