Loading
 
Selasa, 21 Februari 2017

Beranda   » Berita » Tiga Pendongeng Anak Tampil dalam BBS
27 Januari 2016 05:17

Tiga Pendongeng Anak Tampil dalam BBS


Tiga Pendongeng Anak Tampil dalam BBS
Arif Rahmanto, pengurus Rumah Dongeng Indonesia (Foto: Trasmara)

Yogyakarta, Melayuonline.com – Mendongeng di tengah anak-anak sekarang ini jarang terjadi. Kalaupun ada sifatnya hanya pengisi waktu. Padahal mendongeng kepada anak-anak adalah menuturkan kebaikan dari berbagai cerita yang diambil dari belahan daerah Nusantara. Kelangkaan pendongeng inilah yang akan digarap oleh Stdio Pertunjukan Sastra (SPS) dalam Bincang-bincang Sastra (BBS) Sabtu (30/1) malam di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta (TBY).

Topik yang akan disajikan Alkisah: Dongeng Para Pendongeng’ oleh tiga pendongeng kawakan Yogyakarta, Kak Arif Rahmanto pengurus Rumah Dongeng Indonesia yang didirikan oleh Kak Wees Ibnu Say (alm), Kak Ari Prabowo ketua Persaudaraan Pendongeng Muslim Indonesia (PPMI), dan Kang Acep Yoni yang merupakan seorang pendongeng sekaligus penulis. Mereka akan mendongeng disambung dengan perbincangan mengulas seputar dongeng dan para pendongeng secara mendalam dan menyeluruh.

Bukan tanpa alasan SPS bulan ini menghadirkan dongeng di tengah masyarakat Yogyakarta. Latief S. Nugraha, koordinator acara ini menjelaskan bahwa dongeng sesungguhnya merupakan karya sastra yang membentuk kebudayaan bangsa Indonesia. Masing-masing daerah di Nusantara memiliki dongeng sendiri-sendiri.

Bukankah itu berarti dongeng telah berhasil membentuk karakter bangsa? Buktinya, meski banyak dilupakan, sampai saat ini ia masih tetap ada, mengakar begitu dalam,” kata Latief, Selasa (26/1) di TBY.

Masih ingat dongeng yang pertama kali diceritakan ibu menjelang tidur atau dongeng yang diceritakan ibu guru TK di sekolahan? Setiap anak pasti pernah mendengar dongeng, meskipun tanpa menyadari hal tersebut merupakan karya sastra atau bukan. Padahal, dongeng sebagai karya sastra jauh lebih berperan fungsinya dibanding karya sastra yang lain. Hal ini sama seperti puisi tradisional yang hadir di tengah-tengah masyarakat dengan ditembangkan, dari mulut ke mulut dan menyebar ke seluruh penjuru Nusantara.

Di samping itu, acara ini sekaligus penghormatan atas jasa para pendongeng Indonesia dalam perjuangannya menjaga warisan budaya dan menanamkan pendidikan karakter kepada anak-anak penerus masa depan bangsa. Banyak nama-nama pendongeng yang telah berjasa, seperti Kak Bimo, Kak Seto Mulyadi, Kak Kusumo, dan banyak lagi yang lainnya.

“Saya yakin banyak yang merindukan dongeng meski saat ini dongeng berada di daerah terpencil dan serasa ‘ketinggalan zaman, tambah Latief.

Apalagi  beberapa bulan lalu Drs. Suyadi atau lebih dikenal dengan sebutan Pak Raden, pencipta boneka Unyil, selaku salah seorang tokoh pendongeng yang kerap mendongeng sambil menggambar, wafat. Disusul wafatnya Kak Wees Ibnu Say yang sempat sakit dalam waktu tidak singkat. Kak Wees sendiri beberapa kali semasa masih tinggal di Yogya kerap mengisi acara di SPS.

Dari cuaca mendung dunia dongeng tersebut, lahirlah peristiwa monumental, yakni dideklarasikannya tanggal 28 November sebagai Hari Dongeng Nasional yang diinisiasi oleh para pendongeng di seluruh Indonesia. Di Yogyakarta kegiatan ini dimotori oleh pendongeng muda Rona Mentari dan dipusatkan di Tugu Yogya. Tanggal tersebut merupakan tanggal kelahiran Pak Raden.

Dari sekian hal itulah SPS mencoba menghadirkan dongeng tidak hanya bagi anak-anak, namun bagi masyarakat luas, termasuk sastrawan dan penikmat sastra. *(Teguh R Asmara)

Dibaca 1.190 kali



Bookmark and Share