Loading
 
Kamis, 19 Oktober 2017

Beranda   » Berita » Mendongeng Tidak Harus dengan Cerita Sulit
2 November 2015 07:12

Mendongeng Tidak Harus dengan Cerita Sulit


Mendongeng Tidak Harus dengan Cerita Sulit

Jakarta - Pak Raden baru saja berpulang. Pria dengan kumis lebat ini dikenal juga sebagai pendongeng yang sangat baik. Sepanjang hayatnya ia habiskan untuk bercerita pada anak-anak Indonesia, menghibur sekaligus menyenangkan hati anak.

Berdongeng sehari-hari adalah tugas orang tua kepada anaknya. Apa yang bisa diceritakan? Banyak sekali.

Memilih cerita dongeng untuk anak tidak perlu yang sulit. Tidak harus cerita rakyat, cerita peri ataupun putri. Tapi Anda sebagai orang tua bisa mendongeng tentang kisah yang Anda alami saat di jalan, kantor atau dimanapun. Hal tersebut diungkapkan oleh Ariyo Zidni dari Komunitas Ayo Dongeng.

“Paling tidak dia melihat orang tuanya seperti apa, apa yang dialami orang tua dan di sana ada apa saja. Dia akan banyak belajar. Dengan begitu dongeng mempersiapkan anak belajar  tentang kehidupan sebelum dia mengalami langsung."

Anak akan mengikuti apa yang ia dengar dan juga lihat. Ia akan menyerapnya dan mengulang apa yang dilakukan orang tuanya pada dirinya.

Ketika orang tua mendongeng, biasanya diakhiri dnegan kisah yang baik.

Di sinilah anak akan menduplikasikan hal itu sebagai bagian dari dirinya. Orang tua bisa cerita dengan komunikasi yang lancar dan terbuka dan itu akan berbalik lagi ke orang tuanya dari anaknya. “Anak itu akan mengambil nilai-nilainya dan anak itu akan melihat teladan apa yang dilakukan ortunya,” tambahnya.

Dengan mendengarkan dongeng, anak juga berlatih berpikir analisis. Apakah cerita tersebut sesuai, apakah anak mempunyai tanggapan, atau dia protes ketika ceritanya salah. Dari sini rasa ingin tahu anak berkembang.

Ariyo menambahkan dongeng juga bisa melatih anak percaya diri dan bicara. Karena itu ia menyarankan berdongeng menggunakan bahasa ibu, bicara dengan anak tidak perlu menunggu hingga ia mengerti. Hal yang sama berlaku dengan mendongeng.

Sedini mungkin orang tua banyak bercerita ke anak, anak pun akan banyak menerima perbendaharaan kata. Harapannya anak bisa menyerap optimal sejak kecil karena dari dini dia belajar melihat dan mendengar.

“Sementara anak yang jarang dengar dongeng, dia akan ada masalah dengan berhubungan dengan orang lain, hubungan emosional dengan orang lain kurang, mereka datar-datar saja,” ungkapnya.

Bisa jadi anak itu perkembangan emosi dan karakternya tidak berkembang. Atau tumbuh jadi pendiam bahkan sebaliknya tak pandai menyalurkan emosinya dan menjadi pemarah, disebabkan kemampuan interaksinya yang tidak dikembangkan sejak kecil.

Sumber:  http://gayahidup.republika.co.id

 

Dibaca 1.103 kali



Bookmark and Share